TELEVISHIT

oleh : Em Amir Nihat

Tayangan televisi goal terakhirnya adalah laku di masyarakat dan rating yang tinggi maka balutan itu pun juga harus dicap dengan lebih “boombastis”, “aneh”, “lucu”, “viral”, “sensasi” dan “setingan

Hal yang biasa tetapi dilebih-lebihkan itulah boombastis. Hal yang unik dan langka akan mengeruk imaji penasaran penonton itulah aneh. Hal yang membuat tertawa ngakak seringkali tak diimbangi latar sopan santun yang baik itulah lucu. Hal yang lagi trending dibuat sedemikian rupa itulah viral. Hal yang dzolim tapi dijadikan berita itulah sensasi. Hal yang bohong tetapi dicitrakan seolah benar adanya itulah setingan.

Rumus jualan televisi adalah semakin banyak yang komen dan semakin banyak yang menonton akan viral dan Televisi akan mendulang keuntungan. Televisi ogah menampilkan selebritis yang berprestasi tapi malah senang sekali menampilkan yang sensasi. Lebih suka Menampilkan sosok-sosok yang aslinya tidak pantas dan tidak layak ditontonkan tapi karena tujuannya laku maka hal itu dilakukan. Televisi hari ini seperti perempuan tua yang senang diperkosa oleh tuan – tuan viral dan sensasi demi rating belaka.

Misalnya, Acara RUMPI acara ghibah nasional ini malah laku di masyarakat padahal acara seperti ini malah jelas membodohi dan hanya bikin dosa. Harusnya KPI mematikan acara semacam ini karena emang tidak guna. Dan sebagai masyarakat perlawanan terbaik terhadap acara – acara sampah adalah tidak menonton dan tidak menanggapinya di media sosial ( tidak memviralkan ). Ingatkan orangtua dan teman-teman kita bahwa itu hanya sensasi yang dibalut dengan settingan dan kebodohan.

Orang ngomong kasar jadi viral. Orang sombong jadi viral. Orang berkelakuan jelek jadi viral. Lalu sampai kapan kita sadar bahwa ini salah? Sampai kapan kebusukan dijunjung? Yang berbahaya munculnya imitasion rule yaitu kondisi yang meyakini dengan berbuat sombong, ngomong kasar, gila, dan perilaku buruk lainnya sebagai cara untuk terkenal. Jika ini terjadi maka kerusakan moral akan masal dan sulit dibendung akal.

Demikian juga acara berita Televisi yang pemiliknya juga politikus. MNC group dengan HaryTano sebagai Politikus Perindo atau TVone dan ANTv dengan pemiliknya Bakrie sebagai politikus Golkar atau MetroTV dengan pemiliknya SuryaPaloh sebagai politikus Nasdem. Pertanyaannya mungkinkah berita yang berkembang di media mereka akan menjatuhkan Partai mereka? Jawabnya tentu sebaliknya. Akan banyak framing berita dan ketidakadilan sudut pandang jika menyangkut politik serta pembagusan citra. Masyarakat akan disuguhi berita yang benar tetapi sayangnya sudah dipilih, dipilah dan dibumbui citra. Politik akan dimainkan, strategi serang lawan politik dilakukan dan pembagusan citra partai diperbesar. Masih percayakah kita pada berita di televisi sedangkan tevisi yang punya Politikus Partai. Betapa malang nasib Rakyat Indonesia, sulit menemukan informasi yang sejati sebab berita hari ini telah dimanipulasi oleh Orang-Orang Partai.

Pertanyaannya, Masihkah kita percaya pada apa yang ditampilkan di Televisi ? Sampai kapan kita mau dibodohi oleh Televisi ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s