Sanggupkah Kita Menghilangkan Budaya Politik Uang ?

oleh : Em Amir Nihat

Boleh saja partai ribuan jumlahnya
Tapi yang menang yang punya uang
Seorang cepek ceng sudah bisa jadi presiden
Begitulah cerita yang berkembang

Gontok-gontokan sudah nggak musim
Adu doku ini yang ditunggu-tunggu
Pemilu tempat berpestanya uang palsu
Habis kalau nggak gitu nggak lucu

Program-program berseliweran
Seperti dongeng zaman kecil dulu
Walau ternyata hanya kibul doang
Tapi kampanye bikin hati senang

Bul kibul tak kibul-kibul
Kibul diadu demi perkibulan
Ini sudah dari zaman baheula
Dari zaman raja-raja sampai sekarang

Itu adalah sepenggal lirik dari lagunya Iwan Fals yang berjudul “Politik Uang”. Terkadang kita menyalahkan Pemerintah dan pemangku kekuasaan tetapi tanpa sadar kita lupa bahwa mereka duduk di pemerintahan juga karena andil dari kita yang memilih. Sayangnya pemilihan dasarnya bukan skill, pengalaman dan visi misi sebab kenyataannya dalam pemilihan apapun itu entah pemilihan lurah, camat bahkan presiden semua dibumbui politik uang ( suap ).

Padahal efek dari politik uang ( suap ) justru berbahaya karena akan mematikan kualitas pemilihan dan yang menang adalah yang bermodal. Misalnya Si A punya kualitas, pengalaman dan skill akan kalah dengan Si B yang tidak punya kualitas namun bermodal ujungnya roda pemerintahan akan kacau balau karena dipegang orang yang tidak mumpuni. Karena hulunya adalah tentang modal maka ke depannya pun juga bagaimana tentang balik modal dan untung. Akhirnya titik tumpu kekuasaan hanya tentang modal sedangkan visi misi malah diacuhkan. Ini sangat berbahaya, bukan ?

Bisajadi budaya ini juga dipengaruhi mindset masyarakat yang seolah mencalonkan diri harus bagi – bagi uang ( suap ) sehingga pertarungan calon bukan lagi tentang visi misi, skill dan pengalaman namun tentang seberapa banyak uang dibagikan. Apalagi ada narasi di masyarakat bahwa ‘pemimpin nanti juga lupa mumpung masih ingat kita terima saja uangnya’ sehingga suap pun dianggap biasa dan akhirnya membudaya. Padahal jika berfikir ke depan justru malah bisa semakin lupa pada rakyat bahkan bisajadi semena-mena karena bagaimanapun mereka ingin balik modal. Peraturan – peraturan akan tidak berpihak pada rakyat. Semua ini awalnya karena suap yang sudah membudaya.

Ingatlah sabda Nabi SAW: “Yang menyuap dan yang disuap masuk neraka” (HR Ath-Thabrani).

Suap juga akan menghilangkan kepercayaan, kejujuran, dan sikap amanah. Suap akan menyebarkan prasangka buruk, memutus silaturahim, serta menghilangkan hak-hak orang lain. Sistem akan kacau balau. Barangkali pantas ancamannya Neraka karena kerusakannya begitu besar dan bisajadi akan menjadi mata rantai yang merusak profesionalisme. Ketika suap menyentuh ranah hukum, kebenaran dan keadilan pun terkalahkan. Penyuap dan penerima suap cenderung membenarkan kezaliman dan memutarbalikkan fakta. Pengadilan menjadi panggung tak bermakna sebab hanya berisi kebohongan dan kemunafikan.

Mungkin kita tidak akan bisa mengubah budaya suap yang sudah begitu menjalar tetapi kita bisa memulai dari diri kita untuk menolak suap. Layaknya “semut” yang mencoba memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim As,  semut tahu bahwa ia tidak akan bisa memadamkan api tetapi setidaknya ia sudah dalam posisi berusaha dan tidak setuju dengan hal itu. Semoga saja aku, kamu dan kita bisa memulai untuk berkata “tidak” pada suap. Aamiin.

Purwakarta, 14 Maret 2022

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s