Bulan: Februari 2019

Oase 40 : Teman adalah Kunci

oleh : Em Amir Nihat Kamu bisa saja kaya raya dan pintar namun jika kamu tidak punya jiwa persahabatan maka kekayaan dan kepintaranmu akan menenggelamkan dirimu sendiri Jangan sampai kamu punya konflik dengan empat hal : keluargamu, saudaramu, tetanggamu dan temanmu. Jangan sampai kamu menghianati mereka hanya demi kepentingan egomu sendiri tanpa memikirkan kemaslahatan orang … Lanjutkan membaca Oase 40 : Teman adalah Kunci

Iklan

Musikalisasi : Sajak Pesan Pencopet kepada Pacarnya – W.S Rendra

oleh : Em Amir Nihat PUISI PESAN PENCOPET KEPADA PACARNYA – RENDRA Sitti, kini aku makin ngerti keadaanmu Tak ‘kan lagi aku membujukmu untuk nikah padaku dan lari dari lelaki yang miaramu Nasibmu sudah lumayan Dari babu dari selir kepala jawatan Apalagi? Nikah padaku merusak keberuntungan Masa depanku terang repot Sebagai copet nasibku untung-untungan Ini … Lanjutkan membaca Musikalisasi : Sajak Pesan Pencopet kepada Pacarnya – W.S Rendra

Menghadiri Acara Aneh

oleh : Em Amir Nihat Pada malam sunyi nan senyap sesekali suara longlongan serigala terdengar dengan jelas di telinga. Bunyi debar jantungku semakin keras bersama perjalananku menuju acara itu. Gesekan sendalku menyeruak ditengah kesunyian malam. Asap-asap putih tiba-tiba keluar entah dari mana arahnya. Aku terus berjalan menyusuri lorong demi lorong rumah warga. Sepi dan sunyi. … Lanjutkan membaca Menghadiri Acara Aneh

Bedah Buku “Seni Hidup Minimalis” karya Francine Jay

oleh : Em Amir Nihat Apakah kita pernah mengalami penumpukan barang dimana-mana ? Berantakan ? Kurang terawat ? Bisa jadi memang kita perlu mengenali barang-barang kita lebih faham fungsinya lagi. Dari buku " Seni Hidup Minimalis" karya Francine Jay dikatakan bahwa ada tiga kategori barang yaitu barang fungsional ( barang yang berguna dalam kehidupan sehari-hari … Lanjutkan membaca Bedah Buku “Seni Hidup Minimalis” karya Francine Jay

Mengukur Kedalaman Pertanyaan “Agamamu Apa”

oleh : Em Amir Nihat Selain urusan pernikahan dan tata cara ibadah keagamaan sepertinya pertanyaan "agamamu apa" perlu dihilangkan sebab malah bisa jadi sekat pemisah dan perusak keakraban. Mengapa ? Karena urusan agama hakikatnya tidak bisa dipadatkan hanya sebatas pengakuan belaka. Jika kita berhenti pada pertanyaan "agamamu apa" seperti bertanya sekedar simbolis belaka, padahal agama … Lanjutkan membaca Mengukur Kedalaman Pertanyaan “Agamamu Apa”

Pasrah

oleh : Em Amir Nihat Ku pasrahkan diriku pada Sang Pemilik Senja dan gagahnya Samudera. Berilah aku hati yang seluas samudera dan akal yang seindah senja. Kekasih, aku ingin menjaga nyala cintaku padamu selamanya Aku merindumu dalam hentakan nafas-nafasku Kutemukan sekam jemari lalu ku lemparkannya pada samudera yang megah. Percayalah hanya dengan menenggak airnya kita … Lanjutkan membaca Pasrah