RKB 27 : Bertanya kepada Capres-Cawapres

oleh : Em Amir Nihat

Tahun politik semakin dekat. Para Politikus dan agen partainya menyebar ke segala lini, menyebarkan citra demi citra demi meraup suara. Isu demi isu digodog dan diramu untuk kemudian pusatnya adalah kinerja dari penguasa.
Atas inisiatif pribadi, Salah satu televisi swasta menggagas terselenggaranya debat dan tanya jawab Capres-Cawapres maka diputuskanlah bahwa rencana ini akan live. Bukan hanya akan mendulang banyak penonton tetapi juga akan memeras banyak argumen-argumen yang saling tarung-menarung antara capres-cawapres yang bersaing. Itulah demokrasi.

“Pak Munir, Besok kita datang ke Acara Debat Capres-cawapres, tidak? Waktunya kita menelanjangi mereka dengan pertanyaan-pertanyaan besar. Kita sudah belajar di Politik Uang Menuju Politik Koruptor,Rakyat Kepedasan Politik Cabai , Saat Kecintaan Politik Lebih Tinggi daripada Kecintaan kepada Nabi, Hakikat Sebuah Partai , Pertarungan Jangka Panjang dan Jangka Pendek. Waktunya kita turun gunung.” Ucap Pak Cokro

“Tentu,Pak.” Pak Munir menjawab singkat

Sampai di hari-H, Pak Cokro dan Pak Munir mendatangi acara itu yang kebanyakan didatangi oleh hanya pendukung calon-calon. Sebut saja mereka adalah cebong dan kampret.

Capres-cawapres paslon 1 yakni Jokojok dan Aman datang terlebih dahulu, seperti biasa doktrin kental sekali dengan slogannya “bersih, merakyat dan kerja nyata”. Slogan ini perlu kita kritisi kembali. Selang beberapa menit, datanglah Capres-cawapres paslon 2 yakni Kobowoko dan Paswordo.
Semua salam-salaman dengan pembawa acara yang bernama Cak Durasim. Hingga Cak Durasim memberikan kesempatan untuk penonton dalam sesi tanya jawab.

“Silakan bagi penonton untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan ataupun saran dan kritik kepada para paslon.”

Sementara Para paslon berdiri dari duduknya sambil senyum-senyum penuh tandatanya : antara citra dan kejujuran.

Pak Cokro mengangkat tangan tanda ingin bertanya,

“Selamat malam. Pertanyaan buat para paslon. Sebelum 17 Agustus 1945 seluruh tanah dan air di Indonesia yang dulu bernama Hindia Belanda adalah milik 140 lebih Raja dan Sultan. Sekarang, ketika Hindia Belanda menjadi NKRI, siapa pemilik dan pemegang saham di Indonesia? Siapa pemilik konstitusional tanah, air, daratan dan lautan beserta isinya? Apakah para Raja dan Sultan tetap pemilik sah-nya? Ataukah kehilangan haknya yang sebelumnya berabad-abad ada di tangan mereka?”

“Pertanyaan kedua. Proklamator mengatakan : Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jelaskan kepada Rakyat Indonesia, kapan pemindahan itu dilaksanakan? Dari siapa ke siapa? Semoga saja jangan ada yang menjawab dari penjajah Belanda ke NKRI.”

“Pertanyaan ketiga. Pak Capres mohon jelaskan ini kepada rakyat. Belanda sampai hari ini tidak mengakui kemerdekaan RI, bagi Belanda, Indonesia tidak pernah merdeka atau tidak perlu merdeka. Sebab kalau Belanda mengakui itu artinya ia harus membayar kepada Indonesia atas penjajahan yang dilakukannya sehingga Belanda mengklaim hanya melakukan dagang yang didoktrin sebatas VOC. Mohon jelaskan secara logis bahwa sekumpulan orang yang digaji oleh rakyatnya, justru berkuasa atas rakyat dan negaranya? Ini bagaimana?”

“Pertanyaan terakhir, Pak. Tunjukan kepada rakyat satu fakta saja bahwa rakyat adalah pemilik saham NKRI? Kapan rakyat yang berposisi sebagai pemilik saham itu menikmati dan berperan pada percaturan hal demikian? Jika rakyat adalah pemilik saham NKRI mengapa masih banyak rakyat yang miskin dan anehnya kalian para politikus yang digaji oleh rakyat malah kaya raya? Apa kalian ini memang membohongi rakyat dengan semua agenda kalian? Bersediakah kalian mengakui bahwa kalian ini adalah TKI (Tenaga Kerja Indonesia) alias pembantunya rakyat Indonesia sehingga seharusnya yang kaya adalah rakyat? Mengapa rakyat yang pemilik saham NKRI justru masih banyak yang miskin? Mengapa kalian para politikus yang berperan sebagai pelayan rakyat malah kaya raya? Apa ini bukan namanya pembodohan dan pengkibulan nasional?

Para Capres-cawapres bengong dan tidak bisa menjawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s