Ngaku Saja, Aslinya Kita Ini Pelit !!!

oleh : Em Amir Nihat

Ketika sedang nongkrong setelah sholat tarawih, tiba – tiba teman saya nyletuk dan berucap,

“Ngaku saja. Aslinya kita ini pelit. Kita tidak pernah mau mengeluarkan zakat mal dan zakat profesi. Saat mengeluarkan sedekah pun palingan jumlahnya sangat kecil sekali. Seribu atau lima ribu belum sesuai dengan hitungan yang semestinya.”

Saya seperti tersambar petir, kaget bukan main karena itu nyata adanya. Pelit dan menumpuk harta seolah menjadi prioritas di dunia. Melupakan hak harta yakni disantunkan untuk fakir miskin.

“Ada khilafiah mengenai zakat profesi. Ada yang tidak mewajibkan, dasar hukumnya menunggu mencapai nisab dan sudah sampai setahun ( haul ). Ada juga yang mewajibkan dasarnya juga ada banyak hadits yang menerangkan.” Saya menjawab sebisanya. Pura – pura sok tahu.

Lalu teman saya berkilah,

“Boro – boro ngitung sudah mencapai nisab dan sudah setahun. Jarang sekarang orang mau ngitung gituan. Itulah yang saya khawatirkan, kita ini memang aslinya pelit dan sibuk menumpuk harta demi kepentingan sendiri. Asal keluarga kaya raya dan sejahtera itu yang difikirkan. Beli motor, beli mobil, beli rumah menumpuk harta yang banyak. Tak pernah Sekalipun memikirkan nasib orang – orang kecil, anak – anak jalanan, orang miskin.”

“Itulah mengapa harta kita tidak berkah. Gaji gede tapi hilang entah kemana. Uang ada tapi tak merasakan rasa syukur yang sebenarnya. Bisa beli apa – apa tapi seolah tidak ada kegembiraan didalamnya. Memiliki harta tapi tak merasakan kemanfaatannya. Dan yang paling mengerikan jika putaran dunia ini menyeret sejadi-jadinya laku hidup kita seolah kitalah yang dijajah oleh harta dan dunia. Tanda – tanda itu sudah nyaring terdengar di telinga orang – orang kaya.”

Saya kemudian bertanya, “Apakah harta bisa dibawa mati?”

“Bisa. Bahkan harta adalah salah satu pertanyaan kelak di yaumul hisab. Harta didapat dari mana dan harta digunakan untuk apa. Kebanyakan orang hidup di dunia pasti ingin kaya tetapi jika dilihat dari sudut pandang akherat justru harta kelak akan membebani pertanggungjawaban. Jadi, orang yang kaya raya dan menikmati fasilitas mewah kelak akan dipertanggungjawabkan perbuatannya. Jika seperti ini, di dunia orang boleh kepengin kaya tapi nanti di akherat si kaya yang dzolim pasti ingin miskin.”

“Demikian juga sedekah pun ada runtutannya. Dari keluarga lalu saudara lalu fakir miskin. Artinya sebelum kita sedekah ke orang lain pastikan dulu keluarga dan saudara. Andai semua berfikir seperti ini niscaya tidak ada orang miskin karena yang kaya pun membantu. Namun fakta di kenyataan lain, yang kaya makin kaya yang miskin tambah miskin. Masalahnya bisa jadi karena si kaya yang pelit dan berlaku dzolim. Tidak mau mengeluarkan kewajibannya yakni sedekah.”

Saya tercengang dan seperti tersambar petir lagi. Saya merasa yang dikatakannya benar. Jangan – jangan banyak harta saya yang tidak berkah. Jangan – jangan kesedihan dan kepiluan hidup ini berawal dari harta yang tidak berkah.

4 tanggapan untuk “Ngaku Saja, Aslinya Kita Ini Pelit !!!

  1. Dalam buku fiqih zakat karya DR Yusuf Qaradlawi. bab zakat profesi dan penghasilan, dijelaskan tentang cara mengeluarkan zakat penghasilan. Kalau kita klasifikasi ada tiga wacana: 1. Pengeluaran bruto, yaitu mengeluarkan zakat penghasilan kotor. Artinya, zakat penghasilan yang mencapai nisab 85 gr emas dalam jumlah setahun, dikeluarkan 2,5 % langsung ketika menerima sebelum dikurangi apapun. Jadi kalau dapat gaji atau honor dan penghasilan lainnya dalam sebulan mencapai 2 juta rupiah x 12 bulan = 24 juta, berarti dikeluarkan langsung 2,5 dari 2 juta tiap buan = 50 ribu atau dibayar di akhir tahun = 600 ribu. Hal ini juga berdasarkan pendapat Az-Zuhri dan ‘Auza’i, beliau menjelaskan: “Bila seorang memperoleh penghasilan dan ingin membelanjakannya sebelum bulan wajib zakat datang, maka hendaknya ia segera mengeluarkan zakat itu terlebih dahulu dari membelanjakannya” (Ibnu Abi Syaibah, Al-mushannif, 4/30). Dan juga menqiyaskan dengan beberapa harta zakat yang langsung dikeluarkan tanpa dikurangi apapun, seperti zakat ternak, emas perak, ma’dzan dan rikaz. 2. Dipotong operasional kerja, yaitu setelah menerima penghasilan gaji atau honor yang mencapai nisab, maka dipotong dahulu dengan biaya operasional kerja. Contohnya, seorang yang mendapat gaji 2 juta rupiah sebulan, dikurangi biaya transport dan konsumsi harian di tempat kerja sebanyak 500 ribu, sisanya 1.500.000. maka zakatnya dikeluarkan 2,5 dari 1.500.000= 37.500,- Hal ini dianalogikan dengan zakat hasil bumi dan kurma serta sejenisnya. Bahwa biaya dikeluarkan lebih dahulu baru zakat dikeluarkan dari sisanya. Itu adalah pendapat Imam Atho’ dan lain-lain dari itu zakat hasil bumi ada perbedaan persentase zakat antara yang diairi dengan hujan yaitu 10% dan melalui irigasi 5%. 3. Pengeluaran neto atau zakat bersih, yaitu mengeluarkan zakat dari harta yang masih mencapai nisab setelah dikurangi untuk kebutuhan pokok sehari-hari, baik pangan, papan, hutang dan kebutuhan pokok lainnya untuk keperluan dirinya, keluarga dan yang menjadi tanggungannya. Jika penghasilan setelah dikurangi kebutuhan pokok masih mencapai nisab, maka wajib zakat, akan tetapi kalau tidak mencapai nisab ya tidak wajib zakat, karena dia bukan termasuk muzakki (orang yang wajib zakat) bahkan menjadi mustahiq (orang yang berhak menerima zakat)karena sudah menjadi miskin dengan tidak cukupnya penghasilan terhadap kebutuhan pokok sehari-hari. Hal ini berdasarkan hadits riwayat imam Al-Bukhari dari Hakim bin Hizam bahwa Rasulullah SAW bersabda: “…. dan paling baiknya zakat itu dikeluarkan dari kelebihan kebutuhan…”. (lihat: DR Yusuf Al-Qaradlawi. Fiqh Zakat, 486) Kesimpulan, seorang yang mendapatkan penghasilan halal dan mencapai nisab (85 gr emas) wajib mengeluarkan zakat 2,5 %, boleh dikeluarkan setiap bulan atau di akhir tahun. Sebaiknya zakat dikeluarkan dari penghasilan kotor sebelum dikurangi kebutuhan yang lain. Ini lebih afdlal (utama) karena khawatir ada harta yang wajib zakat tapi tapi tidak dizakati, tentu akan mendapatkan adzab Allah baik di dunia dan di akhirat. Juga penjelasan Ibnu Rusd bahwa zakat itu ta’bbudi (pengabdian kepada Allah SWT) bukan hanya sekedar hak mustahiq. Tapi ada juga sebagian pendapat ulama membolehkan sebelum dikeluarkan zakat dikurangi dahulu biaya operasional kerja atau kebutuhan pokok sehari-hari. Semoga dengan zakat, harta menjadi bersih, berkembang, berkah, bermanfaat dan menyelamatkan pemiliknya dari siksa Allah SWT. Amiin ya mujibas sa`ilin.

    Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/9814/cara-menghitung-zakat-profesi

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s