Ada Apa Dengan Pribumi ?

oleh : Em Amir Nihat

Sebuah kata yang sudah usang bisa menjadi lebih tajam daripada pisau bahkan lebih nge-hits daripada kata-kata yang baru yang nyleneh tetapi diikuti dan dicopas banyak orang.Kita mungkin ingat kata-kata seperti “om tolelot om”, ”despacito”, ”eta terangkanlah” atau “kids jaman now” yang oleh kementrian diluruskan tulisannya menjadi “kids zaman now”.

Semua tinggal seberapa kuat atau seringnya orang menirukan dan mencopas, lebih-lebih disokong oleh artis, seleb dan istilah barunya- selebgram, youtuber dan vloger. Sebuah kata akan menjadi booming seketika, semua orang menirukan, semua orang mempraktekan dengan satu niatan yaitu kekinian sambil mengikuti tren.

Tetapi kata-kata diatas tidak terlalu diperdebatkan dengan serius karena memang dijadikan hanya uforia kejenakaan semata. Dalam artian fokusnya hanya ke simbolis hiburan umum semata. Namun beda dengan kata “Pribumi”. Ini malah bisa menjadi masalah baru. Bahkan bisa menjadi ajang ribut klaim pribumi antar masing-masing suku atau kelompok.

Sebab hal tersebut, saya kira kita harus teliti dulu apa sih itu pribumi. Dari kacamata luas sampai yang tersempit. Tulisan disini merupakan representasi dari sebuah kutipan pendek seorang budayawan Emha Ainun Nadjib. Juga merupakan guru saya di Majelis Maiyah Kenduri Cinta. Judulnya “Pribumi NKRI”.

Dan ini tadabur saya mengenai tulisan di “Pribumi NKRI” karya Emha Ainun Nadjib.

Pertama, kita harus sepakat dulu bahwa apapun suku kita, apapun golongan kita, apapun kelompok kita itu semua adalah ciptaan Tuhan. Artinya baik Suku Jawa, Suku Sunda, Cina, Arab, Suku Asmat, Suku Badui, Suku Batak dan lain sebagainya itu semua adalah juga ciptaan Tuhan. Jika diruntut lebih jauh maka hakekatnya kita semua bersaudara yang berasal dari inti yang sama yakni Nabi Adam As dan Ibu Hawa.

Kedua, Istilah pribumi muncul sebab suku tersebut atau golongan tersebut merasa sebagai orang yang memang sudah disana sejak lama. Baik nenek moyangnya maupun kebudayaannya. Intinya adalah ada kesepakatan semua orang dengan mengklaim sebagai saudara. Sehingga munculah istilah suku, adat, golongan, budaya dan kebudayaan. Padahal jika diruntut lebih jauh, jelas tidak bisa dijelaskan mana yang lebih dulu mendiami suatu tempat. Bukti-bukti sejarah akan diperhitungkan disini. Namun yang pasti, jumlah atau kelompok yang lebih besar adalah yang akan mendominasi dan menjadi pengejewentahan atau klaim pribumi itu sendiri. Artinya ada penyatuan hati antar manusia yang mendiami suatu wilayah tersebut.

Ketiga, Klaim pribumi yang berlebihan atau meskipun tidak berlebihan tetapi mempunyai power materialisme yang besar bisa memunculkan babak baru yang bernama “Radikal”. Artinya siapa saja yang menang sendiri, berbuat rakus dan serakah dan tidak bisa menemukan posisinya dengan tempat akan berpotensi menjadi radikal. Posisi disini semacam “tuan rumah” dan “tamu“. Harus berlaku selayaknya tuan rumah dan tamu. Jangan malah tamu yang menguasai rumah sedangkan tuan rumah malah tidak memiliki rumah. Tamu harus berlaku selayaknya tamu. Demikian juga dengan tuan rumah juga jangan bertindak arogan kepada tamu. Harus dilayani dan dihormati persis layaknya menjadi tamu. Kita harus menemukan mana tuan tumah dan mana tamu untuk kemudian kita kembalikan posisi mereka dengan menempatkan sesuai tempatnya masing-masing.

Keempat, Jika radikal sudah kadung meluas dan menguasai. Bisa dilakukan oleh jumlah yang besar atau jumlah kecil tapi punya kekuatan arus dana yang besar. Jika radikal sudah menjerat maka akan menjurus ke medan baru atau wilayah baru bernama “Intoleran”. Wilayah dimana isinya cuma ada istilah menguasai, kekuasaan, kerakusan, menangnya sendiri dan mencari untungnya sendiri. Jika pada tahap ini seseorang sudah lupa asal usulnya karena yang difikirkan adalah bagaimana menguasai dan bagaimana harus rakus dan serakah.

Kelima, Intoleran sudah menjalar maka akan membentuk poros yang besar dan kekuatan kubu-kubu yang juga besar. Munculah istilah “Anti Pancasila” yang jika dijabarkan adalah wujud keserakahan sebagian manusia untuk menguasai NKRI hanya untuk golongannya sendiri. Sehingga kita lupa patrap kita yang katanya “Bhineka tunggal ika”. Yang berbeda-beda tapi tetap satu juga. Namun semakin kesini, justru seolah istilah itu terbalik. Yang satu menguasai yang berbeda-beda akan tertindas. Ada negara didalam negara, ada hukum tumpul ke atas tapi runcing ke bawah, ada manusia kebal hukum,ada manusia yang bersandiwara layaknya menjadi seorang yang Suci padahal ia adalah manusia tai, ada pembodohan berkedok kelucuan dan berbagai macam problem lainnya. Semua menjurus ke satu hal yakni sifat rakus dan tamak. Apapun motif dan tampilannya semua bergerak ke materialisme. Seolah-olah Uang adalah Tuhan. Dan yang ditakutkan adalah jika Tuhan Yang Maha Esa marah kepada kita semua yang munafik ini. Adakah cara untuk mengakhiri busuknya sifat rakus dan tamak? Apa jangan-jangan diantara kita memang menjadikan “serakah” sebagai Tuhan?

Iklan

6 tanggapan untuk “Ada Apa Dengan Pribumi ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s