Pahlawan yang Menyepi

oleh : Em Amir Nihat

Aku bertekad mencari siapa sebenarnya pahlawan itu ? Orang-orang hobi sekali kalau ngomong pahlawan, tetapi dalam praktiknya hanya dijadikan simbolis pelecut semangat semata. Kurang greget. Hingga aku pun mencari siapa sih sebenarnya pahlawan itu ?

Mula-mula aku menziarahi makam Bung Karno dan Bung Hatta. Aku dicecar banyak orang sebagai orang Nasionalis. Aku menziarahi makam Chairil Anwar dan Rendra. Aku disangka sastrawan. Aku menziarahi makam Hadradus Syeikh Hasyim Asyari dan KH. Ahmad Dahlan. Aku dikira ulama, kyai atau yang pinter ngaji. Jelas sangkaan banyak orang memang tidak perlu didengar. Apa pun yang kita lakukan. Orang-orang akan berposisi menjadi pro, kontra atau tidak perduli. Kalau kita marah dan sedih gara-gara akibat tersebut, memang perlu diteliti kembali tujuan kita. Hidup untuk Tuhan. Atau jangan-jangan hidup sekedar mencari nama, ketenaran atau kekayaan. Hati orang siapa tau. Maka jagalah hati jangan sampai ia berpaling dari Tuhan.

Setelah seharian penuh mutar-mutar kesana kemari mengunjungi makam, aku kecapean. Aku berteduh di bawah pohon yang rindang. Sambil sesekali menengok ke arah jalan. Ada penjual es cendol. Lumayan seger juga kalau nge-es.

“Bang, Beli es cendolnya. Sekalian mau tanya, pahlawan zaman now itu seperti apa bang?”

“Wah, ndak tau ya mas. Saya ndak sekolah. Setau saya sih, pahlawan itu yang dulu mempertahankan bangsa ini dari para penjajah. Kalau jaman sekarang, saya kurang begitu ngerti. Bingung ngurusi begituan. Yang penting saya dagang dengan ikhlas, sabar, sambil berdo’a terus semoga es saya laris manis.”

“Penghasilan sehari berapa, bang?”

“Ndak tentu. Kadang 40 ribu kalau lagi rame. Kadang 30ribu. Malah kalau lagi diuji kesabarannya kadang malah ndak dapat apa-apa. Misalnya hujan, kayak gitu mas.”

Aku lumayan tergerak hatinya, mendengar ucapan tukang cendol itu. Dia bekerja demi keluarganya walau dengan penghasilan tidak seberapa tetapi ia jalani dengan ikhlas, sabar dan semangat. Justru, malah saya melihat pahlawan dari tukang es cendol itu.

Selama ini kita terlalu mengagungkan pahlawan yang berjasa besar, padahal sebenarnya ada jutaan bahkan bisa jadi milyaran pahlawan-pahlawan yang terus dengan gigih memperjuangkan keluarganya. Misalnya tukang es cendol tadi. Ada penjual cilok, ada penjual bakso, ada penjual soto, ada penjual somay, penjual jajan-jajanan, penjual mainan dan lain sebagainya. Mereka adalah berposisi menjadi pahlawan dikarenakan mereka tidak menjadi bagian dari sistem pengrusakan skala besar. Misalnya politikus yang korupsi, pemimpin yang khianat, hakim yang tidak adil dan main suap. Mereka menyepi dari tindakan yang merusak. Posisi mereka lebih tinggi martabat dan derajatnya daripada koruptor.

Tuhan tidak akan membanding-bandingkan nilai suatu hasil, tampang rupawan atau kekayaan tetapi Tuhan akan memperhitungkan siapa yang mau ikhlas, bersabar, bertawakal menjalani hidup. Dan aku menemukan sifat-sifat itu ada pada para penjual-penjual tadi. Lalu, siapa yang kini pantas disebut pahlawan ? Sedangkan para penjual tadi, sudah menjadi pahlawan untuk dirinya sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s