RKB 30 : Virus Minder Orang Indonesia

oleh : Em Amir Nihat

Sudah lama Chairil, Tan dan Pak Cokro tidak melingkar. Tidak rembugan. Tidak curhat permasalahan sosial. Atas dasar pertimbangan itu mereka memutuskan untuk berkumpul kembali.

Apalagi suasana setelah pilpres kali ini yang disinyalir bisa memecah belah bangsa. Bagaimana tidak, semua mengklaim menang. Kita tidak melihat Negarawan yang kita lihat seolah para pemimpin yang rebutan kekuasaan dengan ribut. Padahal, kalaupun kalah semestinya harus legowo sedangkan kalau yang menang juga jangan sombong dan bangga sebab hakikatnya itu amanat yang berat.

Tetapi dari dulu sepertinya begitu, yang kalah selalu saja menyalahkan KPU sedangkan kalau menang ya bangga setengah mati. Saya kira kalaupun posisinya dibalik juga sama saja, di dunia politik kawan dan lawan tidak jelas. Sekarang kawan, besok lawan. Dulu dihina, sekarang dijunjung mati-matian.

Apalagi peran para buzzer yang terus perang di medsos menambah runyam masalah seakan-akan kita diadu sebagai Bangsa.

“Biarlah orang partai yang ribut. Kita sebagai rakyat jangan mau dibodohi toh yang kita bela juga tidak bisa menyelesaikan permasalahan kita. Rakyat jangan sampai mau diadudomba. Dijadikan pion sebagai sarana menuju kekuasaan. Berdaulatlah. Ingat! Sebagai rakyat kita harus fokus jangka panjang yakni menjaga persatuan, perdamaian dan bangsa ini.” Ucap pak Cokro

Chairil merespon,

“Bagaimana kalau kita bahas yang lain saja. Malas mbahas pilpres terus. kalau kita mbahas mengapa Rakyat indonesia kok sepertinya minder sebagai Bangsa Indonesia?”

Tan yang kali ini memakai kaos yang ada gambar rumah adat toraja, juga merespon :

“Miris! Hanya karena melihat Orang Bule atau turis asing masih banyak dari kita yang minta foto seolah Orang Bule atau Turis Asing itu lebih tinggi derajatnya dari kita. Bahkan ada saja Guru yang menyuruh muridnya minta foto seolah Bule lebih superior. Jangan lakukan lagi! Sebagai Bangsa Indonesia kita berdiri sama sederajat dengan Bangsa Lain. Bahkan Allah pun tidak memandang wajah, suku, ras, adat atau apapun. Yang Allah pandang adalah ketaqwaannya. Artinya, Jangan sampai kita berkecil hati dan minder sebagai Orang Indonesia sebab di mata Tuhan semua sederajat.”

“Bangga yang salah lagi adalah ketika Nama Indonesia atau Nama Kota di Indonesia disebut di film Barat seolah Barat sebagai acuan film dunia bahkan kita pun malas mempelajari bahwa Hollywood bukan hanya menjual film, juga menjual budaya ditambah sokongan Negara pada industri film itu sehingga penguasaan film dunia ditangan Hollywood. Walhasil, Di dalam Negri pun Film Asli Indonesia menjadi tamu dan diremehkan kualitasnya. Lalu pertanyaannya, bagaimana bisa kita maju jika kita hanya menghina dan membulli saja tanpa mau mensuport dan memberi saran serta mendukung. Kita bisa baca Buku “Menjegal Film di Indonesia”.

Pak Cokro bertanya,

“Benang merahnya adalah globalisasi. Bagaimanapun media juga berperan dalam masalah ini. Perang budaya dan perang teknologi”

Chairil yang tadi menyimak kini ikut merespon,

“Indonesia adalah Rumah bagi Orang Jawa, Orang Sunda, Orang Madura, Orang Batak, Orang Aceh, Orang Papua, Orang Badui, Orang Minang dsb. Namun apa yang ditampilkan di televisi seolah berita Indonesia hanya Jakarta sehingga Orang diluar Jakarta yang aslinya tidak punya kepentingan malah ikut-ikutan nimbrung.”

“Setiap daerah semestinya harus mengutamakan berita di daerahnya sehingga informasi lebih relevan dan bisa menjadi solusi, namun apa jadinya jika berita di Jakarta dikonsumsi masyarakat Ambon tentu malah bisa mereduksi permasalahan yang seharusnya dibahas di daerah itu malah tidak dibahas. Dan semestinya sebagai rakyat kita faham akan hal ini. Bahwa berita utama yang seharusnya kita konsumsi adalah berita di daerah kita masing-masing. Jangan sampai Jakarta sentris melalaikan kita pada permasalahan di daerah kita masing-masing. Bisakah Televisi dan Media menjawab permasalahan Jakarta sentris ini ?”

“Apalagi iklan banyak yang tidak pas dengan budaya kebiasaan kita. Misalnya iklan kosmetik. Para produsen pasti setuju dan senang melihat wanita tidak percaya dengan dirinya sehingga ditampilkanlah sosok wanita versi iklan. Ajang miss world klaim kecantikan yang padahal cantik itu relatif sebab setiap lelaki punya kriteria masing-masing.”

Tiba-tiba mati lampu dan suasana senyap.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s