Review Buku : How the World Works karya Noam Chomsky

oleh : Em Amir Nihat

Judul Buku: How the World Works
Penulis: Noam Chomsky
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: I, Februari 2015
Tebal: xii + 444 hlm
ISBN: 978–602–291–059–6

.

.

.

Buku “How The World Works” karya Noam Chomsky pada dasarnya adalah empat karya klasik yang dirangkum dan dijilid jadi satu yaitu Apa yang Sesungguhnya Diinginkan Paman Sam, Yang Kaya Sedikit dan Yang Gelisah Banyak, Rahasia Kebohongan dan Demokrasi serta Kebaikan Umum. Kendati buku ini adalah hasil perbincangan dan wawancara yang terhimpun pada era 1990-an, pandangan Chomsky rupanya lebih mencerahkan daripada berita dan analisis teraktual.

Saya hanya akan mengambil kalimat-kalimat yang sekiranya masih relevan dan pas buat sekarang. Tentu semampu dan sekenanya saja.

Mari kita elaborasi…

Para pembuat kebijakan AS menyadari dengan baik bahwa AS muncul dari Perang Dunia II sebagai kekuasaan global pertama dalam sejarah. Atas pemahaman itu maka AS muncul sendiri seolah sebagai Polisi Dunia dan Kaisar Dunia yang berhak mengatur global. Kita bisa menyebut “Grand Area” sebagai wilayah yang harus tunduk pada kepentingan ekonomi AS.

Negara dunia ketiga ( diantaranya Indonesia ) akan memenuhi fungsi utama sebagai bahan mentah dan pangsa pasar bagi masyarakat industri kapitalis, sebagaimana mandat dalam memo Departemen Luar Negeri As pada tahun 1949.

Perang Vietnam muncul dari kebutuhan untuk menjamin fungsi-fungsi tersebut. Ancamannya bukan apakah mereka akan menaklukan pihak lain, melainkan bahwa mereka dapat menjadi percontohan berbahaya dari kemerdekaan nasional yang dapat menginsipirasi bangsa-bangsa lain di wilayah itu. Namun terbukti benar, bahwa setelah itu banyak yang ingin merdeka berdaulat dengan bangsanya sendiri.

Menteri Luar Negeri John F. Dulls pernah berujar kepada Presiden Einsenhower : “Anda harus menepuk pundak mereka sedikit dan membuat mereka menyangka bahwa anda sangat menyukai mereka.”. Kata ini semacam diklat sengkuni sebab untuk menjaga kekuasaan seringkali harus bisa mencitrakan diri sebagai pahlawan, orang baik ataupun sebagai pihak yang berhasil membuat suatu hal.

Kebijakan luar negeri pun bukan seberapa besar sebuah negara membutuhkan, namun seberapa besar kemauan mereka untuk melayani kepentingan pemilik modal.

Atas kebijakan luar negeri iti maka munculah analisis Noam Chomsky : Penyaliban El Salvador, Pelajaran untuk Nikaragua, Pembantaian di Guatemala, Invasi ke Panama, Perang Teluk dan Infiltrasi di Asia Tenggara.

Saya hanya akan membahas bagian di Asia Tenggara –

Siapa yang nurut maka aman siapa yang melawan maka akan ditumbangkan. Mungkin ini gambaran yang terjadi di Indonesia pada tahun 1965. Kudeta Soeharto disambut barat dengan senang hati sebab tumbangnya Soekarno yang dengan konsisten menolak dana barat berbanding terbalik dengan kebijakan Soeharto yang justru pro dengan investor. Dimulailah proyek Freeport masuk ke wilayah Indonesia.

.

.

.

Ketakutan AS pada komunisme sebab kekuatan ini dapat mengendalikan gerakan-gerakan masa untuk melawan sehingga harus dimusnahkan sebab demi melindungi doktrin bahwa kelompok kaya yang seharusnya menjarah kelompok miskin.

Istilah diskursus politik mempunyai makna yang berguna untuk melayani kekuasaan yakni makna doktrinal. Contohnya istilah demokrasi menurut kamus adalah sebuah masyarakat yang dapat dikatakan demokratis bila rakyat bisa berpartisipasi penuh untuk mengatur hubungan-hubungan mereka. Namun makna doktrinalnya adalah sistem yang merujuk pada keputusan yang dibuat oleh komunitas bisnis dan elit politik terkait sehingga aslinya masyarakat hanya berfungsi sebagai penonton aksi belaka.

Seorang ahli demokrasi bernama Walter Lippman mengatakan bahwa masyarakat diperkenankan meratifikasi keputusan terbaik para elite dan memberi dukungan tetapi TAK BOLEH ikut campur dalam persoalan yang bukan urusan mereka seperti kebijakan publik.

Sistem doktrinal tadi menghasilkan apa yang kita sebut propaganda yang memiliki dua target yang berbeda. Pertama yaitu kelas politis sekitar 20% dari populasi yang relatif terdidik. Mengendalikan mereka lebih baik daripada melawan mereka. Kedua yaitu para penonton 80% yaitu kawanan yang ikut arus dan terpesona. Mereka dianggap mengikuti aturan dan merek pula target dari media massa yang sesungguhnya yaitu : sitcom, super bowl, tabloid, acara tv dll.

Sistem ini menanamkan nilai sosial dasar yaitu kepasifan, ketertundukan pada otoritas, kurang perhatian pada orang lain ( apatis ). Tujuannya menjaga agar kawanan terpesona ini tetap saja terpesona sadar maupun tidak sadar. Pada kenyataannya jika mereka melihat realitas tentu bisa berpotensi adanya melakukan perubahan dan hal ini sama sekali tidak dikehendaki oleh para elit.

MEDIA

Media utama dikuasai oleh korporasi raksasa yang dimiliki oleh dan berjenjang dengan para konglomerat yang bahkan lebih besar lagi. Seperti korporasi lainnya mereka menjual produk kepada pasar. Pasar adalah para pengiklan yakni kelompok bisnis lain. Sementara, produknya adalah audiens Bagi para elite media yang merancang agenda dasar yang kemudian diadopsi media lain, produk itu, lebih jauh lagi adalah audiens yang secara relatif memiliki hak-hak istimewa.

.

.

.
Masih banyak analisis-analsis Chomsky yang begitu mendalam mengenai diskriminasi, perdamaian dunia dan ketidakadilan di negara-negara dunia ketiga. Teorinya seakan menjadi ramalan jitu bahwa beginilah cara dunia bekerja. Dan ia berhasil membuktikannya. Tertarik analisnya. Segere pesan dan merdekalah !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s