Fase – Fase Perjalanan Cinta

oleh : Em Amir Nihat

Pada saat kita masih kecil. Cinta berporos pada ke-aku-an diri yang sifatnya sebentar. Misalnya aku cinta mainan. Saking cintanya pada mainan kita bahkan akan marah andai mainan kita direbut atau diambil teman kecil kita. Tapi cintanya pada mainan punya rentang waktu sebab ketika kita bosan kita sudah menganggap mainan itu biasa. Kemudian melihat mainan yang baru maka berubah cinta itu ke mainan baru. Begitulah seterusnya.

Umur bertambah. Masa remaja. Puber. Cinta yang dulu berkutat hanya soal mainan kini naik ke soal urusan asmara. Soal lawan jenis. Di masa peralihan ini rentang waktu cinta berubah . Kita berharap bisa mencintai pacar kita atau orang yang kita cintai itu selamanya. Di mabuk asmara. Tetapi dalam fase cinta ini masih ada unsur ke-akuan diri. Ada alasan mengapa kita bisa mencintai orang yang kita cintai. Misalnya karena fisiknya entah itu senyuman, tubuh dsb atau karakternya yang baik dan pintar dsb. Dalam fase peralihan ini cinta begitu indah. Bisajadi kita akan bergetar hatinya, deg-degan dan senyum-senyum sendiri membayangkan orang yang kita cintai. Tidak heran jika fase ini begitu dirindukan kelak karena memang fase pertama peralihan ekpresi cinta yang bisajadi tidak akan bisa dirasakan lagi di fase ketika sudah dewasa.  Ada yang mencintai di fase ini bisa sampai ke pernikahan. Ada juga yang gagal di fase ini dan tidak sampai di pernikahan.

Tetapi fase cinta ini belumlah matang karena masih mengandalkan keakuan diri. Bahayanya adalah realitas kehidupan ternyata tidak hanya soal urusan cinta lawan jenis semata. Ada urusan lain menyangkut kehidupan sosial kemasyarakatan yang lebih kompleks dan akan terus berdatangan.  Maka jika hanya mengandalkan unsur keakuan diri misalnya mencintai karena kecantikannya, hartanya atau keturunannya nanti akan kecewa karena unsur itu belum tentu bisa menjadi jawaban dari kehidupan sosial di masyarakat.

Maka Islam menawarkan jalan pilihan yakni mencintailah karena Agamanya sebab Agama akan menjadi penopang atau penyeimbang ketika nanti dihadapkan di kehidupan masyarakat yang kompleks. Orang yang hanya mencintai karena kecantikannya akan kecewa jika nanti pasangannya sudah tidak cantik lagi, orang yang mencintai karena hartanya akan kecewa jika nanti didapati hartanya habis dan orang yang mencintai karena keturunannya akan kecewa jika nanti faktor keturunan tidak menjawab persoalan kehidupan. Tetapi jika orang mencintai karena Agamanya ia tidak akan kecewa dari semua hal itu. Karena urusan pernikahan bukan soal cantik, harta, keturunan tapi tentang ibadah sepanjang hidup. Goalnya adalah ia siap senang dan susah bareng. Ia siap bersama-bersama berjuang. Artinya cinta sudah bukan tentang keakuan diri lagi tetapi berubah ke bagaimana pasangan bisa bahagia. Bukan menuntut tetapi memberi. Dari fase ini mulailah yang namanya cinta yang matang karena porosnya bukan ke-akuan diri lagi tapi berubah ke kita. Cinta yang bergaung dari unsur kebersamaan. Tidak ada lagi keegoisan tapi kebersamaan.

Pada fase selanjutnya ketika memiliki anak. Fase keakuan diri mulai menipis dan fase memberi mulai meningkat. Yang awalnya cinta hanya difokuskan ke pasangan akan beralih ke anak. Bukan hanya manusia bahkan hewan sekalipun siap rela berkorban supaya anaknya bisa makan dan bahagia. Lihatlah bagaimana induk ayam betina lebih merelakan anak -anaknya makan beras duluan daripada dirinya. Lihatlah bagaimana induk ayam betina akan marah andai ada orang atau ayam lain yang mengganggu anak-anaknya. Ia tidak melihat dirinya lagi tapi cintanya sudah berubah menjadi ekspresi memberi. Maka inilah definisi yang benar tentang Mencintai yaitu unsur berkorban dan memberi. Bukan lagi keakuan diri tapi memberi tanpa syarat.

Cinta yang berporos pada hal memberi tanpa menuntut balasan ini menurut hemat saya adalah contoh kecil dari manifestasi Cinta Allah pada MakhlukNya. Allah selalu memberi apa saja pada makhlukNya. Oksigen gratis. Makan. Minum. Dsb tidak mungkin bisa kita hitung nikmat Allah. Semua itu Allah gratiskan. Yang soleh tetap bisa bernafas. Yang ingkar tetap bisa bernafas. Inilah Allah yang Maha Rahman. Kasih Sayangnya luas ke semuanya.

Kembali ke fase cinta yang berporos pada memberi. Jika fase memberi disadari sebagai contoh kecil dari manifestasi Tuhan. Maka lanjut ia ke fase percintaan kepada Tuhan. Artinya karena ia sadar bahwa segala hal yang ia dapatkan adalah pemberian dari Tuhan maka ia ingin membalas cinta Tuhan. Ia jadi giat beribadah. Ia jadi lebih menghormati makhluk Tuhan. Ia lebih sayang pada Makhluk Tuhan. Goalnya adalah ia ingin kehidupan ini merupakan bentuk balas Cinta dirinya ke Tuhan. Ia tidak lagi hitung-hitungan dengan Tuhan karena ia sadar segala amal baiknya itu tidak akan cukup bahkan untuk membayar satu nikmat mata untuknya melihat. Dalam fase cinta ini disadari olehnya bahwa ia bisa beramal juga karena Anugerah dari Tuhan. Yang dia lihat hanya Cinta Tuhan semata.

Semoga saja Cinta kita sampai pada tahap itu yakni Percintaan kepada Tuhan sebab hanya Cinta kepada Tuhanlah yang bisa menopang percintaan lainnya. Aamiin.

Purwakarta, 5 Januari 2022

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s