Berjuang di Jalur Hilir Indonesia

oleh : Em Amir Nihat

Melihat berita Indonesia hari ini semakin menambah kekesalan kita. Tentang KPK yang dilemahkan bahkan pemecatan pegawai KPK oleh Pemimpin KPK Boneka. Tentang Seorang Elit yang tidak lulus kuliah tapi bisa dapat gelar profesor. Tentang rencana sembako dan sekolahan yang akan terkena pajak. Dll semakin membuat panas kepala. Geleng-geleng. Setega ini para pemimpin pada rakyatnya.

Rasanya para pemimpin kita sudah terang-terangan kegilaannya. Sudah gendeng hidupnya bagaimana sikap mereka terhadap rakyat Indonesia. Orang kecil dan masyarakat hanya dijunjung saat pemilihan setelah itu dijatuhkan berulang-ulang. Miris memang apalagi ada saja masyarakat yang mendukungnya. Itulah Ahmaq. Orang yang bodoh tetapi tidak sadar bahwa ia bodoh. Kecintaan terhadap tokoh membabi buta sehingga tidak hanya obyektif lagi tapi nalar juga mati. Ditambah membuldaknya para buzzer membuat keutuhan dan kebenaran sebuah berita menjadi terkikis. Terbelok maksud dan tujuannya.

Sampai karena saking apatisnya ada yang bilang #antipolitik atau “presiden siapapun saja tetap saja kita kerja sendiri”. Narasi itu kelihatannya benar tetapi jika dikoreksi lagi jelas salah logisnya. Kita tidak suka dengan politik itu tidak masalah tetapi jangan lantas kita #antipolitik karena politik itu suatu kondisi yang bisa saja kita temui di kehidupan kita. Tidak melulu soal negara dan partainya. Misalnya bagaimana bersaing secara sehat itu juga ada politiknya atau bagaimana hubungan sesama teman juga ada muatan politisnya. Kuncinya tinggal cara politis kita itu positif atau negatif.

Narasi “presiden siapapun saja tetap saja kita kerja sendiri” heyy bangun bro. Kita memang kerja sendiri tetapi kebijakan dari presiden akan mempengaruhi pekerjaan kita. Artinya jangan pisahkan politik dengan hal lainnya sebab itu erat hubungannya. Kita harus kritis dan peduli dengan apa yang terjadi di Indonesia walau tidak harus mendalam. Cukup tahu dan belajar dari kejadian itu sehingga ke depan kita bisa memilih lebih bijak.

Semua gambaran yang saya ceritakan tadi adalah gambaran hulu di Indonesia. Suatu kondisi yang aslinya kita pun tidak akan mampu mengubahnya. Tapi nurani dan akal sehat kita tidak mau menerima. Memberontak walau tidak merubah apa-apa.

Gambaran hulu ini untuk orang awam macam kita jelas tidak akan berubah. Kita tidak akan bisa mengubah Indonesia. Tetapi kita bisa mengubah hilirnya. Kita bisa mengubah diri kita, keluarga kita dan sahabat kita maka fokuslah yang utama adalah kesadaran hilir. Dimana kita harus menjaga dan memastikan diri kita, keluarga kita, sahabat dan teman-teman kita selamat dari badai kerusakan politik di Indonesia. Selamat jasmani, rohani dan juga ekonominya.

Pada saatnya nanti jika kesadaran hilir sudah membesar maka dengan sendirinya hulu InsyaAllah bisa kita selamatkan. “Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit.” Untuk menyelamatkan bukit kita harus dimulai dari perjuangan walau sedikit. Yok bisa yok..Jaga dirimu, keluargamu dan sahabatmu. Memulai dari diri sendiri dulu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s