Surat Kecil dari Sahabat ( Jangan takut dengan terbenam karena terbit pasti akan datang )

oleh : Em Amir Nihat

Liburan panjang telah tiba dan entah sampai kapan pandemi ini akan usai. Orang – orang seolah tak perduli. Tidak memakai masker saat keluar rumah, tidak jaga jarak dan juga mungkin saja tidak cuci tangan. Ah! Aku sebenarnya muak akan kelakuan macam itu , Arindi. Bukankah dari dulu memang orang kita acuh tak acuh yang mungkin saja belajar dari para pemimpinnya yang acuh tak acuh pada rakyatnya? Atau andai tak mengandalkan para pemimpinnya dan menurutku memang lebih baik tidak usah terlalu mengandalkan para pemimpin, kita jalan saja menelurusi gelapnya kehidupan dengan “nrimo ing pandum” dan “alon-alon asal kelakon” ?

Pada musim libur macam hari ini banyak temanku yang mudik untuk pulang kampung. Suatu hari ada yang menanyakan padaku tentang mudik, Arindi. Dan kau tahu kan bahwa kata itu sudah hilang dari kamus kehidupanku semenjak rumahku penuh lumpur benci dan kasih sayang telah mati sejak dini? Aku muak, Arindi.

Aku akan bercerita sedikit tentang kehidupan keluargaku dan cerita masa kecilku. Semoga kamu mau mendengarkannya, Arindi. Aku tak tahu dengan siapa lagi aku ingin meluapkan segala keluh kesahku dan kemarin sore kamu ingin mendengar ceritaku. Aku bahagia sekali seperti kekasih yang mendengar pujian yang sederhana misalnya makanan bikinanmu enak atau kamu tambah cantik kalau tersenyum bla bla lalu tersanjung-sanjung dan terbang di angkasa raya. Hahaha. Ya! Semoga saja hubungan pernikahanmu langgeng dan dianugrahi sayap – sayap kebahagiaan setiap hari. Aamiin.

Aku pernah membaca bukunya Senopati Angon yang judulnya “Sayap – Sayap Kebahagiaan”. Ada dua poin besarnya menurutku : Sama – sama memberi dan sama – sama menguatkan. Ah indah sekali jika mengikuti alur ceritanya. Felix ( suami ) memberikan hadiah kepada ibu mertuanya karena cinta dan Josephine ( istri ) memberikan hadiah kepada ibu mertuanya juga karena cinta. Lain waktu, Josephine menunggu suaminya pulang hendak memberi kejutan menunggu di ruang tamu sampai tertidur sementara Felix karena pulang terlalu malam tidak enak membangunkan istrinya sehingga ia tidur di pintu. Lain kisah, Felix berucap adakah yang lebih indah dari suara amiin saat kita beribadah bersama pasangan kita? Saat Josephine sakit, Felix merasa ikut sakit sehingga ia curahkan segala hal demi kesembuhan istrinya sampai ia melupakan dirinya sendiri. Alangkah romantisnya. Menunjukan bahwa menikah itu bukan mencari bahagia tetapi bersama berjuang saling memberi kebahagiaan. Indah seindah-indahnya sesayang sayangnya. Juga diceritakan di novel bahwa Josephine anak terakhir di keluarganya sehingga banyak syarat yang diajukan Josephine, salah satunya maukah Felix tinggal di rumah keluarga Josephine. Sebelum menikah mereka mendiskusikan banyak hal. Dari perkara mau tinggal dimana, resepsinya bagaimana, mas kawinnya berapa, siap susah senang bareng apa tidak, mereka juga menceritakan kekurangan masing-masing karena sadar bahwa membohongi dengan kelebihan akan menjadi masalah, dll. Mengajarkan bahwa menikah memang harus dirumuskan dan didiskusikan. Berapa banyak keretakan rumah tangga akibat lupa tidak mendiskusikan hal – hal tersebut? Aku menceritakan hal ini bukan untuk menakutimu tapi untuk menguatkanmu, Arindi.

Diumur dua puluh lima ini bebanku makin berat saja, Arindi. Kau tahu betapa jahatnya masyarakat jika mendengar perempuan belum menikah diumur itu kan? Ah sudahlah.. Aku cerita saja langsung.

Sejak kecil aku merasa belum pernah memiliki apa itu kasih sayang dari orang tua. Ibuku sering sakit-sakitan dan bapak jarang pulang serta mereka sering cekcok di depan anak-anaknya. Aku sejak SD sampai SMA dipondokan oleh orangtuaku. Dan kau tahu apa yang paling aku benci, Arindi? Mereka tak sekalipun mengunjungiku, seolah dengan mereka mengirim uang sudah beres. Aku iri melihat orang lain bisa dengan mudahnya punya tempat pulang, tempat menceritakan banyak hal, tempat berbagi dan tempat kasih sayang bahkan aku merasa orangtuaku menelantarkanku dan adik-adikku. Dari kisahku ini aku janji kepada diriku sendiri, Arindi. Kelak jika aku sudah berumah tangga aku akan mencurahkan kasih sayang pada anak-anakku dan kalaupun ada masalah dan marah jangan sampai anak-anak tahu. Cukup aku saja yang mengalami pahitnya kehidupan ini.

Baru-baru ini aku menyadari sudut pandang lain, Arindi. Ya! Kehidupanku yang berat waktu itu dan pengalaman belajarku di pondok pesantren meskipun pahit mengait namun jika aku mengenangnya aku justru merindukannya. Pelajaran kehidupan yang benar-benar mendewasakanku. Aku jadi tahu ilmu agama, pertemanan yang sejati dan bagaimana bersosial dengan orang lain.

Aku bersyukur bisa kuat menghadapi pada titik itu karena ternyata banyak orang yang gagal dan hancur ketika melewati titik itu. Berapa banyak perempuan yang menjadi hancur karena broken home lalu terjun ke dunia hitam? Jika kamu temui perempuan melacur dan menjadi penghibur salah satu penyebabnya adalah karena ia tidak memiliki kasih sayang di dalam rumah. Aku jadi tahu dan mengerti sekarang Arindi betapa kasih sayang keluarga itu amat sangat penting. Anak terlalu dimanja nanti anak jadi lemah mentalnya tapi jika terlalu keras pada anak nanti malah anak cari pelarian di luar rumah. Betapa krusialnya sebuah bangunan rumah tangga, maka sebagai sahabat karibmu aku berpesan Jagalah baik-baik keluargamu. Anakmu nanti jangan terlalu dimanja, jangan terlalu keras yang sedang-sedang saja. Aku pun berharap buat perempuan lain yang sedang mengalami broken home. Jangan menyerah , segera bangkit dan carilah teman yang bisa mengangkatmu dan menguatkanmu . Pada titik ini teman sangat mempengaruhi maka carilah teman yang baik. Seberat apapun masalah, jangan lari ke teman dan lingkungan yang buruk. Jangan takut dengan terbenam karena terbit pasti akan datang. Sudahi dan berbenah dirilah lalu bangkitlah.

Aku pun menyadari satu hal penting, Arindi. Pada momen rumit dan pelik kala itu, tidak melulu menyelesaikan masalah yang bisa menenangkan. Kita bisa mengobrol dan curhat kepada seseorang yang layak kita percayai itu ternyata menyembuhkan. Aku pun merasa disembuhkan olehmu. Terima kasih.

Dan tidak melihat nikmat orang lain ternyata jauh lebih menenangkan. Ya! Membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain itu melelahkan dan kita sering kecele karena hanya melihat luarnya saja. Artinya sangkaan kita seolah orang lain lebih bahagia kemungkinan banyak salahnya. Toh, betapa sia-sianya kita membanding-bandingkan karena memang tidak merubah apa yang terjadi, kan? Jadi jangan melihat nikmat orang lain.

Satu lagi pesanku, Arindi. Mensyukuri apa yang terjadi dan apa yang kita punya walau beratpun itu ternyata sangat menyenangkan dan membahagiakan. Aku mengalami hal itu. Terimakasih karena kamu mau mendengar keluh kesahku. Aku sangat bersyukur punya teman sebaik kamu, Arindi. Love you.😘😘😘

dari Sahabatmu,

Maryam

3 tanggapan untuk “Surat Kecil dari Sahabat ( Jangan takut dengan terbenam karena terbit pasti akan datang )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s