Romantisme Perjalanan, Romantisme Kesabaran

oleh : Em Amir Nihat

Semenjak mempunyai motor saat SMP hingga sekarang, saya belum pernah memiliki sensasi menikmati perjalanan saat berlibur. Pokoknya tinggal gas motor maka sampai di tempat tujuan. Senang mungkin ia tapi romantisme perjalanan saya sudah tidak bisa menikmatinya. Detik demi detik saat diperjalanan tidak bisa saya nikmati layaknya masih naik sepeda kala itu. Fokusnya ketidaksabaran. Ingin cepat sampai tujuan. Sangat-sangat tidak menikmati perjalanan.

Nenek saya pernah bercerita untuk liburan ke pantai berangkatnya harus setelah subuh. Berjalan kaki bareng teman-temannya. Kadang cuma bawa bekal dua telor ayam buat ditukar atau barter sama cemilan atau makanan disana. Momen di jalanan benar-benar mereka nikmati sambil ngobrol-ngobrol. Riang canda. Seolah aura perjalanan benar-benar hidup. Rasa lelah di jalanan terbayar lunas ketika melihat pantai yang ombaknya bergelombang-gelombang.  Mereka menikmati romantisme kesabaran.

Saya pun jadi faham kenapa makanan yang dimakan setelah bekerja kepanasan dan kelelahan di sawah itu enak sekali? Ternyata Karena ada jarak romantisme kesabaran menuju proses makan. Itulah makanan terenak di dunia yakni saat lapar dan letih.

Begitu juga ucapan teman saya yang hobi naik gunung. Mengapa sensasi muncak gunung itu indah sekali? Jawabnya Karena mereka benar-benar menikmati romantisme kesabaran di pendakian. Rasa capek jalan berjam-jam bahkan ada gunung yang pendakiannya membutuhkan waktu berhari-hari sehingga wajar dan pantas mereka akan bahagia ketika sampai puncak. Itulah romantisme perjalanan.

Masalah percintaan pun sama.  Kita harus mengakui bahwa kakek nenek kita ditengah kekurangan teknologi kala itu, mereka justru bisa menikmati momen balas surat cinta. Saat membikin surat cinta ada rasa bahagia. Berbunga-bunga. Begitupun momen menunggu balasan. Ada romantisme kesabaran disitu. Dan kini kita tinggal chat sudah sampai yang dituju. Maka rindu kita jelas hanya sekedar kata “rindu” bukan “aura” rindu. Kita kehilangan romantisme kesabaran.

Tahun 2019 saya menghadiri acara WS. Rendra “Megatruh” ( tentang acara itu Baca disini ) saya ngobrol dengan salah satu Bapak yang merupakan muridnya WS Rendra di bengkel teater dulu. Katanya mereka harus berjalan beberapa kilometer tiap hari menuju Pantai Parangtritis. Di jalananan dilarang bicara. Mereka disuruh peka terhadap suara, hawa dan angin. Penyair adalah membaca alam. Membaca suara angin, suara alam, hawa, aura dan gejala. Maka saya pun jadi faham bahwa ada kebahagiaan rasa melebihi materi yakni kebahagiaan menikmati romantisme perjalanan.

Sahdan suatu hari Presiden Penyair Malioboro ( Umbu Landu Paranggi ) mengajak murid kesayangannya yakni Emha Ainun Nadjib ( waktu itu dipanggil Em ) untuk pergi ke jalanan. Disana mereka duduk lihat-lihat jalanan memandangi kendaraan lewat. Berjam-jam. Sampai ada salah satu bis yang ternyata di dalamnya ada kekasihnya Umbu lewat. Mereka bergegas pulang. Lain waktu, Em diajak Umbu ke Surabaya. Berjam-jam perjalanan menuju Surabaya dari Yogyakarta. Ternyata di Surabaya hanya untuk lewat di depan rumah kekasihnya. Tanpa ada keinginan untuk ketemu kekasihnya. Sepintas ini tindakan aneh tapi percayalah Umbu sedang sangat-sangat menikmati romantisme perjalanan itu. Ia benar-benar menikmati kesunyian. Bahkan kata CakNun, Umbu hidupnya benar-benar puisi.

Bagaimana dengan kita hari ini, adakah yang mau meneguk indahnya romantisme perjalanan? Menikmati romantisme kesabaran? Saya kira kita sebaliknya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s