Belajar Sejarah Desa Kritig Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen

oleh : Em Amir Nihat

Saya sangat tertarik menulis sejarah desa saya. Tentang gambaran apa yang terjadi tempo dulu, sangat menarik dan terus menjejali pikiran penulis. Diputuskanlah bahwa tulisan kali ini akan membahas sejarah desa Kritig Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen. Buat pembaca juga penulis mengharapkan semoga tahu dengan seluk beluk dan sejarah dari desanya masing-masing.

Dirangkum dari situs sistem informasi desa kritig dengan alamat di kritig-kecpetanahan.kebumenkab.go.id dipaparkan bahwa secara historis Desa Kritig berawal dari peperangan antara pasukan Pangeran Diponegoro dengan penjajah Belanda yang terjadi di Daerah Banger ( sekarang masuk Desa Wajasari Kecamatan Adimulyo ). Jika dibeberkan dengan sejarah maka itu terjadi saat perang Diponegoro ( 1825-1830). Saat itu Pangeran Diponegoro ( Nama kecilnya Raden Mas Antawirya ) menyatakan bahwa perlawanannya adalah Perang Sabil. Disebutkan disana bahwa perang yang terjadi sangat dahsyat, maka para penduduk kemudian mengungsi atau hijrah ke Daerah Semingkir ( Yang sekarang masuk Desa Nampudadi ). Penulis berpendapat bahwa mungkin bukan murni mengungsi tetapi keadaan yang mengharuskan berpindah karena menggunakan taktik perang gerilya. Dari kejauhan terlihat gemridig/ berbondong-bondong maka daerah yang digunakan untuk lewat dan istirahat pengungsi dinamakan Kritig. Konon ceritanya yang Babad/trukah ( Wilayahan Trukahan masuk Desa Kritig paling barat ) adalah seorang tokoh bernama Hudrabanti dari Mataram ( kira-kira tahun 1825 ). Dan berhubung yang dianggap bijak dan bisa mengatur serta berpengalaman disegala bidang adalah Ny.Secadipa yakni istri dari Ranggadipura dari trah Mataram dengan demikian maka Nyi.Secadipa adalah lurah /kades pertama Desa Kritig yang memerintah tahun 1825-1890.

Desa Kritig terdiri dari banyak dukuh diantaranya Bulus, Kritig Pasar, Bak Prigi, Pedenokan, Mendit, Klapa sawit dan Trukahan. Lembaga pendidikan yang paling menonjol ada di dukuh Bulus yakni Yayasan Pondok Pesantren Darussa’adah yang didirikan oleh Alm. KH.Imam Muzani Bunyamin seorang tokoh alim kelahiran Cirebon.

Penulis yang kelahiran dukuh Mendit maka akan meniliti tentang dukuh Mendit saja.

Menurut penuturan Pak Ilyas yang sekarang menetap di Bengkalis, mendit dari kata diendit yang artinya melakukan suatu pekerjaan dengan serius alias temenan. Terbukti bahwa generasi awal dukuh mendit terkenal akan orang-orang yang alim dan pandai ilmu agama. Bukti konkritnya adalah didirikannya Pondok Pesantren Tegalsari yang kira-kira tahun 1923. Ada yang mengatakan 1922. Ada juga yang mengatakan 1925. Pengasuhnya bernama Mbah Kyai Hisyam yang merupakan tonggak ilmu di daerah tersebut. Dan yang paling unik adalah tidak adanya nama dari Masjid di Dukuh Mendit. Terhitung dari tahun 1925-2017 masjid mendit itu tanpa nama. Baru-baru ini saat ada acara safari subuh Bupati Kebumen tanggal 16 September 2017 diputuskan bersama bahwa nama masjid adalah Baiturrohman.

Lembaga atau organisasi yang masih eksis hingga kini diantaranya adalah Paguyuban Silat Turonggoseto asuhan Pak Satibi di dukuh Pedenokan, Hadroh Andalusia di dukuh mendit dan PutraSurya FC merupakan klub sepakbola di dukuh mendit yang markasnya di Lapangan Tukum. Lembaga pendidikan ada : SD N 1 Kritig, SD N 2 Kritig, Mts Darussa’adah, MA Darussa’adah dan Lembaga pengajian yang tersebar di masing-masing dukuh di Desa Kritig.

13 tanggapan untuk “Belajar Sejarah Desa Kritig Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen

  1. Pada tahun 1947 terjadi serangan belanda terhadap pasukan dari ponpes somolangu yang di pimpin h ali murtadho di desa kritig
    beliau gugur dan dimakamkan di desa kritig
    ada yang tau ceritanya….??

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s