Arjuna Bukan hanya Lelaki, Siti Nurbaya Bukan hanya Perempuan

oleh : Em Amir Nihat

Perkara Cinta bisa jadi sebuah perkara yang mudah bagi sebagian orang, namun sebagian lagi justru terasa rumit dan memusingkan kepala. Sebab mencintai bukan hanya soal rasa, banyak faktor lain yang menunjang atau menghambat sebuah bangunan yang bernama cinta itu bisa terlaksana.

Bagi kalangan Arjuna tentu cinta sangat mudah. Hanya to the point. Hanya tinggal mengucapkan. Hanya tinggal menembak. Perkara diterima atau ditolak, itu adalah buah yang harus siap diterima karena yang terpenting hati sudah tersalurkan.

Ibarat sebuah ponsel kalau menghubungkan atau mengirim file tentu butuh penyalur, bisa Bluetooth, infrared atau shareIt. Dan media semacam ini pun juga bermakna Makcomblang. Artinya makcomblang adalah distributor cinta yang bisa berwujud manusia misalnya kyai, ulama, atau teman dan juga bisa berwujud media semacam mengatakan cinta lewat sms, surat cinta ataupun telepon. Dan ini bagi penulis tidak jadi masalah meskipun nanti dikira cemen atau kurang romantis sebab ujungnya tujuan pun sama saja. Perkara romantisme atau kesetiaan bisa berjalan dikemudian hari sebab yang terpenting pihak yang kita cintai itu tahu dengan perasaan kita.

Bagi kalangan Siti Nurbaya tentu baginya cinta hanyalah kepatuhan. Siti Nurbaya zaman now bukan hanya perempuan. Bahkan lelaki yang demikian justru juga banyak. Sebab masalah pekerjaan yang jarang wanitanya karena ternyata momentum keseharian juga bisa sebagai pelecut datangnya cinta. Orang yang tiap hari bergaul dengan banyak wanita dengan orang yang sebaliknya (jarang bergaul dengan wanita) tentu hasilnya bisa lain. Bisa ditebak bahwa yang banyak bergaul/berteman dengan wanita, potensi menikah lebih cepat lebih banyak.

Problem Siti Nurbaya kini banyak dialami oleh kalangan pekerja yang dalam pekerjaannya tidak punya momen untuk mencari wanita. Bisa sebab karena Cinta lama gagal dan sulit move on. Bisa karena terlalu ambisius mencari sosok wanita yang sempurna. Terlalu meremehkan wanita. Ataupun terlalu nyaman dengan posisinya yang sekarang.

Belum lagi perkara strata sosial. Perkara Agama. Perkara kesetujuan orangtua. Masalah ini jelas masalah yang sangat kuat untuk melandasi bagaimana cinta itu bisa dibangun. Lelaki kalangan biasa yang mencintai wanita dengan tingkat strata sosial lebih tinggi tentu akan keder dalam mengungkapkan cintanya. Lebih rumit. Apalagi perkara agama dan kesetujuan orangtua tentu lebih rumit lagi. Garis besar kedua ini sangatlah kuat untuk bagaimana nanti cinta itu bisa nyaman atau tidak atau bahkan menyakitkan.

Maka bagi generasi stalking mania ( penakut dalam mengungkapkan perasaan) segera ungkapkan, tidak masalah kalau hanya lewat sms dan telepon sebab yang terpenting wanita pujaan kita itu tahu. Tetapi hal ini hanya untuk yang benar-benar serius dalam mencintai, bukan main-main. Bukan playboy cap ta*. Tidak ada gambaran yang menjijihkan selain t*i, sebab bukan hanya doyan gonta ganti pasangan dan selingkuh. Problem terbesarnya adalah playboy menyakiti wanita. Padahal mencintai itu bukan menyakiti. Jadi, lelaki playboy itu bajingan tengik.

Semoga saja Tuhan menghadirkan cinta kepada kita dengan hal yang baik. Perasaan mencintai yang benar. Bukan hanya nafsu sesaat tetapi membangun cinta yang benar adalah bagaimana komitmen untuk satu hati dalam keadaan apapun. Saling suport dan percaya ke depan. Siap menerima kekurangan dan kelebihan pasangan.

Intinya harusnya dengan kita mencintai, kita lebih baik kepada seseorang, kita lebih bergairah untuk berbuat baik mencangkup apapun itu. Dan Taaruf sangat direkomendasikan sebab goalnya adalah membangun cinta yang dilandaskan kecintaan bersama kepada Tuhan.

Iklan