Runtuhnya Gelar Pejuang

oleh : Em Amir Nihat

Suasana di Pondok Pesantren di Kota MandinTangkapan selalu ramai, saut menyaut suara mengaji. Para santri berguru kepada Kyai Mursyid yang terkenal dan amat dihormati oleh semua masyarakat Kota itu. Kyai itu bernama Syeikh Maulana Al Rasyid. Ulama yang sudah melalangbuana berguru ke berbagai penjuru dunia. Beliau pernah berguru ke Ulama Hadramaut Yaman, pernah juga berguru ke Ulama di Makkah sehingga ilmunya seolah bagaikan lautan. Tentu ini hanya kiasan semata sebab ilmu manusia hanyalah setetes dari lautan Ilmu Tuhan.

“Le, besok antar saya ke Desa seberang ya, ada pengajian disana. Saya yang mengisi” Ucap Sang Syeikh pada santrinya

“Sendiko dawuh yai.” Jawab Si santri dengan tawadhu

Begitulah rutinitas Syeikh Maulana Al Rasyid selalu keliling kampung mengajarkan ilmu agama. Sudah tak terhitung lagi berapa orang yang sudah pandai ilmu agama gara – gara ceramah beliau.

Suatu ketika ada kejadian dimana Sang Syeikh mendapati bahwa ia tidak mendapatkan salam templek. Yakni amplop berisi uang yang biasanya dikasih panitia sebagai utang rasa karena mau memberikan ceramah.

Sang Syeikh yang sudah mengikhlaskan perjuangannya tentu tidak masalah sebab ia berjuang dan berjihad semata-mata karena Allah dan Allah pula yang akan membalasnya.

Namun santrinya ngedumel dan cerita ke Sang Syeikh

“Dasar tidak tahu terima kasih. Masa sepeserpun tidak dikasih. Pelit amat” Ketus Si Santri

Sang Syeikh malah menyetujui prasangka muridnya, dalam angannya beliau merasa kecewa dan merasa tidak layak diperlakukan demikian.

.

.

.

Malam harinya setelah sholat tahajud beliau tidur, di mimpinya ia bertemu malaikat.

“Kenapa kamu malah bermental kapitalis. Bermental Khawarij. Kamu sudah bertahun – tahun berjuang di jalan Allah tanpa pamrih dan ikhlas karena Allah diruntuhkan hanya gara – gara materi yang tak seberapa itu. Sungguh merugilah, kamu ! Tahukah kamu ada kisah orangtua yang sampai berumur empat puluh tahun selalu menafkahi anaknya namun gara-gara satu hari anaknya tidak memberikan uang padanya ia ngedumel merasa tidak dihargai. Ia meruntuhkan jiwa keikhlasannya yang ia bangun bertahun-tahun itu! Apa kamu mau seperti orangtua itu!”

“Tidak wahai malaikat. Apa Tuhan mengampuni dosa – dosa saya wahai Malaikat?” Tanya Sang Syaikh

“Tuhan mengampunimu sebab kamu pernah menyelamatkan semut yang terombang ambing di ember lalu kamu menyelamatkannya.”

Sang Syeikh terbangun dari mimpinya. Ia langsung bersujud memohon ampun dan membangun lagi pondasi ikhlas di sanubarinya.

*/ : “Jika kamu sudah berjuang dengan ikhlas lalu kamu iri hanya karena melihat orang lain mendapati nikmat yang lebih padahal kamu merasa kamu lebih pantas mendapatkannya sebab perjuanganmu lebih besar maka itulah awal runtuhnya mahkota keikhlasanmu. Kamu membandingkan perjuanganmu dengan materi. Kamu melupakan pondasi keikhlasan yang merupakan salah satu bukti cinta paling indah kepada Tuhan”

2 tanggapan untuk “Runtuhnya Gelar Pejuang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s