Nggak Heran. Namanya juga Orang

oleh : Em Amir Nihat

Suatu hari di kantor. Jalayin, Tingkas dan Mahib terlihat sedang mengobrol. Suasana tempat istirahatnya memang asri ada gazebo-nya. Ada pohon yang rimbun berdiri tegak membuat angin bersemilir. Terasa sejuk ditengah ibukota yang panas siang ini.

“Gue heran sama Pak Jundap. Dia sok-sokan menyuruh saya ngerjain tugas. Padahal tanpa disuruhnya pun gue tahu itu tugas gue. Dia kan bukan pemimpin disini. Tapi lagaknya kayak pemimpin. Apa dia gak sadar yang dia lakukan itu gak bener meskipun yang disuruhnya itu hal yang bener. Kecuali jika dia pemimpin disini pasti gue nurut.” Kesal Jalayin

“Hahaha. Kamu baru tau. Semua juga udah tahu. Wataknya memang begitu. Tapi kenapa jadi ngomongin orang sih. Malah jadi gosip ini. Kacau lu. Coba aja hal itu pakai pendekatan ilmu. Yang kamu lakukan itu sunnah. Membantu. Yang dia lakukan itu bukan wajib. Mungkin sunah andai ucapannya memang “saran” bukan “menyuruh” sebab kalau menyuruh secara ilmu itu dzolim karena bukan wewenangnya. Jadi, anggap aja itu sunah. Niatkan saja membantu. Lagian itu hal sepele. Gak perlu dibesar-besarkan. Jangan baperan lu Yin.” Jawab Mahib

Tingkas meneruskan,

“Kita doakan saja semoga beliau sadar kembali. Agar jangan gampang menyuruh-menyuruh toh itu bukan wewenangnya. Gue juga doain lu Yin. Moga aja lu gak baperan lagi. Masa kayak gitu aja baper. Gue jadi inget nasihat Kakek gue. ‘Saat kecil dulu, pagi bermusuhan siangnya akur lagi main lagi. Giliran sudah dewasa pagi bermusuhan, akurnya bisa berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Tampaknya anak kecil lebih dewasa daripada orang dewasa.’ Sory gue nyindir lu Yin.”

” Kita harus tahu dan faham Yin. Kritik itu layaknya obat meskipun pahit tetapi menyembuhkan sedangkan pujian bisajadi seperti gula kalau kita terlena bisajadi malah mencelakakan. Jadi dikritik itu bagus asalkan membangun. Masalahnya lu berani mgomong nggak ke beliau. Jangan malah cerita ke orang, itu gak nyelesaiin masalah.”

“Di hidup manusia ada empat hal yang jadi kunci solusi. 1. Jika  memperoleh nikmat, maka Allah mengharuskan kita untuk bersyukur.
2. Jika  ditimpa bencana atau ujian, Allah memerintahkan ( mensyariatkan ) kita untuk bersabar
3. Jika Allah memberi taufik untuk taat ( bisa beribadah ) itu Allah memerintahkan ( mensyariatkan ) untuk meyakini bahwa Allah lah yang memberikan taufik
4. Dan jika  bermaksiat, maka Allah mensyariatkan untuk bertobat  kepada-Nya. Empat poin itu penting karena jawaban dari permasalahan manusia. Tinggal kita masukan aja masalah lu itu bagian yang mana. Gue kira lu harus bersabar Yin.”

“Bener juga ya. Keren lu. Anjing lu. Bijaksana sekali hari ini. Tapi bener juga katamu Kas. Gue juga salah cerita masalah ini harusnya gue simpen aja tapi beliau juga salah sok-sokan nyuruh padahal gak ada hak dan wewenang buat nyuruh. Moga aja semua jadi lebih baik lagi.”

Semua sama-sama teriak. “Aamiiiiiin”

Begitulah kalau sudah akrab dan berteman ucapan hujatan malah mengakrabkan. Meskipun secara etika itu kurang baik tapi anehnya malah mengeratkan. Tapi jangan sekali-kali ucapan pisuhan itu diterapkan ke orang yang baru kenal atau belum akrab banget sebab alamat bisa terjadi perang dunia ketiga.

Purwakarta, 21 Juli 2022

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s