RKB 25 : Pertarungan Jangka Pendek dan Jangka Panjang

oleh : Em Amir Nihat

“Menuju Tahun 2019 Tahun Politik. Kondisi masyarakat baik di dunia nyata maupun maya mulai memanas, walau sudah banyak yang paham betul bahwa genderang konflik itu dimulai oleh para buzzer politik yang sedang bertarung citra dan kepemimpinan. Ditambah pula media yang tidak punya keinginan untuk mengedukasi sehingga beritapun terkesan menarungkan dan membuat heboh dengan judul dan isinya.” Pak Cokro memulai obrolan dengan keresahan hatinya

“Kita sudah belajar di Politik Uang Menuju Politik Koruptor , Rakyat Kepedasan Politik Cabai , Saat Kecintaan Politik Lebih Tinggi daripada Kecintaan kepada Nabi , Hakikat Sebuah Partai , Empat Janji Pemilu Damai , Pilkada Jangan Mau Dikadali , Mari kita belajar tentang pertarungan jangka pendek dan pertarungan jangka panjang. Diharapkan nanti kalau sudah memahami kita menjadi waspada dan tahu mana yang utama yang harus kita ambil dan kita kerjakan.” Beliau melanjutkan

Sedangkan Tan dan Chairil kini mendengar dengan seksama. Mereka kini terlihat khusyu karena kondisi saat ini sudah mendekati chaos. Banyak yang saling curiga padahal mengaku sesama manusia, sesama bangsa pula.

“Menurut kalian berdua, Pilpres itu jangka pendek apa jangka panjang. Terus di Indonesia ini apa yang jangka panjang.” Pak Cokro mulai mengeruk pertanyaan

“Pilpres jangka pendek sebab ada masanya yakni lima tahun.” Ucap Tan

“Kalau buat Indonesia jangka panjangnya yakni persatuan, perdamaian, dan kemanusiaan.” Chairil tidak mau kalah

Pak Cokro mulai menjawab,
“Ternyata kalian sudah paham bahwa yang harus kita kejar sebagai Bangsa Indonesia adalah jangka panjang. Persatuan, Perdamaian, Kemanusiaan. Kalau masalah pilpres kita ibaratkan mencari pasangan. Tentu sebelum adanya akad untuk mencari pasangan berbagai macam cara bisa dilakukan. Ada persaingan disitu. Ini pertarungan jangka pendek sebab kalau sudah ada yang menyatakan akad berarti pihak lain tidak bisa menelikuk sebab nanti namanya selingkuh. Tetapi jangka panjangnya nikah adalah tidak ada akhir. Tidak ada satupun pasangan yang berharap pernikahan bubar. Artinya sudah tidak ada menang kalah lagi. Kalau kita menang pernikahan remuk, kalau kita kalah pun pernikahan remuk juga. Artinya kehidupan pernikahan bukan perlombaan lagi tetapi kegotongroyongan, saling melengkapi dan saling suport. Inilah jangka panjang.”

Chairil teringat sesuatu, ia pernah mau marah kepada Pram gara-gara masalah sepele.

“Begitu juga dengan debat dan marah itu jangka pendek sebab kalau pun kita menang aslinya kita kalah sebab kita berkurang teman. Artinya marah, menang debat, dan perilaku buruk itu jangka pendek. Jangka panjangnya adalah pertemanan, persatuan, persaudaraan dan perdamaian. Seandainya kita menyadari hal ini tentu kita akan berfikir seribu kali kalau marah dan mendzolimi teman sebab kita faham bahwa kita memperjuangkan jangka panjang yakni pertemanan dan perdamaian.”

“Kita lihat saja sekarang, diantara pasangan pilpres ini mana yang berjuang jangka pendek mana yang berjuang jangka panjang. Kita harus fokus jangka panjang. Kita harus berjuang jangka panjang yakni persatuan, kemanusiaan dan perdamaian.”

“Andaikan para politikus menyadari hal ini, ah tetapi mereka kan memang hanya ingin menang sendiri dan mereka berfikir jangka pendek. Mereka hanya ingin mengkayakan dirinya dan anggotanya. ” Tan ngomel-ngomel

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s