Jalan Berhantu

Source : boombastis.com
Source : boombastis.com

oleh : Em Amir Nihat

Alarm jam 6 pagi berdering membangunkanku dari tidur yang nyenyak. Muka lusuh dan ada ingus menempel di pipiku. Ku buka notifikasi hape. Aku pun tidak kaget sebab seperti biasa tidak ada notifikasi pemberitahuan. Sepi. Nyesek. Nasib sebagai karyawan pabrik yang jomblo membuatku sering diejek teman. Apalagi kalau pulang kampung yang ditanya kapan kawin kapan nikah. Kadang-kadang disuruh bayarin kalau makan bareng padahal aslinya di kerjaan aku ini masih jongos. Tetapi kalau di kampung aku malah jadi bos. Sepertinya dunia mulai membingungkan isi kepalaku. Mereka seenaknya bicara sedangkan aku disini takut dan kebingungan. Aku hanya menyimpan perasaan kesepian dengan canda-candaan bersama teman meskipun aku sadar itu hanya kamuflase semata. Sebab aku tidak sebahagia itu.

Mataku minus sehingga aku memakai kaca mata. Orang-orang di pabrik memanggilku Si Cupu. Aku memang kurang begitu beruntung sebab di pabrik semua pekerjanya lelaki sehingga potensi cinlok seperti di ftv kan itu tidak mungkin. Apalagi kalau teman yang sudah punya pacar menanyakan statusku. Misalnya saja Si Andra.

“Bro, kamu punya pacar gak? Ajakin nonton bioskop biar seru. Film horor bro haha” Andra nyinyir

“Maaf bro. Pacarku di kampung sedang kuliah. Aku orangnya setia bro” Jawabku berbohong

Itu alasan klasik dan terbukti manjur untuk melawan ejekan teman. Berbohong sukses tetapi masih sunyi dan kesepian. Alangkah menderitanya. Pikirku.

Kamarku sangat berantakan. Bantal yang tadi aku gunakan tidur sudah jatuh ke lantai. Tas kerja ku taruh di atas meja yang isinya penuh dengan buku, rokok, korek, kopi, topi dan juga parfum. Kipas angin yang masih menyala mendinginkan suasana segera ku matikan. Badan masih menggigil kedinginan.

Aku bangun dan segera membawa handuk untuk menuju kamar mandi.
Mandi pagi memang menyegarkan walau nuansa dingin seperti menusuk tulang.

Setelah mandi aku ganti baju kerja lengkap dan siap ngacir berangkat memakai motor vespa kesayanganku. Aku namakan vespaku Mawar. Vespa keluaran 80an aku cat warna merah mawar. Dia adalah teman jombloku dan aku anggap dia sebagai saudaraku. Orang-orang menyangka aneh padaku kok motor diajak bicara malah kadang-kadang diciumin.
Kerja sift pagi memang harus siap macet. Jalan akan dipenuhi kendaraan. Entah itu mobil dan motor. Meskipun aku tahu bahwa sebagian dari itu adalah hasil kreditan. Aku suka iseng membaca tulisan-tulisan kecil di mobil. Family happy Ayah Bunda Kakak Iqbal. Aku menerka pasti yang kecil itu namanya Iqbal. Aku gas dan kulewati mobil avansa putih itu. Mereka tampak sumringah sepertinya mau liburan.

Tetapi aku tiba-tiba kaget sebab ada mobil bertuliskan “ Ini mobil kreditan jadi jangan ditabrak ya”. Sontak aku cekikan melihat tulisan itu. Tuh orang jujur banget pikirku. Padahal biasanya orang memakai stiker yang gaul. Stiker apple. Stiker komunitas mobil. Atau apapun yang dirasa mengangkat derajat mereka. Meskipun aslinya mereka juga tidak begitu faham dengan komunitas. Orang pabrik beli mobil libur jarang. Mobilnya keluar kalau habis gajian atau keluar ke warung restoran yang harganya miring. Yang penting masih bisa gaya.

Sampai tiba diperempatan lalu lintas. Biasanya aku mengambil rute kiri kalau kerja sift malam sebab bisa ngebut. Jalannya lurus sampai depan pabrik tetapi kalau kerja pagi macetnya minta ampun. Namun kali ini aku penasaran ngambil rute kanan yang melewati jalan-jalan pedesaan.

Meskipun jalannya banyak yang bolong tetapi nuansanya sangat asri. Pohon-pohon berdiri kokoh saling jejer. Suara burung bernyanyi masih bisa aku dengarkan. Mirip seperti hutan atau jangan-jangan memang ini dulunya hutan yang kemudian dibuat jalan tembus ibukota. Suasananya dingin dan adem jauh berbeda dengan yang tadi aku lewatin. Panas dan sumpek.

Ah! Pikirku berlebihan. Tidak penting itu dulunya hutan atau bukan yang penting harus sampai pabrik tepat waktu. Jam 8 pagi waktu mulai kerja di pabrikku. Aku gas cepat-cepat Si Mawar kesayanganku.

Tiba-tiba ada bapak-bapak memakai caping melambaikan tangan tanda ingin menumpang. Aku stop saja menawarkan bantuan. Kasihan juga.

“Kenapa Pak? Ada yang bisa saya bantu?”

“Mas jangan lewat jalur ini berbahaya. Kemarin sore ada anak di desa ini hilang gara-gara melewati jalur ini mas. Silakan kalau mas berani. Sebagai orangtua saya cuma bisa menasihati.”

“Lho emang kenapa pak? Diculik hantu?”

Aku penasaran dan bulu kuduk merinding. Di pagi hari ada orang yang hilang dan hilangnya pas di depan jalan yang akan aku lewati ini.

Aku tengok motor-motor lain juga semuanya berbalik arah. Mungkin mereka takut diculik hantu. Aku penasaran masa sih pagi bolong kaya gini setan bisa menculik pengendara motor. Ini tahun 2018 bung. Aku tidak percaya gituan tetapi aku masih amat penasaran.

Jam tangan menunjukan pukul 7.15 menit. Aku belok arah saja daripada ribet memikirkan hal mistis itu. Tetapi itu berarti aku akan terlambat sebab rute ini memang yang paling cepat. Ah sudahlah. Sekali-kali terlambat tak apa.

….

Malam harinya sebelum tidur aku memikirkan lagi. Penasaran dengan yang terjadi di jalan pedesaan yang asri itu. Masa ada bocah hilang di siang bolong. Diculik hantu. Wahwahwah apa tidak terlalu kolot diriku ini. Atau jangan-jangan memang benar-benar terjadi.

Besoknya aku melewati jalan itu kembali. Aku tidak perduli lagi omongan bapak-bapak yang memakai caping kemarin. Soalnya itu adalah jalan alternatif paling cepat menuju pabrik.

Namun lagi-lagi aku diberhentikan bapak-bapak yang pakai caping kemarin.

“Mas. Berbahaya jangan melewati rute ini mas. Nanti mas bisa hilang ditelan bumi.”

Deg. Hatiku berdetak kencang. Gila apa. Ditelan bumi. Pemikiran kolot macam apa itu. Meskipun aku takut tetapi dengan modal nekat aku tidak menggubris nasihat bapak yang memakai caping itu. Ditelan bumi. Hahaha. Aku menertawakan nasihat sang bapak.

“Ah tidak apa-apa pak. Nanti kalau ditelan bumi biar aku telan saja jalan itu.” Bicaraku seperti mengejek si bapak.

Dalam perjalanan aku merasa bersalah sebab telah membentak orangtua. Namun bagaimana lagi habisnya orangtua itu menghalangi jalan. Lagian hari gini masih percaya tahayul seperti itu. Ini kan jaman modern.

Aku hati-hati dalam mengendarai vespa. Pelan-pelan. Kecepatanku hanya 20 km/jam. Semua masih tampak aman-aman saja.

Di depan ada sebuah lampu jalan penerang yang menggelantung diantara dua pohon. Di samping pohon itu tertera tulisan “hati-hati”. Aku mulai ketakutan. Jalanan sepi padahal masih pagi. Bulu kuduk merinding. Jangan-jangan ada kuntilanak yang akan keluar.

Tiba-tiba jegleg. Brukkk. Aku ambruk bersama motor vespaku. Ternyata ada lubang di jalan itu yang tertutupi permukaan jalan. Aku ringsek ditelan bumi.

“Bangsat” ucapku.