Gelisah karena Belum dapat Jodoh

oleh : Em Amir Nihat

Hari -hari Jalayin dirundung kegelisahan. Diumur yang ke 26 tahun, ia masih sendiri. Masih menjomblo. Sementara banyak teman seperjuangannya sudah menikah dan dikaruniai anak. Hatinya gusar dan fikirannya mulai kacau balau. Sementara penyesalan masa lalu terus menggrogotinya.

Jalayin sudah mencoba usaha sendiri tetapi sering gagal. Pernah suatu ketika, ia berkenalan via medsos ternyata setelah bertemu berbeda jauh daripada yang ditampilkan di medsos, entah itu akhlaknya maupun parasnya. Media sosial itu topeng. Ia berkesimpulan demikian.

Lain waktu, ia mencoba meminta tolong orangtuanya untuk dicarikan pasangan hidup maka dicarikanlah oleh orangtuanya yaitu perempuan yang sedang mondok. Jalayin pun merasa senang bahkan katanya perempuan yang mondok ini orangnya baik, tidak neko-neko dan juga sedang menghafal al qur’an. Tambah bahagialah Jalayin. Namun nasib berkata lain, kebahagiaan yang ia fikirkan pupus seketika saat orangtuanya menelpon bahwa kata si ibu dari perempuan itu, untuk masalah jodoh sudah dipasrahkan oleh kyai pondok. Seperti tanda penolakan. Seketika angan menjadi buyar dan terbang ke langit hitam. Air mata menetes dan rencana itu pun gagal.

Jalayin yang kecewa dan marah dengan nasibnya kabur dari rumah. Ia membrontak. Ia mengembara.

Di tengah pengembaraannya, saat sedang istirahat di tepi jalan memergoki seorang kakek yang sedang menangis sesenggukan.

“Kenapa menangis, Kek?” Tanya Jalayin perlahan

“Saya sedang bahagia, anak muda. Sampai-sampai badan saya gemetar dan air mata tumpah seketika.” Ucap Kakek

Jalayin melihat Kakek dengan seksama. Bajunya compang – camping, rambut tidak karuan dan mungkin saja sudah berhari- hari tidak mandi. Mungkin gelandangan fikir Jalayin.

Dalam hati Jalayin merenung, “Saya nasibnya lebih baik dari kakek ini. Saya masih punya keluarga, masih punya pekerjaan dan makan juga bisa dibeli. Hanya gara-gara Jodoh belum datang. Saya lupakan nikmat yang besar itu. Astaghfirulloh. Maafkan hamba ya Allah”

Sang kakek tiba – tiba berucap dan seakan kakek ini tahu fikiran dari Jalayin. Weruh sadurunge winarah.

“Anak muda, tahukah kamu mengapa banyak manusia hatinya sumpeg dan gusar terutama urusan rezeki dan jodoh? Itu karena manusia terlalu mencampuri wilayah tanggungjawab Tuhan. Tuhanlah yang secara langsung menakdirkan manusia : umur, jodoh, rejeki dan maut. Empat hal itu tanggungjawab Tuhan pada makhluknya.”

“Anak muda, Jika kamu dikasih barang yang sama tetapi disuruh memilih antara dikasih oleh pak RT atau dikasih oleh Presiden, kamu lebih senang yang mana? Tentu lebih senang yang dikasih presiden. Karena tingkat kebanggaanya lebih. Itu baru presiden. Itu masih manusia. Padahaaaal Kita tiap hari diberi oleh Allah. Tuhan seluruh alam. Tuhan yang maha besar dan maha kuasa. Harusnya kita bangga dan bahagia sekali maka ucapkanlah hamdallah hadirkan perasaan itu. Bangga dan bahagia itu”

Jalayin terheran-heran karena kakek ini bertanya sendiri lalu dijawab sendiri tetapi entah kenapa perasaan hatinya mulai damai dan tentram. Ia bersyukur dan menangis haru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s