Mengapa Kita Harus Mengkaji Yasinan dan Tahlilan ?

oleh : Em Amir Nihat

Yasinan dan Tahlilan sudah menjadi agenda rutinan tiap malam jumat bagi kaum Nahdliyin khususnya dan Umat Islam umumnya yang sependapat dengan narasi dibolehkannya Yasinan dan Tahlilan. Saya disini tidak akan mengajak untuk berdebat tentang hukumnya sebab sudah banyak yang membahas itu dan saya tidak layak untuk berbicara dalil karena saya bukan Ulama. Bukan juga ustadz. Tarung dalil pembenaran masing-masing tidak menjadi jawaban hanya melahirkan debat kusir dan ujung-ujungnya pembenaran sendiri dan menyalahkan orang lain. Efeknya kita akan terpecah belah padahal itu hanya perkara khilafiyah saja sehingga sangat disayangkan. Yang pro yasinan dan tahlilan silahkan dan yang kontra yasinan dan tahlilan juga silahkan. Butuh hati dan fikiran yang luas untuk melaksanakan hal itu kan? Semoga kita bisa toleran.

Yang menggelitik bagi saya justru kritikan dari pihak yang kontra dengan yasinan dan tahlilan. Misalnya Baca AlQur’an kok pas yasinan  doang? Atau Yasinan dan tahlil kok pas ada acara kematian doang? Yasinan dan Tahlilan yang dibaca apa saja fadhilahnya apa saja? Pertanyaan-pertanyaan ini tentu kembali ke pribadi masing-masing. Waspadanya, jangan-jangan memang kritikan itu benar adanya bahwa kita hanya baca AlQur’an saat yasinan doang atau saat ada acara kematian atau bahkan kita tidak faham apa saja yang kita baca saat yasinan dan tahlilan.

Untuk menjawab kritikan itu Izinkan saya membuka fadhilah atau dalil bacaan apa saja yang dibaca ketika Yasinan dan Tahlilan.

1. Bacaan   “Subhanallahiwabihamdihi, Subhanallahiladzim”

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda: “Dua kalimat ringan di lisan, berat di timbangan, dan disukai yang Maha Pengasih (Ar Rahman) yaitu Subhanallah wabihamdihi dan Subhaanallahilazhiim.” (HR. Bukhari)

2. Bacaan “Lailahailalah”

Abu Hurairah ra. bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang beruntung dengan syafa’at (pertolongan)-mu kelak?”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku kira belum ada orang yang bertanya kepadaku tentang hal semacam ini sebelumnya. Manusia yang paling beruntung di hari kiamat adalah seseorang yang mengucapkan Laailaaha illallah (tiada Tuhan selain Allah) dengan hati yang penuh keikhlasan.” (HR. Bukhari)

3. Membaca Surat Al Baqarah

“Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan (tanpa lantunan Al-Qur’an) karena setan akan lari dari rumah yang dibacakan Surat Al-Baqarah,’” (HR Ahmad, Muslim, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’I dengan matan serupa).

4. Membaca Surat Yasin

“Sesungguhnya setiap sesuatu memilik hati, sedang hati alQuran adalah surat yaasiin, maka barangsiapa membaca surat yasin, Allah memberi pahala padanya sepuluh bacaan alquran” [Tafsiir as-Sam’aani IV/265].

5. Membaca Sholawat

“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Al Kubro)

6. Keutamaan Silaturahim

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi.” (HR. Bukhari – Muslim).


Setelah saya cek  dalil dan fadhilah masing-masing bacaan Yasinan dan tahlilan ( yang saya tulis disini sebagian saja sebab masih banyak bacaan lainnya ) maka saya meyakini benar bahwa kegiatan ini wujud ijtihad ulama dalam kaitannya soal dzikir dan silaturahim.

Ijtihad ulama yang berupa yasinan dan tahlilan yang didalamnya para ulama mengumpulkan berbagai bacaan dzikir kemudian karena banyak orang yang melakukannya maka menjadi mainstream. Menjadi ibadah ‘padatan’. Seolah-olah menjadi keharusan padahal jarak waktu menuju hal itu memang tumpuannya bukan keharusan tetapi lebih berdasar apa yang kita inginkan. Itu sama saja jika kita menyusun agenda bacaan dzikir sendiri atau bacaan Alqur’an sendiri misalnya program ODOJ ( one day one juz), program membaca sebagian ayat AlQur’an dll itu lama-lama jika banyak yang melakukannya akan menjadi mainstream. Menjadi ibadah yang dipadatkan. Seolah menjadi keharusan padahal titik tumpu awalnya adalah keinginan masing-masing.

Barangkali disini yang akhirnya sebagian kita menghakimi kontra dengan kegiatan Yasinan karena sudah menjadi ibadah yang dipadatkan. Atau mungkin karena mereka tidak meneliti secara detail sejarah kurun waktu ijtihad itu ada. Rentang waktu dari Rosululloh SAW yang beliau sangat cair dalam perkara ibadah. Terbukti banyak dalil hadits dzikir  kemudian perlahan menjadi padat semenjak era madzab sampai sekarang. Rentang waktu ini yang jarang dilihat kita.

Ijtihad Yasinan dan Tahlilan bukan saja mengajak kita berdzikir tetapi mengajak kita bersilaturahim dengan tetangga yang efek besarnya menjaga keharmonisan tetangga dan menjaga srawung antar tetangga. Dan juga bagi yang punya hajat itu bisa wujud amal soleh menghormati tamu. Demikian juga kegiatan ini pun menjadi majelis dzikir maka dalam kegiatan yasinan dan tahlilan itu banyak sekali ditemukan amal soleh. Garis besarnya kegiatan Yasinan dan Tahlilan itu mengajak kita habluminallah dan habluminanas.

Sayangnya ketika ada kegiatan Yasinan dan tahlilan tidak diimbangi pengetahuan akan fadhilah dan bacaan yang dibaca. Ikut-ikutan saja tanpa tahu maknanya. Problemnya Bisajadi karena para ulama pro yasinan dan tahlilan hanya fokus dengan debat dalil dengan pihak kontra sementara di pihak sendiri justru masih banyak yang tidak faham makna apa saja, keutamaan apa saja yang ada dalam kegiatan yasinan dan tahlilan. Atau menganggap yasinan dan tahlilan hanya saat jumat dan ada yang meninggal dunia saja sehingga menjadi ‘padatan’ padahal awalnya kegiatan ini sangat cair. Artinya bisa dilakukan kapan saja tidak harus menunggu ada yang meninggal dunia.

Semoga setelah ini, yasinan dan tahlilan kita bukan hanya agenda rutinan biasa tapi ada rasa ingin bersilaturahim, ingin berdzikir, ingin memuji Allah dan Rosululloh, ingin menghormati tamu dan ingin memuliakan tamu serta ingin mendalami bacaan-bacaan yang terkandung di dalam yasinan dan tahlilan.

Maka semestinya memang perlu kiranya ada ulama , ustadz atau siapapun yang membahas keutamaan yasinan dan tahlilan dengan meneliti satu per satu bacaannya dan fadhilahnya atau bisa juga diadakan majlis ilmu yang membahas tentang itu. Perlu kiranya kita memuhasabahi diri dalam kaitannya ijtihad yasin dan tahlil. Pertanyaannya, Adakah ulama yang mau melakukan hal itu atau jangan-jangan memang kita lebih suka debat dan saling merasa benar sendiri?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s