Kiai Kampung dan Perjuangannya

oleh : Em Amir Nihat

Siang hari ini langit mendung dan hujan tampak sebentar lagi menyapa dengan tarian air derasnya, pun juga aroma petrikor akan hadir di nuansa.

Teman saya ( santri ) sedang bersilaturahim ke kosan saya. Entah gerangan apa tiba – tiba mau bersilaturahim. Semenjak menikah sepertinya baru kali ini ia mau main. Oh tampaknya karena istrinya sedang mudik. Baiklah, baiklah

” Seperti kita ketahui ilmu yang bersanad kan ya jalurnya lewat pesantren. Lewat ulama, lewat kyai. Apa pendapatmu tentang ustadz di tivi dan istilah kyai kampung?” Tanyaku

Dia tertawa sambil berfikir lalu menjawab,

“Kita belajar ngaji pertama kali lewat kyai. Belajar tata cara wudlu, tata cara sholat, baca Alqur’an dll kita diajari oleh kyai. Bisa dibilang kyai adalah peletak dasar keilmuan di desanya. Kemudian semakin tumbuh usia dan dewasa, banyak dari kita mulai mengenal ustadz-ustadz kondang. Ada yang dari tivi dan ada juga memang alim khas pesantren ataupun lulusan al azhar Mesir. Lalu kita kagum dan bangga dan bahkan menjadikan idola. Lambat laun seolah kyai terlupakan. Menurutmu bagaimana?” Teman saya balik tanya

Saya jawab setahu saya saja,

“Justru Kyai adalah the real ustadz. Kenapa? Karena kyai pula yang mengajarkan masyarakat bagaimana bersikap luwes dalam kehidupan. Misalnya kalau ke sawah ya memakai pakaian biasa saja, begitupun kalau sedang tidak mengajar tetap sederhana namun walau sederhana wibawanya tidak hilang karena kyai benar-benar menjaga akhlaknya. Namun walau sederhana soal keilmuan kyai boleh adu tanding dengan ustadz- usatadz tivi. Bandingan dengan ustadz tivi yang kemana-mana memakai jubah seolah butuh pengakuan, bukan hanya tidak mengajarkan empan papan tapi juga menghilangkan urgensi ustadz itu sendiri. Akhirnya gelar itu digunakan untuk mencari popularitas dan urusan dunia belaka. ”

“Kondisi ini diperparah dengan ketidakjelasan sanad dari ustadz tivi. Kalau mencerahkan dan mendamaikan saya setuju saja. Tapi kan ada tuh keilmuan tidak jelas, kata-katanya kasar dan cenderung memecah belah. Ini yang bahaya. Apalagi sekarang banyak kita temui ustadz-ustadz di medsos. Saya kira kita harus lebih hati-hati memilih ustadz. Pastikan yang sanad keilmuannya jelas.”

“Saya juga berpendapat sebaiknya kiai digaji oleh masyarakatnya. Misalnya setiap sebulan sekali atau dua minggu sekali masyarakat atau jamaah yang mengaji pada beliau memberikan sedekah sebagai utang rasa karena kiai telah mengajarkan ilmunya. Kiai mengorbankan waktu dan tenaga untuk umat tapi umat justru malah kebanyakan kurang perduli dengan kiainya. Malah cenderung melupakan. Miris.”

Teman saya punya pandangan lain,

“Justru kalau kita menilai balasan kiai harus dengan harta itu kita malah merendahkan derajat perjuangan beliau. Kiai sudah lillah malah kita paksa matrealistis. Kiai bertahun – tahun berjuang di jalan Allah tanpa pamrih dan ikhlas karena Allah diruntuhkan hanya gara – gara materi yang tak seberapa itu, kan rugi kalau berfikir akhirat. Keikhlasan itu derajatnya tinggi disisi Allah. Kiai yang beneran takan terpengaruh balasan. Artinya jika dikasih alhamdulillah jika tidak pun tidak masalah. Kalau kiai mentalnya mengharap upah tentu perlu dipertanyakan seberapa ikhlas ia berjuang lillah.”

Saya berfikir dan merenungi ucapan teman saya. Ada benarnya juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s