Menghadiri Acara Aneh

oleh : Em Amir Nihat

Pada malam sunyi nan senyap sesekali suara longlongan serigala terdengar dengan jelas di telinga. Bunyi debar jantungku semakin keras bersama perjalananku menuju acara itu. Gesekan sendalku menyeruak ditengah kesunyian malam. Asap-asap putih tiba-tiba keluar entah dari mana arahnya. Aku terus berjalan menyusuri lorong demi lorong rumah warga.

Sepi dan sunyi.

Walaupun begitu nyala semangatku tidak akan pernah padam walau diterjang hantu sekalipun. Bagi masyarakat awam sepertiku hantu yang nyata adalah harta gonogini yang menjadi rebutan para ahli waris yang dulunya akur menjadi saling mungkur. Selain itu, para hantu dijadikan sahabat. Kadang-kadang ada yang menampakan diri dengan bau singkong, suara entok ataupun suara batu yang berbunyi.

Perjalananku berlanjut, lorong demi lorong ku susuri. Sampai tiba aku di acara itu. Meskipun terlambat, aku sempat menyaksikan tetua kampung berpidato untuk terakhir kalinya sebab ia akan turun tahta tidak menjadi tetua kampung lagi, tetapi dalam anganku sepertinya layak disebut pengajian. Biasanya kalau pengajian hanya berdiri atau duduk dikursi diatas panggung, namun beliau dijaga oleh empat asistennya. Semuanya mengapit beliau sehingga ruang panggung yang kosong kini menjadi sempit dalam bayangan beliau. Sementara para warga mendengar dengan seksama. Entahlah apakah ia disetir oleh asistennya atau tidak itu masih menjadi misteri.

Tetua kampung berkata,
“Sebagai tetua kampung saya berwasiat. Kita harus menjaga warisan budaya kita. Kita harus mencair jangan memadat. Kita harus minimalis jangan matrealis.”

Tepuk tangan menggema. Seluruh warga tampaknya puas dengan kinerja beliau. Terlihat dari sumringahnya.

Tiba-tiba keanehan terjadi dan ini membuatku kaget. Beberapa kuda aneh berjejer urut melaju di depan panggung itu.

Kuda pertama berkepala tikus. Hal ini memacing kebanggaan warga sebab kuda ini terkenal akan kepiawainya memimpin warga kaya raya utamanya yang berkecimpung dalam ajaran “minta disogok aah minta disuap croot”

Kuda kedua lewat, kuda ini berkepala kumbang. Kata MC-nya kuda ini kabur dari hutan sebab hutan semakin gundul dan banyak lubang-lubang sisa tambang batubara. Tambang ini dimiliki oleh Pak Hutul dan Pak Dasni. Dua orang ini sedang bertarung untuk menjadi tetua kampung baru.

Dari panggung suara sorak-sorai semakin meriah, tabuhan gamelan yang berjejer semakin sahdu walau ditabuh oleh lima anak kecil berbaju robek-robek.

Aku pun bertanya-tanya,

“Mengapa yang menabuh gamelan kok anak kecil lusuh, dimana orang dewasanya yang katanya maju itu.”

Aku celingukan ke arah rumah samping panggung. Ada temanku yang sekolah diluar negeri, tatapannya hanya melihat tetua kampung. Selama pertunjukan tak satupun ia menoleh pertunjukan musik gamelan.

Aku menikmati bunyi lantunan gamelan disamping mobil putih tua yang rusak. Pemilik mobil tidak mampu merawatnya sebab biaya mobil lebih mahal daripada biaya untuk hidup sehari-hari. Pemiliknya memang sinting yang hanya terpaku bujuk rayu iklan-iklan.

Suara keras memanggilku, suara temanku yang lain.

“Bagaimana kau bisa sampai disini. Ini dunia tahun 2050. Kau ini hidup baru di tahun 2019. Cepat pulang ke duniamu!”

Iklan

6 tanggapan untuk “Menghadiri Acara Aneh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s