WHO, Taqwa dan Dukun

oleh : Em Amir Nihat

Dalam perspektif WHO, Kemenkes, Pemerintah di seluruh dunia sepertinya tidak dikenal ada istilah taqwa, tawakkal, istighatsah, sholat penangkal wabah. Bahkan Allah SWT tidak dikenal dan tidak disebut ketika kita berbicara tentang wabah Corona. Itu semua terlalu jauh di luar jangkauan pengetahuan ilmiah globalisasi.

Peran Allah sebagai Tuhan yang mengatur segala Hal, Tuhan yang Maha Kuasa atas segala sesuatu tidak pernah dijadikan hulu berfikir para saintis dunia sehingga usaha manusia pun berhenti di langkah ikhtiar saja. Gembor – gembor protokol kesehatan 3M ( Memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan ) kehilangan sisi ruhaninya yakni tawakal dan berdoa. Bukankah kedua hal itu yakni ikhtiar dan doa harus selaras?

Barangkali itu terlalu jauh. Untuk urusan kesehatan pun di luar lingkar farmasi atau kedokteran, peran semacam tabib yang kemudian dinegatifkan menjadi bernama dukun dengan cap sesat dan berbahaya tidak dianggap sebagai ahli kesehatan. Artinya segala hal di luar pengobatan secara farmasi dianggap tidak ilmiah, berbahaya dan bisa diklaim dengan sesat. Padahal kenyataan justru lain, banyak orang bisa sembuh justru lewat jalur pengobatan tradisional dan pengobatan alternatif. Entah itu lewat peran tabib atau yang lainnya.

Saya akan bercerita tentang Paman saya yang menderita batu ginjal. Saat diperiksa ke dokter si ahli farmasi, paman saya disuruh untuk operasi. Tentu paman saya takut ia mencari pengobatan lain. Atas rekomendasi tetangga, paman saya disuruh berobat ke seorang dukun ( istilah dukun sudah melenceng dari arti sebenarnya sebab dukun hari ini dikenal sebagai tukang paranormal dan tukang sesat. Padahal dukun bisa dikonotasikan sebagai tabib. Ada dukun bayi, dukun berobat dll sehingga istilah dukun tidak sesempit yang kita kenal sebagai ahli sesat ). Paman saya pun berobat disana. Ia disuruh berpuasa dulu. Disuruh rajin ibadahnya. Membersihkan hati. Setelah beberapa minggu kemudian paman saya disuruh datang ke rumah dukun lagi. Tibalah proses operasi ghaib. Si dukun alias tabib ini yang dikenal ahli tirakat, baik sama orang, ahli ibadah juga, bahkan tidak memasang tarif buat usaha praktiknya. Ia mengeluarkan benda pusaka berbentuk seperti corong minyak kemudian menaruh di punggung paman saya. Ia merapal doa. Dengan kuasa Allah, batu ginjal keluar lewat pusaka itu. Paman saya juga merasa ketika proses dikeluarkan batu ginjalnya seperti disayat dengan pisau. Sakit luar biasa. Anehnya tidak ada bekas luka sama sekali. Barangkali inilah yang dinamakan operasi secara ghaib. Alhamdulillah, paman saya sembuh. Batu ginjalnya keluar dan diperlihatkan ke paman saya.

Para leluhur kita. Para sesepuh kita. Dulu sangat suka laku priatin dan tirakat. Entah itu dengan berpuasa atau tirakat lainnya sehingga mereka pun diberi semacam kelebihan oleh Allah.  Allah Maha Adil sehingga siapa yang mau berjuang pun pasti dihargai.

Jika para akademisi dan para dokter berjuang lewat jalur akal dan pengetahuan maka Allah pun memberikan anugerah berupa obat, sedangkan para pelaku ahli tirakat yang berjuang lewat jalur membersihkan hati dikaruniai kelebihan bisa berupa hal-hal yang bermanfaat buat orang banyak.

Tetapi cerita saya ini pasti langsung dibantah dan dianggap sesat oleh para ahli farmasi. Dianggap berbahaya. Tidak ilmiah. Padahal Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu itulah primernya. Allahlah yang menyembuhkan. Ketika Nabi Muhammad SAW mengobati kaki Abu Bakar RA yang terkena bisa ular dengan perantara ludah beliau lalu Abu Bakar RA pun sembuh itulah Kuasa Allah. Saat Nabi Musa AS mengobati sakitnya dengan daun maka Beliau pun sembuh. Allahlah yang menyembuhkan. Sedangkan urusan daun atau perantara lainnya itu suka-suka Allah. Terserah Allah.

Kembali ke Peran Allah sebagai Tuhan yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maka seyogyanya kita tidak mengkultuskan perspektif dari WHO. Kita masih punya dimensi taqwa, tawakkal, dll. Kita patuhi protokol kesehatan dengan niatan ikhtiar lillah tetapi jauh didalam hati kita sudah ada dimensi yang kuat bahwa Allah  yang menyembuhkan. Allah pula yang menyelamatkan kita.

 Hasbunallah Wanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikman Nasir ( Cukuplah ALLAH sebagai penolong kami, dan ALLAH adalah sebaik-baik pelindung )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s