Bang Pri dan Majma’al Bahroin

oleh : Em Amir Nihat

Saya akan berkisah tentang pengalaman nyata Bang Pri ( Nama Samaran ). Dalam keseharian Bang Pri hidupnya preman banget. Mabok, judi, ugal-ugalan, dll pokoknya hidupnya diisi dengan hal-hal yang haram. Sebenarnya banyak masyarakat yang risih dengan kelakuan bejatnya namun karena Bang Pri anak orang terpandang seolah terjadi pembiaran.

Suatu hari saat ugal-ugalan naik motor ia menabrak atau tabrakan dengan motor lain. Ia jatuh dan badannya hancur bahkan ia harus dibawa ke rumah sakit untuk dioperasi dan diobati.

Berbulan-bulan ia hidup di rumah sakit berharap disembuhkan sampai akhirnya ia pun berangsur-angsur sembuh.

Dan itulah ternyata titik benturannya, setelah ia sembuh kehidupannya 100% berubah. Ia sudah meninggalkan perbuatan-perbuatan haram yang ia lakukan dulu dan kini ia taat kepada Allah. Ia pun rajin beribadah sholat di masjid, saya saksimatanya. Seolah kejadian kecelakaan itulah titik perubahannya.

Bang Pri menemukan Majma’al Bahroin di kehidupannya setelah kecelakaan motor itu dan ia benar – benar menyadari benturan itu sebab juga banyak kecelakaan yang tidak membuat seseorang sadar, bukan?

Majma’al Bahroin adalah pertemuan / perbenturan antara dua laut yaitu tempat yang pernah disebut dalam Kisah Nabi Musa As Dimana sebelum Nabi Musa As menuju tempat tersebut , beliau telah diberi tahu oleh Allah, “Di tempat itulah sesuatu yang mati akan menjadi hidup kembali”. Hal itu benar-benar terbukti saat Nabi Musa As melewati tempat tersebut, ikan goreng yang menjadi bekal dalam perjalanannya tiba-tiba hidup kembali dan meloncat masuk ke dalam air laut.

Apabila dikaitkan dengan kehidupan, sebenarnya akan banyak ditemukan Majma’al Bahroin- Majma’al Bahroin yang lain dalam kehidupan ini. Sesuatu yang mati akan menjadi hidup. Hikmahnya adalah jika kita mengalami benturan – benturan bersyukurlah kepada Allah karena disitulah letak yang mati akan menjadi hidup, sesuatu yang buntu menjadi terbuka, atau sesuatu yang tidak kreatif menjadi kreatif, sesuatu yang akan memunculkan sikap tangguh dll.

Bukankah sering terjadi saat ada benturan atau saat ada kesulitan atau saat ada kekurangan tiba – tiba energi kita justru bangkit maksimal? Bukankah sering terjadi saat ada benturan, kesulitan atau kekurangan tiba – tiba orang akan lebih arif, pandai, tangguh dan hebat? Bukankah sering terjadi saat jarang ada benturan, kesulitan atau kekurangan kehidupan malah orang tidak berkembang tidak tangguh tidak hebat? Bukankah sering terjadi orang yang jarang menghadapi benturan dan kehidupannya dilimuti kenikmatan ( istidraj ) malah menjadi jauh dengan Allah?

Benturan- benturan itulah salah satu cara Allah menyembunyikan rezekiNya. Jadi, kita semua jangan berburuk sangka kepada kesulitan – kesulitan yang menimpa kita sebab bisa saja itu rezeki Allah untuk supaya kita semua lebih pandai, lebih mempunyai daya juang, lebih tangguh atau lebih mendekatkan diri pada Allah.