RKB 29 : Obrolan Obral

oleh : Em Amir Nihat

“Bisa jadi Cita-cita itu hanya untuk kaum berduit saja sedangkan bagi orang miskin pendidikan ditujukan untuk mencari pekerjaan sehingga cita-cita orang miskin dianalogikan duit. Kita barangkali sudah lupa apa cita-cita waktu kanak-kanak, entah itu jadi tentara, guru, dokter atau apapun saja namun hal itu lenyap ditelan ekonomi. Dan untuk hal ini kau harus melawan kepentingan orangtuamu, Ingatlah cita-cita itu hak kita sedangkan hak orang tua adalah bakti. Susah, bukan ? ” Ucap Chairil kepada Tan

Ia lanjut,

“Lihatlah juga bahwa yang sekolah dan bergelarlah yang dipandang masyarakat, sekolah tidak menaikan kualitas manusia malah hanya menjunjung patriarki sedemikian rupa. Kau akan dianggap berpendidikan kalau sekolah tinggi, Sekolah seperti kehilangan ruhnya yakni menjadi tahu, faham dan bermanfaat. Padahal kita tahu banyak orang baik dan bermanfaat lahir justru tidak dari bangku sekolahan.”

Tan seorang yang dulunya ahli matematika dan bercita-cita jadi guru matematika namun cita-cita hanyalah ilusi belaka sebab ia kini jadi pekerja dan nyaris sudah bahwa cita-cita adalah uang.

“Sudahlah jangan cerita cita-cita. Teman kita Fatiyah itu kasian. Mindset masyarakat kita seolah mendoktrin bahwa wanita berumur diatas 20 tahun lebih dibilang perawan tua sehingga orangtua sibuk menjodohkan atau mengkompori anak-anaknya. Cita-citanya untuk jadi perawat pupus sudah, kini ia harus jadi bagian ‘sumur, kasur, & dapur’. Sebagai generasi pembaharu kita harus lawan doktrin macam ini. Perempuan punya hak untuk mewujudkan cita-citanya dan juga kewajibannya sebagai ibu kelak. Jadi, jangan benturkan cita-cita dengan kewajiban. Manusia kan fleksibel, kedua hal ini bisa dijalankan, bukan ?” Tan berujar

“Tuh lihat. Tuh lihat !” Chairil menunjuk sapi. ( Kita ini insan, bukan seekor sapi! )

“Ibu dianugrahi ASI supaya anak-anaknya menyusu langsung padanya. Namun manusia modern membikin produk susu jadi ya jangan heran kalau anak-anaknya lagaknya kaya sapi atau kambing. Harusnya kan susu sapi bukan jadi patokan utama, kecuali kalau memang perempuan tidak bisa mengeluarkan ASInya, baru hal itu diperbolehkan.”

“Kita dianugerahi sungai yang banyak ikan, lautan juga yang banyak ikan tapi lucunya ada sarden dan kita malah memilih sarden. Padahal sarden adalah cara orang Eropa menyimpan / menyetok guna menghadapi iklim ekstrim. Sudahlah jangan mau dibodohi iklan. Kita dianugerahi ikan maka manfaatkanlah hal itu.”

“Satu hal lagi yang penting! Kita dianugerahi tanaman yang kaya manfaat serta berguna untuk menyembuhkan. Tapi mindset sakit kini diubah ke obat kimia yang harganya mahal juga ada efek sampingnya. Nenek moyang kita sudah mengenal pengobatan dengan tumbuhan dan tanaman namun farmasi global menggerus hal itu. Kita kaya akan tanaman namun kita miskin ilmu pengobatan tradisional. Salah satu agar kita berdaulat dengan diri kita adalah jangan tinggalkan pengobatan tradisional.”

Mereka kini sepakat mau mempelajari pengobatan tradisional khususnya yang menyangkut tanaman dan tumbuhan. Apakah kita juga mau mempelajarinya ?

Iklan

2 tanggapan untuk “RKB 29 : Obrolan Obral

  1. Ya kadang miris juga. Kita kaya akan demikian, namun mindset kita seolah digerakan kalau sakit ya berobat ke dokter ke obat kimia padahal mahal. Kita punya yg murah meriah tanaman dan tumbuhan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s