Rasisme Sehari-Hari yang Tak Kita Sadari

oleh : Em Amir Nihat

Di sore hari, saya bersilaturahim ke rumah teman saya. Karena memang #dirumahaja di masa pendemi jujur sangat membosankan, jadi saya putuskan main saja ke rumah teman. Buat melepas penat. Tentu saya juga melakukan protocol covid19 yakni jaga jarak, cuci tangan andai memegang bagian wajah dan memakai masker.

Berita yang ramai dan terkini adalah tentang kasus rasisme di Amerika. Ah! Bukankah ada rasisme yang dekat di negara kita. Orang Papua dianaktirikan dan lihatlah bagaimana aparat memperlakukan Orang Papua, sungguh memuakan!

“Saya suka pewayangan, entah itu jalan ceritanya ataupun ukiran seninya sangat luhur dan tinggi tapi ada satu hal yang saya tidak suka. Yaitu kenapa buto atau orang jahat di pewayangan digambarkan berbentuk hitam, bertaring, gemuk dan matanya menyala merah sedangkan orang baik digambarkan putih, rapi, tidak bertaring dan mimiknya pun digambarkan tersenyum. Padahal lihatlah di kenyataan ! Bentuk fisik dan warna kulit sangat-sangat tidak bisa dijadikan acuan bahwa orang itu baik atau jahat. Disinilah wujud ketidaksetujuan saya, ada rasis disitu.” Ucap teman saya, kritis juga pikirku

“Tetapi bagaimana kita menghentikan rasisme ya? Maksudnya apa tidak ada nalar yang manusiawi bahwa siapapun itu entah beda suku, beda adat, beda agama bahkan beda warna kulitpun semua adalah manusia yang sama-sama memiliki hak untuk dihormati” Keluh saya sambil kebul-kebul rokokan, tentu ada kopi di obrolan kami.

“Mungkin sejak kecil kita emang dijejali fikiran rasis yang mengarah ke fisik. Lihatlah acara kartun atau power ranger. Bagaimana monster dibentuk bertaring, tidak proporsional, dan berkuku tajam sehingga mindset kita pun membentuk hal itu menyeramkan dan jahat, sedangkan orang baik dicitrakan keren harus ganteng, cantik dan atletis. Dariawal emang kita digiring kesana, Coba saya tanya sekali lagi, Ada tidak citra baik pada monster? Dengan sendirinya tanpa sadar memang acara-acara hero itu menggiring opini rasisme. Bahwa monster itu jelek dan jahat. Bahwa power ranger itu bagus dan baik. Memuakan, bukan?”

“Kalau pengin lebih dekat lagi bentuk rasisme dan citra fisik. Lihatlah di sosial media Instagram, Perempuan yang pamer payudara, bokong, kemolekan tubuh dan keseksian lebih banyak laku walau mereka tak menjual satupun pemikiran dan aksi sosial, ironisnya perempuan yang menggalakan aksi sosial, pemikiran, karya dan kreatifitas cenderung kurang laku dan jarang ditonton. Youtuber gila yang mandi dengan bakso, cendol dawet dan makan kecoa lebih banyak yang menonton daripada youtuber yang mengulas permasalahan-permasalahan terkini dan memberikan edukasi. Tontonan menjadi tutunan memang mungkin benar adanya dan tanpa sadar kita dituntun untuk menjadi lebih gila dan rasis. Pandai-pandailah memilih tontonan. Lindungi anak-anak dari tontonan yang tidak mendidik.”

“Stereotip terhadap suku tertentu adalah salah satu bentuk dari rasisme. Baca disini. Bagaimana stereotip yang prasangka itu bisa mengubah semua persepsi kita pada suku tertentu. Seolah semua seperti itu padahal lagi-lagi ini juga bentuk ketidakadilan. Tidak ada acuan yang logis hanya mengandalkan stereotip seharusnya acuannya obyektifitas.”

Saya melanjutkan bertanya, lumayan berbobot juga analisisnya. Saya gatel untuk bertanya kembali,

“Perkara rasisme berarti perkara kelas. Seolah ada manusia yang diunggulkan dan mengungguli manusia lain. Dulu di era sebelum kemerdekaan, Penjajah Belanda mempropagandakan kelas manusia. Belanda dan Eropa kelas satu, Arab kelas dua dan Pribumi kelas tiga. Demikian juga era penjajah Jepang juga melakukan propaganda superior jepang. Lalu bagaimana menumbuhkan kesadaran masyarakat kita agar tidak minder dengan orang asing?”

Teman saya berfikir sebentar, lalu menjawab

“Di Kitab suci dijelaskan bahwa semua manusia itu sama dimata Tuhan hanya Takwalah yang membedakan. Berarti keunggulannya bukan terletak di fisik, tahta, keturunan, ras, golongan, pintar, kaya, ataupun yang lainnya namun letaknya di taqwa yang bentuknya pasti amal sholeh. Berarti keunggulan manusia diletakan bagaimana ia berlaku menjadi manusia. Manusia yang menjalankan secara benar tugas sebagai khalifah dan manusia yang sebagai hamba Allah dan kedua hal itu menyatu dalam diri. Dan itulah pangkat tertinggi manusia. Sayangnya di kita sendiri masih labil mengenai ini. Warisan colonial masih terasa walau tak begitu kental. Kebanggaan akan suku, adat, harta, keturunan dan fisik itu semua harus dihilangkan. Menciptakan kesadaran bersama-sama. Poin pentingnya berusahalah dari yang kecil artinya tugas kita cobalah menumbuhkan kesadaran taqwa dan menghilangkan superior kebanggaan yang tidak adil. Sadarkan keluarga, saudara dan teman – teman. Kita mulai dari yang terkecil”

“Ah! Saya jadi teringat cerita adik saya saat liburan ke Jogja. Ia bertemu bule lalu gurunya malah yang ngajak minta foto dengan bule itu. Tidak salah memang minta foto tetapi harga diri kita mana? Bule itu bukan artis idola adik saya dan bukan pula tokoh penting. Artinya sama-sama manusia biasa. Ya jangan merendahkan martabat sendirilah. Adik saya mulai sadar bahwa yang ia lakukan adalah keminderan dan keanehan maka sekarang adik saya tidak minder lagi dengan siapapun kecuali yang lebih taqwa darinya. Saya merasa berhasil mempropagandakan perlawanan antirasis dan antikelas.”

Tanpa terasa Azan Asar sudah hadir di telinga kami, seketika kami diam dan menjawab azan kemudian kami menunaikan sholat asar. Kami sepakat bahwa keunggulan manusia bukan ada di harta, fisik, suku, pintar dan ras namun ada pada sejauh mana ia berlaku taqwa. Jangan biarkan rasis berkeliaran segera lawan. Kepalkan tangan kiri dan melawanlah !

5 tanggapan untuk “Rasisme Sehari-Hari yang Tak Kita Sadari

  1. Ya saya sangat setuju. Media memang memberi kontribusi besar gimana kita memandang ras. Aku suka bgt perumpamaan pewayangan yang kamu kasih. Padahal dalam dunia nyata, gak semua yang berbentuk hitam, badan besar (raksasa) adalah jahat. Tapi kalau di brainwash begitu dari kecil butuh waktu untuk un-brainwash.
    Saya jadi ingat pertama kali berkenalan dengan org amerika ber kulit hitam. Saya mikirnya dia preman jahat pemakai narkoba (seperti di film2 polisi amrik), ehhh ternyata orgnya lembut dan baik sekali. So don’t judge a book by its cover 👍

    Disukai oleh 1 orang

  2. Ya, saya ngeri lihat di Amerika. Rasisme menjalar di negara yg katanya paling demokrasi.. dari Marthen L.Kjr dan Nelson Mandela.. sekarang kita butuh banyak suara – suara kemanusiaan.

    Disukai oleh 1 orang

  3. 1. Bisa dimulai dari pendidikan di keluarga, ketika anak-anak masih kecil. Karena seperti yang pernah saya lihat beberapa kali, anak di bawah 5 tahun tidak pernah membedakan warna kulit ketika berteman.
    2. Dimulai dari keluarga juga berarti dimulai dari orang tua. Memang tidak semua orang tua sadar tentang dampak buruk rasisme. Maka bagi kita yang paham harus mengupayakan agar anak-anak kita bersikap dan berpikir rasis.
    3. Pendidikan formal. Sebagaimana yang pernah dikatakan Nelson Mandela (kalau tidak salah): pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk membuat perubahan.
    4. Dalam hal mengatasi rasisme melalui pendidikan formal, berarti para guru dan karyawan sekolah harus mendapatkan edukasi sedemikian rupa agar tidak bersikap dan berpikir rasis.
    Barangkali itu dulu urun saran dari saya 🙂🙂🙂

    Suka

  4. Ralat poin nomor 2.
    “Maka bagi kita yang paham harus mengupayakan agar anak-anak kita bersikap dan berpikir rasis.”
    Menjadi
    “Maka bagi kita yang paham harus mengupayakan agar anak-anak kita tidak bersikap dan berpikir rasis.”

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s