Tadabbur Surat Al Hujurat untuk Generasi MedSos

oleh : Em Amir Nihat

1. TELITI DAN WASPADAI BERITA DI MEDSOS

Di era medsos yang penuh sesak dengan interaksi-interaksi melahirkan banyak berita dari berbagai macam hal akan berdampak pada pola pikir penggunanya. Andai beritanya bermanfaat dan sumbernya dapat dipercaya tentu baik adanya, namun sebaliknya jika berita disusupi para tukang fitnah, adudomba, framing, pembohong dan buzzer politik maka berita menjadi kotor dan rusak nilainya. Kebenaran berita disusupi kepentingan atau diseting sesuai pemesan jasa. Parahnya kita malah gebyah uyah, percaya begitu saja dan larut dalam buaian fitnah para buzzer padahal Allah mewanti-wanti Orang beriman supaya MAU MENELITI KEBENARAN BERITA, AGAR HATI-HATI DAN WASPADA SAAT MENDENGAR ATAU MEMBACA BERITA karena dampaknya bisa merusak atau mencelakai orang lain minimalnya kita akan kecipratan dosa menyebarkan berita sajian dari para fitnah, pengadudomba, framing dan para buzzer politik yang kita sebarkan tanpa mau klarifikasi manfaat mudorotnya. Efeknya kita jadi bagian dari rantai panjang pertengkaran dan permusuhan maka jika begini dzolimlah kita.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 6)

Apakah ayat ini jadi pedoman Umat Islam saat bermedos? Ataukah sebaliknya? Buktikan bahwa Umat Islam itu berhati-hati dan meneliti. Jangan-jangan kita malah terhanyut arus deras berita yang penuh sesak dengan kepentingan dan kebohongan serta pemelintiran. Atau jangan-jangan kitalah sumber fitnah, adudomba dan perpecahan itu? Tidakkah kita malu mengaku Umat Islam tapi kelakuannya menyebarkan fitnah dan perpecahan?

.

.

2. JADILAH PENDAMAI

Di tengah riuh rendahnya aktifitas komen entah itu di facebook, ig, twitter, dll akan menggiring pada sebuah ruang perdebatan. Sayangnya hal itu telah disusupi pengadudomba, pencacimaki, pemfitnah, buzzer politik dan tukang framing berita yang kesemuanya itu merusak ruang komen maka jangan ikut terpancing dalam ruang debat kusir tak jelas. Jika terpaksa harus komen maka jadilah pihak yang mendamaikan. Menengahi dan mempersaudarakan kembali.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 10)

Apakah ayat ini dijadikan pedoman saat kita bermedsos? Apakah benar kita adalah yang mendamaikan? Atau jangan-jangan kitalah yang memercikan api permusuhan, kitalah yang sibuk mencaci maki dan membuat gaduh dengan ucapan kotor yang dihantamkan ke orang lain?

.

.

3. RUANG OLOK-OLOKAN

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 11)

Allah mewanti-wanti kita sebagai Orang Beriman supaya JANGAN MENGOLOK-OLOK ORANG LAIN, JANGAN MENCELA ORANG LAIN dan JANGAN MEMANGGIL DENGAN GELAR YANG BURUK. Apakah kita sudah menjalankan perintah itu? Atau sebaliknya kita malah yang suka memperolok-olok orang lain, kita yang suka mencela orang lain dan kitalah yang suka memanggil orang lain dengan gelar yang buruk?

Di ranah medsos ada gelar cebong, kampret, kadrun, dll atau ragam kata hinaan lainnya lalu kita dengan terang-terangan menggunakan hal itu untuk menghina atau merendahkan orang lain seolah kitalah yang paling benar dan mereka adalah pihak yang salah. Apakah kita tidak mau menuruti perintah Allah supaya kita jangan memberi gelar yang buruk? Apakah benar pedoman kita itu benar-benar AlQur’an? Jika benar pedomannya AlQur’an mengapa justru malah menggunakaan cacimakian, celaan, olok-olokan dan gelar yang buruk di medsos sedangkan Alqur’an jelas-jelas melarang kesemuanya itu.

.

.

4. Pesan buat para Buzzer, tukang Fitnah, adudomba, pencacimaki dan framing berita

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)

Apakah ayat ini tidak jadi alarm kita dalam bermedsos? Bahwa kita HARUS MENJAUHI PRASANGKA YANG MENJERUMUS KE DOSA, JANGAN MENCARI-CARI KESALAHAN ORANG LAIN DAN JANGANLAH MENGGUNJING. Ataukah kita malah sebaliknya. Kitalah buzzer itu yang suka berprasangka buruk, kitalah yang suka mencari kesalahan dari orang lain dan lawan kita, kitalah yang menggunjing habis-habisan lawan kita? Bukankah kita memang tidak jijik dengan hal itu? Kita tidak malu jadi buzzer padahal merusak malah bangga, kita tidak jijik dengan kebusukan kita malah kita bangga mencari kesalahan orang lain lalu kita hantam dan ekspose serang beramai-ramai. Itulah tabiat buzzer yang hanya demi materi atau pengkultusan tokoh idola menjadikannya manusia yang suka mencaci maki lawan dan mencari kesalahan lawan. Apakah benar pedoman kita AlQur’an sementara faktanya kita malah berbalik dengan perintah AlQur’an? Wahai para Buzzer, tukang Fitnah, adudomba, pencacimaki dan framing berita apakah kalian itu Orang Islam? Jika itu kita maka ayo kita bertaubat dan memperbaiki diri.

Pelajarilah Surat Al Hujurat sebelum bermedsos. Ajarilah Surat Al Hujurat kepada adik-adik kita, teman-teman dan saudara semoga medsos ke depan lebih bijak, arif dan penuh hikmah.