Sejarah DI TII melawan PKI dalam Kaitannya Merebutkan Eksistensi Ideologi

oleh : Em Amir Nihat

Setelah  Indonesia memproklamasikan kemerdekaan ( 17 Agustus 1945 ) tentu Indonesia dituntut untuk memiliki barisan tentara karena Belanda tak kunjung jua angkat kaki dari bumi putera. ( Sejarah terbentuknya TNI baca disini : https://indonesiabaik.id/infografis/sejarah-berdirinya-tni )

Di era itu ada tiga elemen besar yang menaungi yakni Tentara Profesional  yang berasal dari orang – orang eks KNIL ( Diantaranya yang terkenal adalah Oerip Soemohardjo ),  Tentara Semi Militer yang berasal dari eks PETA ( Diantaranya yang terkenal adalah Jenderal Soedirman ) dan Laskar – Laskar yang Terdiri dari orang biasa yang tergabung dalam kelompok – kelompok laskar. Ada yang dari Kelompok Kanan yakni Laskar – Laskar berhaluan Islam dan Laskar – laskar Kiri berhaluan Komunis.

Kelompok- Kelompok laskar itu aslinya tidak bisa sepaham karena memang beda haluan. Artinya permusuhan orang Islam dan Orang Komunis itu sudah ada sejak zaman dulu. Hanya saja mereka tidak ribut satu sama lain karena dipersatukan oleh musuh yang sama yakni Belanda. Mereka sama – sama memerangi Belanda.

Masalah muncul ketika Sutan Sahrir dianggap gagal dalam perundingan Linggar Jati ( 11-15 November 1946 ) karena perjanjiannya terkesan menguntungan Belanda. Diantara isi Perjanjiannya adalah Pengakuan Belanda secara de facto atas eksistensi Negara Republik Indonesia yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura. ( Sejarah Perjanjian Linggar Jati baca disini : https://salamadian.com/perjanjian-perundingan-linggarjati/ )

Diantara yang paling keras menolak Perjanjian Linggar Jati adalah  Persatuan Perjuangan (PP) yang dipimpin oleh Tan Malaka dengan mendesak pemerintah bahwa perundingan ini hanya bisa dilakukan apabila ada pengakuan 100 persen atas Indonesia.

Akhirnya Sutan Sahrir Dipecat lalu digantikan oleh Amir Syarifudin ( Orang Kiri ) yang menginginkan agar revolusi digaungkan sepenuhnya oleh Rakyat. Rakyat ikut andil bagian dalam ketentaraan agar tentara tetap berdiri dengan rakyat dan tidak menjadi supra rakyat. Maka dimasukanlah faham – faham komunis dan sosialis ke tubuh tentara.  ( kelak ketakutan Amir Syarifudin bahwa Tentara bisa jadi alat penindas itu terbukti dengan berkuasaannya Soeharto menggunakan TNI sebagai tameng kekuasaannya baca disini : https://www.berdikarionline.com/amir-sjarifuddin-dan-rakyat-tentara/ ). Tetapi niat ini tidak diimbangi fakta bahwa mayoritas tentara adalah Islam yang barangtentu pasti akan menolak jika tentara dikomuniskan. Andaikan  komunisme di era itu hanya dijadikan metode saja bukan ideologi ( Tan Malaka menghendaki demikian ) tentu tentara yang mayoritas orang Islam akan mau karena hanya dipakai alat perjuangan saja. Bukan tujuan ideologi). Hanya saja yang terjadi di lapangan berkata lain. Paham – paham komunis masuk. Dan ada potensi mengganti ideologi bangsa yakni pancasila.

Ditambah lagi gagalnya Amir Syarifudin di Perjanjian Renvile diantara isinya adalah Wilayah Republik Indonesia yang diakui Belanda hanya Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Sumatera dan TNI harus ditarik mundur dari Jawa Barat dan Jawa Timur atau wilayah-wilayah kekuasaan Belanda.  ( Sejarah Perjanjian Renvile baca disini : https://regional.kompas.com/read/2022/01/23/181239178/perjanjian-renville-isi-tokoh-latar-belakang-dan-dampaknya-bagi-kedaulatan?page=all )

Maka Amir Syarifudin pun dipecat dan lobi – lobi politiknya yang menghendaki komunisme menjadi semakin sulit di kancah nasional. Malangnya lagi Amir Syarifudin tampaknya tidak lagi  memiliki simpati dari masyarakat karena dianggap gagal dalam perundingan Renville. Lalu Amir Syarifudin pun turun jabatan dan melakukan gerakan Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang kemudian bekerja sama dengan organisasi berpaham kiri seperti Partai Komunis Indonesia, Barisan Tani Indonesia (BTI), Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) dll. Kedekatan Amir Syarifuddin dengan tokoh PKI Muso dan bercita-cita menyebarkan ajaran komunisme di Indonesia dan propaganda kekecewaan terhadap Perdana Menteri selanjutnya yakni Kabinet Hatta

Nantinya Amir Syarifudin dan Muso dikenal melakukan Pemberontakan PKI di Madiun. Mereka berusaha menggulingkan Pemerintah Soekarno – Mohammad Hatta dan menggantikannya dengan ideologi Komunis dan membentuk negara Republik Indonesia Soviet, mengganti dasar negara Pancasila dengan komunisme.

Tapi kemudian pemberontakan ini bisa ditumpas oleh TNI. Ya. Setelah Perdana Menteri Amir Syarifudin lengser  digantikan oleh Muhammad Hatta yang mencoba mengembalikan lagi TNI seperti sedia kala maka anggota TNI yang tadinya diperkirakan 400.000an dipangkas tinggal 60.000an dengan alasan efisiensi. Muhammad Hatta yang politiknya condong ke Islam tentu tidak menghendaki tentara dikendalikan orang komunis.

Dari sinilah mulai perpecahan besar di kubu tentara karena perjanjian Renvile menuntut para tentara angkat kaki dari wilayah Belanda.  Akhirnya tentara pun mengungsi ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur taat pada Pemerintah tetapi Para laskar – laskar yang berada di Jawa Barat tidak mau mengungsi dan berpandangan itu sama saja tunduk pada Belanda. Para laskar ini berbeda pandangan dengan Pemerintah kala itu. Mereka  beranggapan berkhianat kepada Belanda bukan Pemerintah.

Berbeda dari Amir Syarifudin dan para pengikut komunisnya yang dianggap gagal, Pemberontak yang masih bertahan di Jawa Barat yakni TII dianggap masyarakat sebagai pejuang karena mempertahankan wilayah dan karena itu pula simpati rakyat kepada TII meluas di Jawa Barat. Sampai akhirnya Kartosuwiryo menyatakan membelot dan mendirikan NII tercetuslah akhirnya DI TII. ( Baca disini : https://historia.id/politik/articles/kartosoewirjo-dan-masyumi-DO4bq/page/1 ). Pemberontakan ini boleh dibilang berlangsung lebih lama daripada Pemberontakan PKI Madiun. Bisajadi karena latar belakangnya yang membawa Agama, mendapatkan simpati masyarakat karena dianggap berjuang membela rakyat dan serta mayoritas Jawa Barat yang notabene Muslim menjadikan isu Negara Agama lebih mudah dimasukan. Bahkan jika kita lihat sampai hari ini di Jawa Barat yang menang pemilu kebanyakan yang membawa nama partai Islam dan Jangan lupa DI TII markasnya di Gunung – Gunung sehingga terkesan tidak mengancam masyarakat. ( baca disini : https://hidayatullah.com/berita/nasional/read/2012/09/05/62177/kartosuwiryo-dinilai-pahlawan-indonesia-yang-telah-digembosi-sejarah.html )

Seiring berjalannya waktu. PKI yang sudah benar – benar tidak berdaya di kancah perpolitikan dan tidak memiliki simpati di masyarakat oleh DN Aidit, PKI perlahan – lahan bangkit dan mulai membesar. Bisa kita bilang DN Aidit ini jenius karena PKI yang  sudah habis malah tiba – tiba secara drastis kembali membesar  di kancah Politik semakin membesar bahkan masuk kembali ke jajaran partai besar dan jumlah pengikutnya juga besar.

Mereka berusaha melobi ke berbagai hal dan mereka pun beranggapan bahwa ekstrimisme DI TII harus ditumpas maka PKI mencoba menyusup ke tubuh DI TII. Ideologi PKI yang menghalalkan segala cara digunakan agar citra DII TII hancur. Mereka berniat meradikalkan DI TII. Mereka kemudian membunuh rakyat dengan bengis, membakar rumah – rumah rakyat dan menyalakan propaganda pengkafiran dan adudomba. Sayangnya, hal ini tidak disadari sejak awal oleh DI TII sehingga citra masyarakat kepada DI TII menjadi jelek. Ditambah memang banyak pengikut DI TII yang ikut terpancing dan merusak dan membakar rumah warga. Rakyat menjadi ketakutan. Kalau kita tanyakan kepada para kakek nenek kita di daerah Jawa Barat terutama Garut dan Tasikmalaya pasti mereka trauma dengan yang namanya DI TII. ( https://amp.tirto.id/zaman-kacau-balau-kala-kaum-kiri-menunggangi-gerakan-di-tii-djQk )

Citra DI TII yang sudah buruk di mata masyarakat kemudian mencapai puncaknya ketika Kartosuwiryo ditangkap dan diadili. PKI bersorak sorai karena musuh ideloginya berkurang satu. Kini musuh mereka tinggal orang – orang nasionalis.

Tetapi kemenangan PKI tidak berselang lama. Tentara yang melihat komunis semakin membesar dan mengancam Negara Indonesia memutuskan meminta kerjasama dengan eks DI TII untuk memberangus orang – orang PKI dengan imbalan jika berhasil nantinya akan difasilitasi oleh Negara segala keperluannya ( baca ini : https://historia.id/politik/articles/ketika-di-tii-memburu-pki-D8J2Q )

Terjadilah G 30 S PKI. Orang – orang PKI dibunuh semuanya. Genosida. Entah yang simpatisan atau pelopornya semua dibunuh. Inilah pembantaian terbesar di Sejarah Indonesia Modern. Tetapi jika kita lihat akar peperangan ini memang pemicunya adalah PKI tetapi kemudian melebar dan semakin tidak terkendali dan muncul berbagai motif. Dan di sejarah ini kita melihat bahwa betapa rakyat alias orang kecil sangat mungkin hanya dijadikan pion dari akar segala peperangan yang mengatasnamakan ideologi ini. Artinya lagi-lagi rakyat yang tidak tahu apa – apa itulah korbannya. Padahal puncak kejahatan tentulah para pemimpinnya, bukan ?

Setelah komunis hancur total di Indonesia kini yang bersorak sorai tentu eks DI TII. Dari sejarah ini pula kita lihat sampai hari ini ideologi atas nama DI TII masih dibiarkan berkeliaran bahkan memang tampaknya tidak akan diusut selama tidak menampilkan radikalisme karena bagaimanapun mereka juga berperan dalam penumpasan orang – orang PKI. Bahkan eks DI TII hari ini diberi perusahaan besar, ada yang boleh ikut partai politik bahkan sampai diberi tanah yang begitu besar untuk kepentingan kelompoknya ( baca ini : https://news.detik.com/berita/d-1628904/din-pemimpin-nii-kw-9-adalah-pemimpin-ponpes-al-zaytun ). Tapi tampaknya DI TII semenjak diberi fasilitas oleh Negara tidak berkeinginan untuk membelot bahkan memusuhi negara. Analoginya seperti ini, jika ada pencuri mau mencuri rumah kita lalu kita malah memberi pencuri itu sebagian dari rumah tentu pencuri menjadi respek kepada tuan rumah, bukan? Nah saya kira itu yang terjadi pada DI TII hari ini.

Semoga saja sejarah kelam perseteruan antar bangsa kita ini tidak terulang kembali sebab korbannya adalah rakyat banyak dan ironisnya siapa yang bisa mengambil celah untuk mengambil keuntungan akibat perpecahan itu pada akhirnya hanya segelintir orang saja.

Semoga saja kebhinekaan kita selalu kita jaga bahwa SARA ( suku, adat, ras, agama) itu adalah penopang persatuan kita sebagai Bangsa. Jangan mau diadudomba antar SARA. Bangsa ini sudah banyak bermandikan darah perpecahan dan semoga sebagai generasi bangsa kita mau terus menerus menggaungkan persatuan bangsa. Bhineka Tunggal Ika. Meskipun kita berbeda antar suku, adat, ras dan agama tapi rumah besar kita adalah Indonesia maka wajib menjaga dan merawatnya. Jika ada yang salah atau rusak kita perbaiki bersama-sama bukan merusaknya.

Tulisan sebelumnya : Murid Hos Cokroaminoto Berperang, Siapa yang Dipilih Indonesia ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s