Tahlilan, Sedekah Kematian dan Toleransi

oleh : Em Amir Nihat

Tahlilan secara sejarah bisajadi  berasal dari ijtihad ulama yang mengumpulkan dzikir – dzikir dari Hadits Nabi kemudian disatukan dalam satu majelis dzikir bersama. Lambat laun majelis dzikir ini menjadi kebiasaan. Menjadi membudaya. Maka tercetuslah nama “Tahlilan”. “Kata” ketika menggunakan tambahan “an” itu diartikan sedang melakukan atau menggunakan. Contohnya sarungan itu berarti memakai sarung. Maka tahlilan berarti melakukan atau melafadkan kalimat – kalimat tahlil. Dan jika kita mau teliti satu per satu bacaannya itu tidak ada satupun  yang berbenturan dengan syariat bahkan semua bacaan tahlilan itu ada dalil haditsnya. Ini  dikarenakan memang awalnya adalah majelis dzikir. Jadi, secara nama itu “tahlilan” tetapi secara hakikat isinya adalah majelis dzikir.

Bisajadi yang menjadi akar perbedaan pendapat tentang hukum tahlilan karena secara “kata” itu tidak ada di zaman Nabi. Demikian juga “kata” yasinan dan muludan saya jamin kita tidak akan menemukan karena itu soal penamaan kata saja. Sama seperti kata  One Day One Juzz, Kajian, pengajian, tahsin dll kita tidak akan menemukan kata itu di Hadits Nabi. Artinya jangan melihat hal dari penamaan kata saja tetapi dilihat isinya apakah lulus secara syariat atau tidak. Sama seperti melihat buku. Lebih penting cover atau isi? Cover memang penting karena bisa menjelaskan tujuan isi buku tetapi tidak melihat isi hanya fokus cover lalu menyimpulkan adalah bentuk gegabah atau ceroboh.

Karena tahlilan lambat laun menjadi membudaya bahkan kini sampai menjadi adat. Maka perlu kita hadirkan sejarah ijtihad ini agar yang kontra tidak melihat ini sebagai pembid’ahan karena isi tahlilan 100% lulus syariat dan yang pro juga tidak menganggap hal ini menjadi mutlak wajib sehingga ketika ada orang miskin yang memang benar-benar tidak mampu untuk bersedekah sehabis kematian jangan sampai malah menjadi merepotkan dan menyusahkan. Bahkan  karena takut dibilang berbeda sampai ada yang rela hutang padahal untuk kebutuhan sehari- hari susah. Ini tentu menjadi masalah.  Artinya jika kita mampu membiyayai sedekah sehabis kematian untuk tahlilan itu bagus tetapi jika tidak mampu ya jangan memaksakan keadaan.

Dan masyarakat pun jangan menyalahkan, menghina bahkan melabeli yang aneh- aneh saat ada orang miskin yang tidak mampu melakukan. Apalagi memang ada yang tidak setuju dengan tahlilan sehingga tidak mungkin melakukan. Inilah khilafiyah. Harus  menghormati pendapat masing – masing. Toh kedua pendapat itu bukan dalam koridor perkara yang menyebabkan kesyirikan sehingga tidak boleh saling menyalahkan.  Jangan sampai kita menjadi seperti meriam yang menembakan perbedaan itu menjadi perpecahan. Bersikap santun dan menghormati pendapat orang lain adalah akhlak Muslim. Ini yang mestinya kita gaungkan yaitu persatuan umat Islam.

Dari hal diatas saya menyimpulkan bahwa Islam memang telah menjadi banyak padatan- padatan entah itu ormas, madzab, aliran, pandangan, budaya dsb  meskipun kita sama – sama berpedoman pada AlQur’an dan Hadits pun masih punya potensi berbeda dalam penafsiran sehingga pengalaman Keislaman setiap orang  pasti berbeda-beda. Maka disini akan memunculkan kecenderungan yang berbeda pula. Dari perbedaan penafsiran maka bisa ditarik kesimpulan bahwa Islamku ( pengalaman BerIslam ku ) dan Islammu ( Pengalaman BerIslam mu ) itu bisajadi berbeda tetapi kita harus melihat Islam kita ( Islam yang toleran, moderat dan mementingkan persatuan ). Jangan sampai kita Memaksakan IslamKu menjadi Islam Kita. Semoga saja kita terus dilimpahkan nikmat- nikmat persatuan dalam Islam. Aamiiin.

Purwakarta, 26 Juli 2022

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s