Ragam Ekspresi Cinta kepada Nabi Jangan Dipertentangkan

oleh : Em Amir Nihat

Bulan Rabbiulawal dikenal dengan Bulan Maulid yakni Bulan Lahirnya Rosululloh Muhammad SAW. Beliau adalah manusia terbaik dan termulia yang mendapatkan amanat dari Allah sebagai Rahmatanlill’alamin yakni Rahmat seluruh alam. Seluruh manusia. Artinya kelahiran beliau adalah sebagai salah satu tanda Rahman-Nya Allah buat manusia apapun latar belakangnya, apapun warna kulitnya dan apapun suku adatnya. 

Rahman yang berarti kasih sayang yang luas buat siapa saja. Dengan begini jelas sudah bahwa Kelahiran Nabi mestinya membawa kepada kita yang mengaku umatnya agar memiliki perasaan bersyukur kepada Allah dan juga menjadikan kita semakin mahabah atau cinta kepada Rosululloh SAW. Ekspresi dari hal itu mestinya melahirkan sifat welas asih dan sayang kepada sesama manusia. Wujudnya bermacam-macam misalnya menyukai perdamaian, lebih suka persatuan, menjaga silaturahim antar manusia, peduli dengan nasib orang kecil dll.

Maka menjadi janggal bagi saya andai Kelahiran Nabi malah dijadikan ajang perdebatan perihal dalil. Misalnya ada yang berucap “Saya tidak merayakan Maulid” dengan alasan tidak ada dalil yang jelas. Saya membayangkan betapa hina dan kurangajarnya kita andai ucapan itu didengar oleh Rosululloh. Padahal Rosululloh pun menghormati dan merayakan hari lahirnya wujudnya beliau ekspresikan dengan puasa hari senin.  Sebagaimana sabda beliau :, “Itu adalah hari kelahiranku dan pada hari itu wahyu diturunkan kepadaku.” (HR. Muslim)

Gus Baha pernah dawuh tentang logika maulid. Misalnya seseorang bapak senang atas kelahiran anaknya, padahal anaknya tersebut belum tentu jelas nasibnya, tidak tahu apakah nanti jadi anak yang nakal atau tidak dan itu pun sudah senang. Sedangkan kelahiran Nabi yang jelas pasti membawa keselamatan di dunia dan di akherat malah disangkal. Malah diragukan. Kan aneh.

Lagi-lagi muara persoalan ini bisajadi berasal dari ibadah yang dipadatkan. Kalau dicari asbabulwurudnya tidak mungkin ada Muludan di zaman Rosululloh sebagaimana juga tidak mungkin Rosululloh mengisi kajian dengan media microphone, ibadah one week one juz, mengisi kajian lewat online, ceramah via youtube dsb. Rentang waktu dari era Rosululloh sampai hari ini seharusnya kita baca sebagai jalur media bukan taklid buta pada tekstualnya. Lihatlah isinya bukan bungkusnya. Artinya selama isinya sesuai AlQur’an dan Assunah maka selama itu pula ia dikategorikan sebagai ibadah.

Ekspresi merayakan Maulid pun bermacam-macam. Ada yang mengadakan Acara Muludan biasanya membaca Kitab Sejarah Nabi misalnya Maulid al Barzanji, Maulid Simtaudduror dll ( bisajadi mengapa ada yang kontra dengan Pembacaan Maulid pasti karena tidak tahu bahwa itu kitab sejarah Nabi hanya saja karena berbahasa Arab dikira hal yang baru padahal andai dijelaskan secara Bahasa Indonesia pasti tidak ada yang kontra sebab kitab itu menjelaskan sejarah perjalanan Nabi), ada yang dengan berbentuk pengajian atau kajian, Ada yang mengekspresikan dengan mengikuti Sunah Nabi saja, ada yang mengekpresikannya lewat tembang atau lagu bahkan ada kitab maulid berbentuk syair misalnya Maulid ad-Diba’ dll maka ekspresi ini tidak boleh kita pertentangkan dan tidak boleh kita salahkan sejauh isinya sesuai AlQur’an dan Assunah. Misalnya ada yang menggelar Acara Muludan ya silakan itu sangat bagus karena disitu ada pembacaan Al Qur’an, ada pembacaan sholawat, ada silaturahim, ada unsur saling berbagi sedekah karena biasanya di acara maulid ada berkat atau makanan, ada pembacaan sejarah Nabi yakni pembacaan kitab Maulid dan ada pengajian mauidhoh hasanah. Demikian juga yang tidak ikut muludan tetapi hanya mengamalkan sunahnya atau hanya membaca Sirah Nabi lewat terjemahan juga silahkan. Inilah persatuan. Inilah menghargai pendapat orang lain. Semua itu dalam rangka merayakan maulid. Memuliakan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Jadi, jangan sampai kita bilang “saya tidak merayakan maulid” sebab itu kurangajar dan su’uladab. Mestinya buat yang tidak ikut muludan, ucapannya bilang “Saya tidak ikut acara muludan tetapi saya merayakan maulid dengan cara yang lain.” Itulah ekspresi menghormati dan menghargai pendapat orang lain.

Kembali ke Maulid Nabi.  Gus Baha dawuh dari Sayyid Zabidi bahwa Umat Islam lebih tinggi derajatnya lebih cerdas akalnya daripada penggemar Nabi Isa AS karena yang mengkultuskannya berlebihan malah menjadikannya Tuhan yaitu Kaum Nasrani sedangkan yang membencinya dengan menuduhnya zina juga salah yaitu Kaum Yahudi. Umat Islam akan diselamatkan Allah dari kesalahan semacam itu berkahnya kalimat sholawat. 

Allahuma sholi ala muhammad. Saat kita membaca sholawat menunjukan tanda mahabah cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW juga sebagai pengingat bahwa  Allah sebagai  pemberi ( ditandai dengan kata “Allahuma” ) sedangkan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia paling layak menerima dari Allah ( ditandai dengan kalimat “Sholi ala Muhammad” ) sehingga siapapun saja umat Islam pasti tidak akan mendudukan  Nabi Muhammad SAW  sejajar dengan Allah. Artinya Nabi Muhammad tetap menjadi hamba dan Allah tetap sebagai Tuhan. Dan hal itu pula Umat Islam selamat berkah sholawat. Maka alangkah beruntungnya kita mempunyai Rosululloh SAW yang kelak semoga memberikan syafaatnya pada kita.

Maka sudahi perdebatan tidak kunjung usai perihal hukum merayakan maulid dan mulailah berlomba-lomba dengan memperbanyak sholawat. Berkah Sholawat, Kita akan Selamat. Yuk perbanyak membaca Sholawat dengan kesadaran bahwa Rosululloh akan memberi syafaat pada kita sehingga kita lebih khusyu dan dalam maknanya ketika membaca sholawat. Hadirkan sosok Rosululloh. Hadirkan ketawaduan kepada Rosululloh. Yuk Sholawat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s