Murid-Murid Hos Cokroaminoto Berperang, Siapa yang Dipilih Indonesia?

oleh : Em Amir Nihat

“Ada sebab ada akibat dan dari sebab maka akibat akan terus menerus dirasakan selama orang itu mengingat dan tidak mau berfikir ke depan”

Saya sengaja menuliskan kalimat itu dulu sebelum saya menjelaskan tafsir saya tentang apa yang terjadi sehingga perang saudara yang terjadi di Indonesia itu harus selalu kita kecam dan laknat yang ironisnya justru semakin hari semakin menjadi dendam yang diam-diam bisa saja menjadi bom yang bisa membuat perang terjadi kembali. Dan semoga itu tidak akan pernah terjadi lagi.

Saya akan memulai dari Tokoh Besar Islam yakni HOS.Cokroaminoto. Beliau adalah pahlawan Indonesia yang bergerak lewat jalur pendidikan dengan mendirikan organisasi sarekat Islam. Beliau juga adalah pelopor pergerakan Indonesia dalam melawan Belanda. Kata-kata termasyhur yang kelak akan menjadi batu loncatan para muridnya adalah Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. Hos Cokroaminoto mempunyai murid yakni Soekarno ( Yang kelak dengan ideologi nasionalismenya), Semaoen dan Muso ( Yang kelak dengan ideologi sosialis/komunisnya ) dan Kartosuwiryo ( Yang kelak dengan ideologi Negara Islamnya ). Murid-muridnya ini menggunakan segala macam kekuatan pendidikannya untuk melawan Belanda artinya baik Soekarno, Semaoen, Muso dan Kartosuwiryo sama-sama berkeinginan untuk melawan Belanda dengan caranya masing-masing. Dari sini bisa dilihat bagaimana mereka menggunakan ideologi itu sebagai metode melawan Belanda.

Perselisihan terjadi justru setelah kemerdekaan Indonesia artinya setelah menang melawan Belanda, mereka sama-sama masih ngotot dengan cara pandangnya masing-masing. Mereka telah lupa bahwa harusnya ideologi itu hanya digunakan sebagai metode perlawan melawan Belanda bukan malah melawan sesama saudara sendiri. Lagi-lagi ini soal kekuasaan dan jabatan, dari tiga tokoh yang berseberangan ideologinya hanya satu yang bisa diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia yakni ideologinya Soekarno yang nasionalis. Tetapi sayangnya Semaoen dan Muso masih saja ngotot dengan pendiriannya untuk membuat negara komunisme padahal pendekar komunisme sendiri yakni Tan Malaka justru menghendaki bahwa komunisme itu sebagai metode saja artinya jangan sampai gara-gara berbeda pandangan malah terjadi perang saudara. Wujud ketidaksetujuannya dengan ideologi nasionalis, terjadilah pembrontakan PKI di Madiun 1948. Kita bisa melihat bahwa dua murid yang saling berseberangan pandangan harus bentrok. Soekarno yang menjadi Presiden serta mempunyai kekuatan di tentara saat itu harus berperang dengan teman seperjuangan dulu sebelum kemerdekaan. Muso pun tewas oleh pasukan tentara pada 31 oktober 1948. Padahal Ir.Soekarno pun membuat Nasakom sebagai cara untuk menyatukan pihak kiri tapi akhirnya gagal.

Murid yang lainnya yakni Kartosuwiryo juga punya pandangan lain tentang Indonesia. Dia ingin Indonesia berasaskan Islam, wujud pembrontakannya terjadi dengan mendirikan NII ( Negara Islam Indonesia ) tetapi karena Soekarno sudah menjadi Presiden dan ideologi nasionalis telah diterima seluruh Indonesia maka ideologi yang diusung Kartosuwiryo pun ditolak dan mengharuskan ia berperang. Lagi-lagi perang saudara sesama rakyat Indonesia terjadi sebab cara pandang perbedaan ideologi negara. Kartosuwiryo tewas.

Dari peristiwa itu kita tidak boleh serta merta menyalahkan peran dari Semaoen, Muso dan juga Kartosuwiryo karena bagaimanapun penghianatannya dengan Bangsa Indonesia, mereka dulu pernah bersama-sama ingin bercita-cita Indonesia merdeka dari Belanda. Sayangnya sifat mengalah tidak dimiliki mereka, padahal sudah bisa dipahami ideologi Soekarno yang nasionalismelah yang dapat diterima seluruh Indonesia. Jika saja mereka mengalah dan urun rembug bersama, tentu mereka akan dikenang sebagai Pahlawan Bangsa. Bukan dikenang sebagai Pembrontak.

Kita sekarang melangkah ke tragedi perang saudara yang terjadi. Bagaimanapun keadaannya, ini merupakan sejarah kelam bangsa kita bahwa kita pernah berperang sesama saudara sendiri dalam kaitannya rebutan menang ideologi. Lagi-lagi masalah kesepakatan bersama seluruh Bangsa Indonesia. Jika seluruh Bangsa Indonesia menghendaki ideologi pancasila yang nasionalis maka saat itu juga ideologi kiri yang sosialis komunis dan ideologi negara islam sama-sama tidak laku alias tidak bisa diterima seluruh rakyat Indonesia.

Korban besar pertama dari pihak muslim dimana terjadi pembantaian oleh orang PKI yang menganggap bahwa Islam sebagai penghambat jalannya ideologi mereka. Tragedi kelam ini bahkan sangat-sangat tidak bisa diterima nalar, Ulama-ulama dan Kyai dibunuh padahal mereka sama sekali tidak ada hubungan masalah dengan pihak PKI. Lagi-lagi ini masalah kekuasaan dan jabatan. Masyarakat Islam menjadi korban. Dari kejadian inilah yang membuat orang Islam sampai kini terus saja membenci PKI sebab kejadian pembantaian tadi.

Di lain cerita, orang-orang kiri / komunis juga dibantai secara tragis lewat peristiwa 65. banyak korban di pihak kiri yang kebanyakan mereka adalah simpatisan semata bukan aktor atau dalang konflik. Pembantaian brutal inilah yang mengakibatkan orang-orang kiri tidak terima sehingga minta rekonsiliasi.

Dua kelompok besar yang sama-sama menjadi korban dan sama-sama tidak bersalah karena mereka adalah rakyat alias menjadi suara-suara. Justru yang paling bertanggung jawab adalah para pemimpin yang dengan tega menyuruh rakyat atau kaumnya untuk berperang melawan saudara sendiri. Buntut dari permasalahan ini adalah dua-duanya merasa paling menjadi korban. Lagi-lagi kita harus melihat dari jarak pandang yang lebih luas. Mereka adalah sama-sama pion yang digerakan dan disuruh untuk bertarung yang puncak akhirnya kemenangan sebuah ideologi.

Jika dari hal ini saja kita tidak mau mengalah artinya mau memaafkan semuanya. Baik pihak PKI, tentara bahkan Negara itu semuanya harus saling memaafkan karena ini murni pertarungan kekuasaan dan tarung ideologi. Rakyat baik itu pihak islam, komunis atau pihak yang lain yang menjadi korban adalah pihak-pihak yang paling merasakan dampak pertarungan kekuasaan para pemimpin. Maka dari itu sebagai rakyat hendaklah kita berfikir lebih jauh lagi demi Indonesia yang maju dan bersatu. Demi Indonesia yang akhirnya bisa menjadi tempat bersatunya pihak-pihak yang tersakiti untuk sama-sama belajar menghargai dan memaafkan.

Setelah kita tahu bahwa persoalan ini murni urusan kekuasaan dan ideologi. Mari kita lihat sama-sama bahwa Komunisme nyatanya sekarang sudah bangkrut artinya Negara-negara komunis sudah tidak punya pijakan lagi dengan ideologinya. Tetapi anehnya mengapa justru di Indonesia, isu-isu komunisme masih saja ada bahkan kadang-kadang memanas. Jawabannya karena belum maunya semua pihak yang konflik itu untuk sama-sama saling memaafkan. Bukti komunis bangkrut ? Cina yang dulu merupakan negara Komunis sekarang justru beralih menjadi negara kapitalis, Uni Soviet yang komunis sekarang sudah bubar dan terpecah hanya Rusia yang masih komunis itupun daya kapitalis terus saja menjejali negeri itu, Amerika yang digadang-gadang Karl Marx menjadi komunis justru kini malah menjadi Negara Rajanya Kapitalis. Artinya di dunia sekarang ini, kekuataan komunis sudah sangat melemah dan kini hanya Korea Utara yang masih kuat menanamkan komunis di negaranya, itupun harus dengan konsekuensi menjadi musuh seluruh negara-negara kapitalis utamanya Amerika dan pihak yang terkait yakni Korea Selatan. Tetapi bukan berarti ideologi komunis gagal total, justru di Amerika Latin era Videl Castro dan Che Guevara ideologi komunis mencapai masa-masa kejayaannya.

Lagi-lagi kita harus bisa membedakan setiap gerakan komunis di dunia, karena nyatanya di setiap negara ada yang berhasil dan ada yang gagal.Di Tiongkok, komunis berhasil menjadi kekuatan ideologi melawan penjajah dimana Mao Zedong sebagai pemimpinnya, Di Kuba ideologi komunis juga digunakan sebagai alat perjuangan melawan penjajah dimana Videl Castro dan Che Guevara sebagai pemimpin. Bahkan komunis di Kuba identik dengan istilah revolusioner karena melihat bagaimana seluruh kekuatan rakyat bersatu satu suara dalam ideologi komunis. Jelas sekali lagi-lagi ini masalah kesepakatan seluruh bangsa.

Terus mengapa di Indonesia, komunis gagal dengan PKI-nya ? karena di Indonesia seluruh rakyatnya menghendaki adanya negara nasionalis bukan komunis. Buntutnya adalah ideologi apapun selain nasionalis akan ditolak dan pasti tidak akan diterima. Jelas sekali perbedaan komunis PKI di Indonesia dengan di Kuba, jika di Indonesia menekankan pada perlawanan membentuk ideologi baru yang padahal seluruh rakyat sudah kadung dil dengan nasionalis sedangkan di Kuba seluruh rakyatnya menyetujui komunis sebagai cara untuk melawan penjajah. Komunis sejatinya bukan ideologi anti Tuhan tetapi cara atau metode perlawanan melawan penjajah yang pusatnya pada gerakan buruh atau petani. Kita mungkin hanya mengenal komunis sebagai ajaran anti Tuhan padahal itu adalah ajaran perlawanan oleh kaum buruh dan Tani dimana tujuan akhirnya adalah kepemilikan bersama aset bangsa yang dikuasai asing.

Dengan demikian sudah sangat jelas sekali bahwa komunis tidak bisa diterima di Indonesia dan ternyata ada perbedaan-perbedaan atau tujuan mendasar yang berbeda dari masing-masing komunis tiap negaranya.

Pertanyaan selanjutnya adalah setelah dil dengan ideologi nasionalis kemudian dasar negaranya Pancasila tetapi mengapa justru banyak pejabat yang malah mengingkari poin-poin dari Pancasila dengan cara berbuat korupsi dan juga Suap. Padahal secara garis besar masyarakat Indonesia itu masyarakat yang agamis yakni masyarakat yang BerTuhan. Tetapi mengapa negara-negara yang masyarakatnya tidak terlalu agamis bahkan bisa dibilang Atheis misalnya Singapura, Korea Selatan, Israel dan Amerika justru malah lebih maju ?

Penulis akan menjawab karena negara-negara tersebut harus dan terpaksa serta mau untuk bersaing. Misalnya Singapura maju karena ia dikelilingi lautan Melayu padahal kekuatannya Tionghoa, Korea Selatan harus meningkatkan daya negaranya karena harus bersaing dengan Korea Utara, Israel harus bersaing karena dikelilingi kekuatan Arab jika tidak mampu bersaing pastilah Israel akan mudah dikalahkan. Poin pentingnya adalah negara-negara tersebut ada yang ditakuti dan ada yang membuatnya harus bersaing. Lain halnya dengan Indonesia, Tuhanpun oleh pejabat negeri ini tidak ditakuti padahal janji dan sumpah ala agama sudah dilakukan. Yang salah bukanlah agamanya tetapi bagaimana Pancasila memang harus semakin dikuatkan terutama menyangkut hukuman para pejabat yang korupsi. Harusnya urusan bukan bui lagi tetapi urusannya menjadi hukuman mati atau gantung dan terbukti negara-negara yang mempraktekan hal ini pada pejabatnya malah menjadi negara Maju. Contoh rilnya adalah Cina, Korea Selatan dan Jepang. Pertanyaan besar untuk terakhir kalinya, setelah kita sama-sama sadar bahwa Pancasila adalah ideologi yang bisa diterima seluruh rakyat Indonesia, mampukah pancasila menjawab tantangan-tantangannya terutama perihal penghianatan oleh pejabat-pejabat kepada rakyatnya. Masihkah Pancasila dan UUD 45 bisa menjawab tantangan itu ?

Iklan

4 tanggapan untuk “Murid-Murid Hos Cokroaminoto Berperang, Siapa yang Dipilih Indonesia?

  1. Bisa dibilang tjokroaminoto tidak mempengaruhi ideologi mereka, tapi fakta kalau murid2nya jadi pentolan nampaknya cukup bisa dibilang beliau mendidik karakter awal murid2nya dengan cukup baik. Menarik bahwa pada akhirnya mereka ber3 mengalami fase hidup yg berbeda dan kesimpulang yg beda pula

    Disukai oleh 1 orang

  2. Benar.. HOS Cokroaminoto adalh guru besar bangsa indonesia dlm kaitanny mmbntuk sebuah konsep negara.. Murid”nya terbukti luar biasa dan mjd pelaku sejarah bangsa ini

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s