Maulid Nabi Muhammad SAW Bukan Tanggal 12 RabiulAwal ?

oleh : Em Amir Nihat

Maulid Nabi Muhammad SAW yang seringkali diadakan pada bulan rabiulawal atau lebih tepatnya tanggal 12 meskipun memang tidak terpaku pada tanggal dan bulan tersebut, namun ada sejarah yang terpatri pada bulan dan tanggal itu maka kesan dan pesan pun akan lebih pas momentuknya.

Sama seperti lahirnya NKRI yang diperingati tanggal 17 Bulan Agustus tentu memang bisa dilaksanakan kapan saja namun momentum pasnya memang tanggal di bulan agustus. Jadi, bukan masalah harinya tetapi bagaimana kegiatan itu menjadi media belajar, ngaji, merangkum, muhasabah diri dan belajar sejarah supaya mengambil ibrah dan hikmah yang disampaikan.

Yang perlu kita pelajari ulang adalah sejarah kelahiran Nabi, Sejarah nabi diangkat menjadi Nabi dan Sejarah kehidupan Nabi yang penuh hikmah dan kebijaksanaan yang terangkum dalam “hadits”.

Bulan Rabiulawal tanggal 12 adalah hari lahirnya Muhammad ketika belum diangkat menjadi Nabi. Jadi, mungkin lebih tepat kalau kita sebut Maulid Muhammad. Sedangkan Maulid Nabi Muhammad SAW lebih tepat tanggal 17 Ramadhan ketika wahyu pertama turun karena diangkatnya beliau menjadi Nabi.

Namun hal ini tidak usah menjadi perdebatan yang kosong sebab tanggal berapapun, bulan apapun melaksanakan kegiatan Maulid Nabi adalah hal yang baik.

Pun demikian kita pun tidak boleh nyinyir kepada yang tidak suka kegiatan maulid dan kita pun tidak usah mencela orang yang tidak suka maulid dan sebaliknya orang yang tidak suka maulid pun jangan mencela dan nyinyir kepada yang suka maulid. Sebab dalam kisahnya, Abu Lahab diringankan siksanya sebab gembira dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW sehingga ia memerdekakan budaknya. Jika Abu Lahab yang kafir pun diringankan siksanya, maka bagaimana dengan kita yang mengaku sebagai Umat Nabi Muhammad SAW. Tentu Allah lebih adil dan bijaksana, bukan ?

Jika di kampung-kampung biasanya kegiatan Maulid Nabi dibacakan Al Barzanji atau Maulid Simtudduror, Burdah atau kitab maulid lainnya lalu diakhiri dengan mauhidhoh khasanah ( pengajian ) yang diisi oleh Kyai, Ulama atau sesepuh kampung.

Yang perlu dikritisi mungkin adalah bagaimana supaya orang awam yang tidak faham isi kandungan dari kitab al barzanji, maulid simtudduror atau puisi pujian khas burdah itu bisa memahami dan menghayati sehingga diharapkan ketika pulang dari kegiatan maulid ada perbedaan dalam melangkah di kehidupan. Namun bukan berarti tidak faham itu rugi justru malah sebaliknya sebab siapapun saja baik yang faham, tidak faham bahkan tertidurpun InsyaAlloh akan mendapatkan pahala sebab memuliakan hari besar Nabi Muhammad SAW. Berarti, faham atau tidak faham mendatangi maulid itu lebih baik.

Banyak pesan Nabi Muhammad SAW namun penulis hanya merangkum yang pernah ditulis saja yakni : Cara Islam Menghadapi Perbudakan , Budayakan Meng-Iqra , Belajar dari Kepemimpinan Rosululloh SAW , Memperkokoh Pandangan Rukun Islam , Islam A + Islam B = Islam C , Kurban Simbolik Semata atau Menginti , Menghidupkan Ibadah di Hari Jumat , Sholawat antara Nada dan Makna , Masih Pantaskah Kita mengaku Umat Nabi Muhammad SAW ?

Allahumma sholi’ala muhammad wa ‘ala ali muhammad

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s