Akan Kemanakah Arus Budaya Kita ?

oleh : Em Amir Nihat

Dari sekian bahasa di Tanah Nusantara ini misalnya Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Bahasa Bugis, Bahasa Madura dll para pendiri bangsa memilih Bahasa Melayu Pasar menjadi bahasa persatuan. Jadilah Bahasa ini diakui atau dirubah namanya menjadi Bahasa Indonesia.

Menurut K.R.T Manu J Widyasaputra ( Pakar Filolog dan Bahasa ) Bahasa Indonesia diambil dari bahasa pasar yang urakan alias tidak mengenal anggah ungguh bahasa. Kalau dijawa memanggil “kamu” bisa berbeda tergantung lawan bicaranya misalnya buat orang yang lebih tua dipanggil sampean atau panjenengan buat yang sesama ; kowe dan bahasa Indonesia tidak mengenal ini, kata “kamu” bisa saja buat yang lebih tua atau sesama sehingga tidak ada pembeda. Tidak ada sopan santun disana.

Demikian juga Bahasa Sunda, Bahasa Bugis, dll justru Bahasa Daerah inilah yang luhur dan tinggi tingkat bahasanya. Yang menjadi pertanyaan kita kenapa bahasa melayu pasar dijadikan sebagai bahasa utama?

Semakin kesini bahasa Indonesia semakin tidak ada harganya. Kita bisa lihat bagaimana para artis, influencer dan orang intelektual mereka justru bangga jika sedikit-sedikit bahasanya dicampur bahasa Inggris. Seolah-olah jika bisa Bahasa Inggris naik derajat dan kalau tidak bisa ketinggalan zaman. Mereka meninggalkan bahasa asli mereka.

Bisadibilang Bahasa Indonesia justru malah melumpuhkan kesejatian dirinya. Orang Jawa kehilangan jawanya. Orang Sunda kehilangan sundanya. Orang Bugis kehilangan bugisnya. Dll. Padahal Bahasa Indonesia mestinya bukan Bahasa Utama tetapi bahasa masing-masing dearah itu yang utama. Tanpa kehilangan jati diri juga tidak melupakan persatuan. Itulah Bhineka tunggal ika. Jika ika adalah Bahasa Indonesia dan Bhineka adalah Bahasa Daerah maka kita kehilangan kebhinekaan kita karena kita tidak mau jadi bhineka. Padahal ika itu awalnya berwujud kebhinekaan, bukan?

Maka mencintai bahasa daerah masing-masing itulah wujud mencintai Indonesia karena hakikatnya ia sedang berjuang di jalur kebhinekaan.

Arus globalisasi telah begitu terasa semenjak hadirnya internet. Hal-hal berbeda tiap daerah, suku, bahkan negara pasti membawa budaya, bahasa maupun gaya hidup. Sayangnya bukannya kita taaruf atau mengenal satu sama lain tetapi kita justru menjadi seperti mereka dan melupakan siapa diri kita? Ibarat bebek bertemu ayam si bebek malah jadi ayam. Padahal tujuan besar globalisasi adalah bebek tahu bahwa ia bebek dan ia juga menengenal ayam, sapi, kuda dll tanpa punya keinginan jadi seperti mereka.

Kita bisa cek dari kata. Misalnya kata “abi” dan “umi”. Itu jelas masalah bahasa dan tidak ada hubungannya dengan agama. Tren memanggil bapak dan ibu dengan panggilan abi dan umi merupakan gejala bebek jadi ayam. Padahal kata “abi” dan “umi” pun orang di luar agama Islam asalkan ia dari arab pasti juga memanggil seperti itu. Orang kristen Arab pasti memanggil ayahnya dengan “abi”. Artinya semestinya yang kita serap dari agama adalah agama dan intisarinya, bukan budaya dan adat istiadatnya.

Tren gaya hidup misalnya cara berpakaian pun juga ada pertarungan disana. Orang Jawa yang memakai jangkep dan kebaya hampir dipastikan semakin tersisih. Bukan karena kita tidak mau memakai hal itu tetapi karena dari aspek tren atau kecenderungan kita kalah. Alias hanya melihat tren dunia. Maka mode baju pun mengikuti gaya barat. Apakah itu salah? Ini bukan perkara salah benar tetapi lebih ke bagaimana masyarakatnya mau menanggapi. Dan kita harus jujur bahwa dalam ranah pertarungan cara berpakaian  mereka lebih diunggulkan karena daya bisnis dan daya beli mereka lebih kuat.

Tren baju taqwa pun terdengar rancu sebab agama tidak menjelaskan secara detail rancangan pakaiannya hanya fokus ke aspek apa yang harus ditutup. Aurat. Artinya jika aurat sudah tertutup maka kaidah agama bisa diterima. Dan tentu itu tidak harus dengan jubah dan baju taqwa yang konon baju taqwa ini malah diadopsi meniru baju adat Cina.

Itu bara soal kata dan cara berpakaian saja padahal budaya membawa begitu ragam hal. Ada bahasa, gaya hidup, kebiasan dll yang barangkali yang kita sangka itu Agama ternyata persoalan budaya. Disini pentingnya menggali sejarah lebih dalam.

Jika demikian adanya. Akan kemanakah arah langkah arus budaya kita? Indonesia berasal dari dirinya sendiri atau justru Indonesia yang merusak dirinya sendiri?






Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s