Taqwa, Ghaib dan Waspada

oleh : Em Amir Nihat

Kita sudah kadung paham bahwa istilah takwa adalah mematuhi perintahNya dan menjauhi laranganNya. Itu artinya Allah SWT telah memberikan aturan syariat yang jelas kepada kita. Ada wajib, sunah, makruh, mubah dan haram. Ada perkara-perkara yang memang dalam prakteknya juga harus diatur dalam syariat. Nabi Muhammad SAW juga sudah memberikan patrap yang jelas tentang bagaimana seseorang muslim itu bertindak dalam kesehariannya maka lengkaplah bekal orang Islam yakni ALQur’an yang murni dari Allah dan hadist Nabi yang contohnya sesungguhnya atas petunjuk Allah. Sehingga nyambung dengan sebuah ayat bahwa sebaik-baik bekal adalah takwa. (lihat,Q.S.Al Baqarah : 197).

Tetapi mencari takwa-nya seseorang nyatanya tidak semudah dilihat secara melek mata. Ada perkara lain yang berperan menembus batas taqwa yaitu perkara niat. Orang bisa saja rajin sholat, rajin membaca AlQur’an atau ibadah yang lainnya tetapi perkara niat didalamnya sungguh masih misteri diantara kita. Untuk itu memang hendaknya kita selalu memperbaiki niat kita dalam hal beribadah, harus waspada jangan-jangan disusupi perkara pamer, pengin dilihat orang atau yang paling berbahaya adalah merasa ibadah kita lebih baik daripada orang lain. Bahkan kepada ahli maksiatpun kita jangan sampai merasa lebih baik tetapi harus selalu waspada dengan niat dan selalu mengambil pelajaran disetiap kejadian.

Jika takwa disinonimkan dengan kyai, ustadz, ulama, habib atau syeikh sebenarnya juga sangat riskan dan bisa menimbulkan masalah lain. Padahal di Alqur’an petunjuk takwa adalah “mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan sholat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka” (Q.S.Al Baqarah: 2-3).Bukan takwa adalah para ulama, kyai, habib, ustadz atau syeikh.

Tetapi bukan lantas kita bilang bahwa ulama, kyai, ustadz atau habib itu tidak bertaqwa. Taqwa itu kan perkara ghaib yang hanya Allah yang mengetahuinya sedangkan karakter ulama, kyai, ustadz atau habib itu adalah gelar atau pakaian sosial atau identitas yang diberikan masyarakat kepadanya. Resiko pemberian gelar semacam itu bukan hanya harus bertanggungjawab pada ilmunya tetapi juga perkara niatnya. Seseorang ulama, kyai, ustadz atau habib yang jika dalam niatnya merasa lebih baik daripada kuli pasar, pengemis atau siapapun maka sebenarnya ia telah menyombongkan gelarnya. Ia telah melupakan apa hakekat taqwa. Ia telah menuhankan gelarnya.

Buntut dari hal tersebut kita bisa belajar lebih waspada terhadap diri kita masing-masing. Tentang bagaimana terus memperbaiki kualitas niat. Kita pun tidak perlu dan jangan sampai menerka-nerka atau bersuudzon dengan seseorang yang diberi gelar ulama, kyai, ustadz, habib atau syeikh sebab yang disampaikan diatas adalah tentang kewaspadaan terhadap niat. Artinya justru seseorang semakin tinggi ilmunya, semakin tinggi gelar sosialnya maka semakin berat dan susah juga menjaga kualitas niat. Sebab ancaman terhadap kesombongan amal,kesombongan gelar atau kesombongan identitas bisa saja datang dan membelenggu setiap amal kita.

Justru orang yang sudah bebas dari perkara gelar atau pujian malah orang inilah yang sudah mendekat dengan niat yang tulus. Kita bisa belajar ke sejarah Nabi. Sirah nabawiyah. Nabi Muhammad SAW beberapakali sebagai panglima perang tetapi lantas tidak disebut dengan militer, Nabi Muhammad pernah berdagang tetapi lantas tidak disebut dengan pengusaha. Nabi Muhammad berhaji tetapi tidak ada gelar haji yang disematkan kepadanya. Orang modernlah yang nyata-nyata suka memberi gelar atau memaksa identitas atau memakaikan pakaian sosialnya. Orang modern mungkin akan dengan mudah menyebut nabi adalah intelektual, ilmuwan, filsuf, guru agama, kiai bahkan sampai ulama. Orang modernlah yang suka mengkotak-kotakan seseorang. Ini orang jahat, ini orang baik, ini ahli maksiat, ini ahli ibadah dan sebagainya. Kegemaran yang berlebihan dalam menilai seseorang dengan cara instan dan hanya lewat cover pakaian/identitas sosial hanyalah akan membuat diri kita semakin terpenjara dalam keghaiban seseorang yang kita komentari tersebut.

Padahal Rosululloh pun hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya.(lihat: Q.S.Al-an’am : 50). Jangan disangka Nabi Muhammad tahu segala hal, beliau tahu sebab memang apa-apa yang diwahyukan kepadanya. Perkara-perkara ghaib yang disampaikan kepada beliau pun juga atas apa yang diwahyukan kepadanya. Itu artinya ada rentang keghaiban yang jelas antara keghaiban yang disampaikan Rosululloh dengan keghaiban Allah sendiri. Ada dimensi yang lebih luas dimana Allahlah yang nyatanya mengetahui keghaiban tersebut. Dan takwa adalah keghaiban yang sangat halus yang Allah sajalah yang mengetahui.

Jadi, jelas sudah bahwa takwa, aqidah, tauhid, akhlak, shidiq, amanah, tabligh, fatonah itu semua adalah perilaku yang tidak boleh kita kasih stempel kepada manusia biasa, tidak boleh kita papan namakan kepada orang biasa, tidak bisa kita tempelkan ke identitas manusia biasa. Sebab hanya Nabi dan Rosul yang memang benar dan terbukti bisa melakukan perilaku itu secara konsisten dan kontinyu yang berhak menyandang itu. Manusia biasa seperti kita akan sangat berbahaya jika tidak bisa membedakan mana perilaku dengan mana perilaku yang dipapanamakan. Mana perilaku atau mana perilaku yang diidentitaskan. Kita sudah kadung amburadul mencampuradukan keduanya sehingga yang sebenarnya perilaku, kini justru menjadi papan nama, brand, identitas atau pakaian sosial.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s