PENGANTAR BLOG

Suatu hari ada yang menanyakan referensi kepenulisan saya dari mana. Didapat dari siapa. Sumbernya apa saja. Padahal saya bukan penulis. Padahal saya bukan akademisi. Kok nulis? Kok nggaya bikin tulisan? Orang Desa kok nulis? Kuliah kagak nggaya bikin tulisan? Sok pintar? Sok alim? Sok bijak?

Saya memang bukan penulis dan tidak pantas disebut penulis. Izinkan saya mengungkapkan kekurangan saya diantaranya : saya tidak bisa baca kitab kuning ( pernah ngaji kitab kuning itupun tidak lulus boro-boro belajar nahwu shorof itu misi yang berat poool ), saya tidak bisa bahasa Arab dan bahasa Inggris, saya tidak kuliah, saya tidak pernah ngaji di pondok pesantren , saya bukan akademisi apalagi sarjanawan. bukti bahwa saya bodoh kuadrat. Ini bukan merendah tapi fakta bahwa saya memang rendah itu benar adanya. Saya tegaskan sekali lagi bahwa saya bukan santri. Apalagi Ustadz. Bukan juga akademisi. Hanya Orang Biasa yang ingin berbagi. Siap menerima kritik dan saran. Sangat mengharapkan nasihat . Ingatkan saya jika saya salah.

Semua yang saya tulis ini tidak ada niat untuk menggurui karena saya bukan guru, tidak ada niat untuk sok alim dan pintar karena saya terbukti tidak alim dan pintar, tidak ada niat untuk menceramahi karena saya bukan ustadz.

Tulisan saya disini dalam rangka ingin berbagi hadiah. Berbagi kebahagiaan. Karena hadiah terbaik adalah Nasihat maka saya berusaha semampu saya setahu saya untuk memberikan hadiah terbaik juga pasti itu semua karena rahmat Allah sehingga jika ada hal yang baik dan bermanfaat itu PASTI atas pertolongan Allah dan jika ada yang salah itu KARENA KEBODOHAN SAYA. Kelalaian saya.

Pengalaman yang saya tulis disini benar-benar seperti perngasakan. Ngasak adalah aktifitas memungut sisa padi di sawah yang telah dipanen. Jadi tulisan saya memang tidak bernilai apa – apa dan tidak ada indeks ilmiahnya karena hasil pungutan sisa – sisa. Apalagi jadi ustadz atau akademisi, jadi tukang adzan pun saya tidak cocok. Artinya saya benar-benar tidak pantas jadi apa – apa. Maka jangan bandingkan saya dengan para santri, para akademisi dan sarjanawan sebab saya pasti kalah secara keilmuan.

Jangan anggap saya sebagai penulis. Saya bukan penulis. Kalau pengin menyebut penulis harus ditambah kecil-kecilan. “PENULIS KECIL-KECILAN” Seperti pedagang kopi asongan yang bersepeda kemudian keliling jualan di sekitaran TIM Cikini, Jakarta. Itulah posisi saya.

Akhir kata, dengan mengucap BISMILLAHIRROHMANIRROHIM dan Sholawat : Allahumasholli’alamuhammad. Saya persembahkan tulisan – tulisan sederhana dari penulis kecil-kecilan.

Salam Literasi,

Em Amir Nihat