Sejarah Masjid Mendit dan Simbah KH. Hisyam, Kritig Petanahan Kebumen

oleh : Khisnul Ma’mun bin Hadid

Simbah KH. Hisyam adalah putra asli Mendit yakni sebuah Dukuh di Desa Kritig , Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen. Beliau putra Simbah Hasan Munawi, seorang ulu-ulu Desa Kritig pada zaman itu. Silsilah urutan nasabnya bersambung sampai Syaikh ‘Abdul Fattah ( makamnya di Dukuh Sentul, Nampudadi ). Syaikh ‘Abdul Fattah adalah seorang ‘Ulama utusan dari Kerajaan Demak Bintoro yang diutus langsung oleh Raden Fattah untuk mendakwahkan Islam di wilayah Kerajaan Singosari namun karena mendapat penolakan
sehingga beliau memutuskan hijrah dan mengembara sampai ke sebuah daerah yang bernama Sentul ( dulu masuk wilayah Paku Alaman,
Yogyakarta ). Dari Yogyakarta kemudian pergi lagi melanglang buana ke arah barat sehingga sampailah di sebuah desa yang bernama Sentul dan memutuskan menetap disana untuk mendakwahkan agama
Islam.

Berikut silsilah Simbah KH. Hisyam sampai Syaikh ‘Abdul Fattah :

KH. Hisyam bin Hasan Munawi bin Mbah Luncub bin Mbah Linggis bin Mbah Raden Mas Bei Wanantaka bin Syaikh ‘Abdul Fattah

Simbah KH. Hisyam merupakan santri dari Simbah KH. Ibrohim Nuruddin ( Lirap, Banjarwinangun ) yang merupakan Pendiri Pondok Pesantren Miftahul ‘Ulum Lirap sedangkan Simbah KH. Ibrohim Nuruddin Lirap merupakan menantu dari Simbah KH. Abdurrohman, Pendiri Pondok Pesantren Al-Huda, Jetis, Kebumen, Jawa Tengah karena Simbah KH. Ibrohim Nuruddin dinikahkan dengan putri dari Simbah KH. Abdurrohman yaitu Simbah Nyai Siti Maimunah dan Simbah KH. Hisyam dinikahkan dengan putri Simbah KH. Ibrohim Nuruddin Lirap yaitu Simbah Nyai Siti Jauhariyyah.

Setelah menikah, Simbah KH. Hisyam dan Simbah Nyai Jauhariyyah menetap di Mendit, dan mendirikan Pondok Pesantren “Tegal Sari” dengan jumlah santri yang cukup banyak pada saat itu yaitu sekitar 400an santri dari berbagai macam daerah.

Masjid Jami’ Mendit sendiri didirikan pada tahun 1925 M oleh Simbah KH. Hisyam beserta masyarakat Mendit pada saat itu di atas tanah wakaf dari Hajah Sumir yang sudah hijrah dan menetap di Singapura beserta anak keturunannya.

Masjid mendit dahulunya merupakan tanah angker dan ada sebuah pohon besar yang sekarang sebagai Mihrob (pengimaman) masjid Mendit, dulunya pohon besar tersebut dijadikan sebagai tempat pemujaan dan sesajen oleh masyarakat Mendit yang pada saat itu masih belum memeluk agama Islam. Jin-jin penghuni pohon dan tanah angker tersebut dibuang (digendhongi) oleh Simbah KH. Hisyam ke tempat lain.

Semenjak berdirinya Pondok Pesantren memang belum pernah diberikan sebuah nama. Belakangan ini Berdasarkan musyawarah pengasuh Masjid, yaitu KH. Hajib, K. Hadid, K. Mahasim dan saya sendiri ( Khisnul Ma’mun ) ikut menyaksikan, atas usulan dari K. Hadid (Nama Masjid Baiturrohman dan direstui oleh KH. Hajib), maka diputuskan mulai hari Ahad, 26 Dzulhijjah 1438 H atau 17 September 2017, Masjid Mendit bernama Masjid Jami “Baiturrohman”. Peresmian nama tersebut berbarengan dengan acara Subuh Berjama’ah yang merupakan program dari Bapak Bupati Pak Fuad dan Wakil Bupati Gus Yazid Machfudz.

Santri – Santri Simbah KH. Hisyam yang menjadi seorang ‘Ulama dan mendirikan Pondok Pesantren :

1. Simbah KH. Zainuddin, pendiri Pondok Pesantren “Riyadlotul ‘Uqul, Nampudadi, Petanahan, Kebumen, Jawa Tengah

2. KH. Tahrir Jombor, Pendiri Pondok Pesantren Jombor, Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah

3. KH. Ali Zain, Pendiri Pondok Pesantren Kalirejo, Kebumen, Jawa Tengah

Dan lain-lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Simbah KH. Hisyam dikaruniai enam putra yaitu :
1. Simbah K. Baqir (Mendit)
2. Simbah K. Slamet Jaenuri (Poso, Sulawesi)
3. Simbah Dirhamah (Bengkalis, Riau)
4. Simbah K. Anwar (Lirap)
5. Simbah Muslihah (Majenang)
6. Simbah K. Nasir (Lirap)

Simbah K.H Hisyam wafat pada tahu 1943 diumur 50 tahun dengan meninggalkan keluarga dan anak- yang masih kecil, sehingga menyebabkan tidak terawatnya Pondok Pesantren Tegalsari. Sebagai penerus perjuangan Simbah K.H Hisyam adalah Simbah K. Baqir yang memiliki tiga putra, yaitu:

1. Bu Ny. Hj. Badiroh (Tanuraksan)
2. KH. Khajib (Mendit)
3. K. Khadid (Mendit)

2 tanggapan untuk “Sejarah Masjid Mendit dan Simbah KH. Hisyam, Kritig Petanahan Kebumen

  1. Assalamualaikum Wr. wb
    Maaf sebelumnya, saya Siti Badiroh Massrurotul Basariah,lahir dan tinggal di bengkulu. Tp org tua sy dr kebumen, dlu tinggal di dukuh sentul nampudadi. alm. Bapak sya Mochammad Ramalan bin haji M. nur,, beliau meninggalkan silsilah keluarga ada nama2 dr Raden patah,mbqh luncub dan mbah linggis..
    maaf Apakh kami msih ada hubungan dgn KH. Hasyim yg disebutkan dsini ya? Sy ingin bertanya tp bpk sya sdh berpulang.. 🙏🙏

    Disukai oleh 1 orang

  2. Wa’alaikumsalam.. dm aja ya bu.. nanti saya tanyakan ke Gus saya. Itu tulisan Gus Khis.. anak dari Kiai Hadid yang masih keturunan dari Mbah Luncub dan Mbah Linggis..🙏

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s