Surat ke-1 : Ambang Batas

oleh : Em Amir Nihat

Selamat malam, izinkan aku membasuh luka dengan untaian doa dan biarkan saja aku terjerembab ke dalam duniamu sekali lagi. Sampai aku merapal mantra langit agar kelak kasihku menjadi kisahmu.

Air mata hati lebih dahsyat gelombangnya dibandingkan sendu setetes mata indra, lalu pantaskah aku tampakan resahku sedangkan dalam detak jantungku engkau selalu mengalir bagai telaga tanpa tepi, tanpa rasa dan tanpa masa. Tentu aku malu.

Ketika angan masa depan berkobar menggerus ketakutan akan cinta yang tiada hadir, engkau datang dengan wajah yang bercahaya dan senyuman yang bisa menawarkan air samudera tapi itu ada dalam dunia senja kita. Dunia yang bisa jadi sudah kadaluarsa dimakan srigala. Dan engkau ini entah dimana.

Percayalah, kata-kata sudah bias dan serigala itu memang buas. Ia memakan hatimu, matamu, telingamu dan mulutmu. Lalu dengan entengnya dia bilang, “Salahkah aku yang memakan penyembah berhala”

Mungkin kamu akan tertawa dan bilang “banyolan apaan ini!” Namun cinta hadir justru dengan menggantungkan tawa dan menyeret sejadi-jadinya perenungan. Di ruang perenungan itu nanti kita akan bertemu.

Aku menyukaimu. Aku mabuk kepayang padamu sampai-sampai akupun menjadi budakmu. Kelak kamu akan faham mengapa aku adalah dirimu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s