Nasihat Bapak kepada Anaknya tentang Jodoh dan Menikah

oleh : Em Amir Nihat

Siang hari dikala mendung masih menutupi sang surya, seorang anak ( 23 thn ) sedang ngobrol dengan bapaknya ( 64 thn ) di sebuah langgar . Mereka duduk disana sambil cerita masalah jodoh. Usut punya usut, sang anak sedang dilanda galau berat sebab pacarnya telah mengkhianatinya.

“Pak, bagaimana caranya dapat pasangan yang baik ? ” tanya sang anak

Perlahan-lahan sang bapak menjawab,

“Anakku, ketahuilah bahwa pada masa pacaran itu bisa jadi banyak kepalsuan – kepalsuan atau hanya ditampilkan yang manis saja. Ditakutkan kalau hanya ditampilkan yang manis saja dan fikiran terlanjur berimaji yang indah belaka difikirannya cuma ranjang saja, nanti kalau sudah menikah baru ketahuan itu jeleknya. Kaget dan menyesal. Jadi, dalam pacaran pun harus jujur dan apa adanya. Jangan berbohong. Dan yang terpenting, kamu jangan lihat hanya kecantikannya saja tetapi lihat juga siapa keluarganya dan siapa temannya dengan begitu kamu tahu karakter aslinya

Sang anak mengangguk-ngangguk tanda mengerti, dalam angannya ia menyesal sebab hanya terpaku pada wajah belaka padahal hati dan perilaku itu jauh lebih penting.

“Terus arti mencintai itu apa, Pak ?” Sang anak bertanya lagi

Sejenak sang bapak memandang langit merenung dan berfikir kemudian menjawab,

“Anakku, cinta yang masih fokus menikmati tubuh pasangan itu bukanlah mencintai. Itu hanya egois belaka. Nafsu syahwat belaka. Mengapa kata – kata gombal muncul? Itu akibat karena dalam angannya ia hanya ingin membahagiakan dirinya. Yang dibutuhkan pasanganmu itu bukan kata – kata gombal tetapi kesungguhan dan kejujuran. Mencintai itu berarti kamu rela berkorban asalkan pasanganmu bahagia. Jadi, cara pandangnya bukan membahagiakan diri sendiri tetapi semua fikiran tercurahkan bagaimana membahagiakan pasangan. Ketika kamu sudah sampai tahap itu maka itulah mencintai. Artinya kamu curahkan hidupmu untuk kebahagiaan pasanganmu.”

“Lagi. Anakku. Sebaiknya dalam masa pacaran itu diskusikan apa – apa saja yang akan dilakukan, disaksikan juga orangtua. Misalnya mas kawinnya apa, biaya pernikahan berapa, resepsinya dimana, undangannya berapa, nanti mau tinggal dimana dihitung dan dirumus semua. Jangan sampai sesudah menikah malah ribut akibat lupa mendiskusikan hal ini. Sering terjadi perceraian akibat hal-hal ini. Kalau kita misalnya mau bepergian juga harus bawa bekal kan, harus tahu rutenya kemana, lewat jalan yang mana, hambatannya apa saja. Begitu juga dalam urusan pernikahan. Diskusikan banyak hal. Perbanyak bertanya kepada yang sudah menikah sehingga ke depan jalan akan terlihat dan tidak gelagapan.”

“Satu hal lagi anakku sebagai lelaki. Wajib kamu menafkahi calon istrimu. Artinya kamu harus bekerja. Jangan nganggur. Berapapun penghasilannya harus bekerja karena tugas utama lelaki itu menafkahi. Dan juga anakku, jika ada masalah ringan atau berat, cobalah selesaikan baik-baik dengan calon istrimu. Jangan cerita ke orangtua sebab pasti sudut pandang orangtua akan ke anak-anaknya. Jika calon istrimu marah, kamu jangan marah walau kamu tahu kamu tidak salah. Tunggulah saat ia reda marahnya baru cerita. Apalagi jika kamu mau meminta maaf walau tidak salah justru sang istri akan sadar sendiri. Artinya kamu harus tahu kapan harus tegas dan kapan harus lembut.”

Sang anak memperhatikan dengan saksama, terlihat dari sorot matanya yang tajam seakan sedang membayangkan hal yang jauh ke depan. Nasihat itu ia cermati dan renungkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s