Sawang Sinawang

oleh : Em Amir Nihat

Suatu obrolan saat di tempat kerja,

“Enak ya. Si Anu kerjanya pagi terus gak kayak kita. Harus rela begadang. Harus bela-belain ngantuk” keluh Wigar dengan sawang sinawangnya

Jalayin merespon,

“Kalau membahas sawang sinawang pasti larinya orang lain lebih enak, lebih nikmat atau lebih bahagia. Sedangkan kita lebih sengsara, lebih gak enak atau merasa kurang lainnya. Jika ditelisik lebih jauh, aslinya sawang sinawang hanya dinilai dari satu sudut pandang yakni yang merasa kurang. Kekurangan dari logika ini adalah kita tidak mengalami dan merasakan 100% apa yang disawangsinawangkan. Artinya bisa jadi yang disangkakan itu tidak tepat bahkan bisa jadi salah. Ingat! “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Itu berarti kita harus tetap husnudzon pada apa yang menimpa kita dan kita cari hikmahnya.”

“Misalnya sawang sinawang kerja malam. Kalau kita husnudzon dan mencari hikmahnya maka orang yang kerja sift malam berpeluang lebih besar untuk bisa ibadah sholat malam , dzikir malam ( sambil kerja sambil berdzikir ) dan ia bisa beraktifitas lain di pagi hari yang tidak dimiliki pekerja pagi. Misalnya ia bisa menonton acara yang live di pagi hari dll. Ia punya kans peluang disitu yang tidak dimiliki pekerja pagi. Artinya kalau apapun yang menimpa kita itu dihusnudzoni dan dicari hikmahnya pasti hasilnya akan baik pada kita.”

Tingkas yang sedari tadi mendengarkan obrolan Wigar dan Jalayin, kini ikut diskusi.

“Saya jadi ingat Kisah Tsa’labah yang Meminta Rosulullah untuk mendoakannya jadi kaya raya padahal Rosululloh sudah mewanti-wanti Tsa’labah bahwa harta dan kekayaan bisa melalaikan. Akhir kisah Tsa’labah menjadi kaya raya dan ia yang pernah dijuluki “hamamatul masjid” ( merpatinya Masjid ) disebabkan rajin ibadah sholat jamaahnya, justru dengan kekayaan itu pula ia menjadi lalai ibadah bahkan sampai berani menghina Rosululloh SAW sampai Allah pun murka kepada Tsa’labah. Artinya kekayaan belum tentu baik dan kemiskinan belum tentu buruk. Jadi jangan beranggapan bahwa yang kaya raya pasti baik dan yang miskin itu buruk sebab Allah lebih tahu yang terbaik buat hambaNya. Saya setuju dengan Jalayin. Kita harus husnudzon pada setiap kejadian dan berusaha mencari hikmah-hikmahnya.”