Lima Tubuh Satu Roh

oleh : Em Amir Nihat

Seseorang kakek tua renta yang memakai jubah putih dan sorban mendatangiku malam hari ini. Aku pun terpaksa terbangun dari tidur yang padahal mimpiku sedang asyik-asyik banget. Aku bermimpi tinggal di negara yang makmur, para pemimpinnya jujur-jujur bahkan disela mimpiku ada satu pejabat yang rela jalan kaki untuk pekerjaannya, ada juga lingkungan yang asri dengan hijaunya taman dan bersih serta rapinya lingkungan tersebut. Dan yang paling disesalkan adalah aku sedang bersenda gurau dengan perempuan cantik yang berhijab. Di mimpiku, perempuan ini adalah istriku.

“Pemuda, bangunlah dari tidurmu. Aku akan memindahkan rohmu ke tubuh empat bocah yang berbeda.” Kata Kakek yang memakai jubah putih dan sorbanan itu

“Busyet! Mana bisa, kek. Ada-ada saja kakek. Emang kalau pindah tubuh jadi berasa baikan kek. Sama saja kek. Tidak ada perubahan.”

“Ini tugas saya wahai pemuda. Pokoknya kamu harus ikut.”

Dikarenakan ini adalah permintaan kakek yang tua renta. Aku jadi kasian maka aku turuti saja apa maunya itu.

Segera kami bergegas menuju kolong jembatan. Waduh. Aku berasa jijik saja, kok ke kolong jembatan sih.

Kakek itu kemudian komat-kamit dan seketika rohku keluar dan masuk ke salah seseorang anak kecil yang sedang tiduran di bawah kolong jembatan. Anak kecil itu adalah anak dari pemulung yang kesehariannya hidup dalam lingkup kemiskinan, kumuh dan pendidikan yang rendah. Malah boleh dibilang, tidak berpendidikan sama sekali.

Seketika aku sudah berada di dalam tubuh anak kecil itu. Aku memang bisa berbicara dalam hati tetapi tampaknya aku harus terus mengikuti tubuh sang anak. Bukan itu saja. Rasa pengalaman itu terkesan nyata. Aku berasa kelaparan.

“Bu, aku lapar. Ada makanan tidak, bu. Kok hidup kita seperti ini, Bu.”

“Sabar, Nak. Ini ada roti sisa tadi ibu menemukan di jalan. Makanlah.”

Anak ini memakan dengan sangat lahap. Aku pun yang tadinya berasa kelaparan kini berangsur-angsur mulai sedikit kenyang. Setelah memakan roti sisa itu, anak tersebut tidur lagi sebab hari masih malam.

Anak ini memang kini sudah tertidur tetapi aku yang didalamnya sama sekali tidak ikut tertidur, meskipun rohku tidak bisa keluar dari anak ini tetapi aku bisa melihat kondisi sekitar. Aku menengok tatapan tajam ibu dari anak ini.

Pandangan sang ibu sangat tajam tetapi juga sangat lesu. Ia sedang memandang bulan purnama. Gila! ternyata aku bisa mendengar isi dari pikirannya.

“Tuhan. Apakah engkau ada. Jika memang ada, tolonglah saya dan anak saya. Hamba disini penuh dengan penderitaan dan kesedihan dan hamba sama sekali tidak tahu caranya beribadah kepadamu. Lalu saya harus bagaimana wahai Tuhan.”

Ibu itu kemudian meneteskan air mata, terlihat sangat bersedih. Rona wajahnya memperlihatkan bahwa dirinya sudah sangat lemah tidak tahu bagaimana harus menjalani hidup yang berat ini. Aku pun kasian sama ibu itu. Aku ingin sekali menolongnya dan minimalnya bisa memberi pendidikan agama kepada ibu itu dan anaknya.

Tiba-tiba rohku melenting keluar dari tubuh bocah kecil itu, terbang jauh. Kini rohku malah masuk ke anak kecil yang sedang tiduran di kasur empuk. Aku melihat sekitar ruangan, tampaknya ini anak orang kaya. Ada foto-foto Ulama juga. Barangkali ini anak seseorang ulama besar, pikirku.

Benar saja dugaanku, bocah kecil ini adalah anak ulama besar terkenal di kotaku. Jam kini menunjukan pukul 4 pagi, seseorang wanita berkerudung sar’i mencoba membangunkan anak kecil ini hingga akhirnya terbangun. Setelah membaca do’a setelah bangun tidur, bocah ini kemudian bergegas ke ruangan tempat berwudlu.

Aku pun merasa tentram. Aku pun bergumam.

“Anak kecil ini lebih beruntung daripada anak pemulung tadi. Ini bagai bumi dan langit. Di satu sisi, aku melihat anak yang tumbuh dengan keluarga yang bahagia dengan pengajaran ilmu agama yang kuat dan disisi lain, aku melihat anak kecil yang tumbuh dari keluarga yang miskin dan tidak punya waktu untuk setidaknya pernah belajar ilmu agama.”

Pikiranku buyar. Hatiku sakit. Aku belum bisa melihat makna adil dengan jelas. Maafkan aku Tuhan, sebab ilmuku yang rendah ini. Aku tahu bahwa engkau maha adil dan aku masih meyakini hal itu sampai sekarang.

Anak kecil ini kemudian bergegas sholat subuh berjamaah dan sehabis sholat berjamaah, ia mengikuti kultum subuh. Tetapi aku tidak pernah merasakan dipikiranku bahwa orang-orang yang sedang berkumpul mengaji ini memikirkan nasib anak pemulung tadi. Mereka hanya fokus kepada dirinya masing-masing. Berbangga dengan amalannya. Sedikitpun mereka tidak bergerak hatinya untuk minimal pernah memikirkan nasib anak pemulung yang rohku tadi aku masuk ke tubuhnya. Minimal ada usaha dakwah ke jalanan, utamanya ke anak-anak jalanan yang kumuh, lusuh dan kasian itu. Bukankah merekalah yang seharusnya paling utama untuk diberi pelajaran ilmu agama.

Ah! Baru saja aku meratapi nasib sang anak pemulung kini rohku terbang lagi. Terbang jauh. Sangat jauh. Jam 7 pagi. Rohku kini masuk ke anak orang yang kaya raya. Aku bisa melihat dari ruangannya yang super mewah. Bahkan menu sarapan pagi pun yang terbaik. Ada susu, ada buah apel, ada nasi lengkap dengan daging, sop dan makanan enak lainnya. Anak ini sedang menikmati sarapan pagi bersama bapak dan ibunya. Jika melihat dari pakaiannya, memang tampak sekali bahwa ini anak adalah anak orang yang kaya raya.

Untuk ketiga kalinya rohku masuk ke tubuh seorang bocah. Pengalaman demi pengalaman terus datang bagai air yang deras mengalir.

“Pa, kemarin Kevin dapat nilai 9,5 Pa. Kevin dapat hadiah apa, katanya kalau dapat nilai bagus akan dikasih hadiah.”

“Besok ya Vin. Papa akan membelikan Iphone terbaru buat kamu.”

Dalam hati aku berdecak kegilaan. Hanya dapat nilai bagus di ulangan harian saja dikasih Iphone terbaru, apalagi kalau ujian, lulus, ulang tahun dan seterusnya.

“Tampaknya anak yang aku masuki ini secara kehidupan dunia sungguh amat beruntung. Dia terlahir dari anak orang kaya. Super kaya.”

Ah! Baru sebentar masuk, rohku kini terbang keluar lagi. Jauh pergi. Kini rohku masuk ke rumah panti asuhan.

“Lho, kok sekarang aku masuk ke tubuh bayi.”

Aku mendengar sayup-sayup suara orang-orang dewasa yang sedang mengobrol.

“Kasian benar, bayi imut ini. Lahir tanpa orangtua. Ditemukan di tempat pembuangan sampah. Mudah-mudahan besarnya nanti, ia jadi orang yang baik dan bisa menemukan orangtuanya. Jahat sekali memang bapak dan ibunya.”

“Ia, Ses. Orangtua yang tidak mempunyai perasaan. Senang bikinnya tetapi giliran merawat malah angkat tangan. Atau jangan-jangan, bayi ini hasil hubungan gelap.”

Sedih sekali. Teramat sedih. Aku mendengar perkataan itu. Aku yang kini ditubuh bayi ini saja merasakan betapa sedihnya bayi ini, lahir tanpa orangtua. Pasti di masyarakat nanti ia dijauhi sebab dikatakan anak hasil hubungan gelap. Alias anak haram. Tetapi bukankah anak yang terlahir ke dunia itu suci, memang masyarakat saja yang kejam dan tidak tanggung-tanggung senang banget membuka aib seseorang.

Lagi-lagi hanya sebentar saja. Rohku keluar lagi. Alhamdulillah. Kini sudah balik lagi ke tubuhku.

Kakek yang berjubah putih itu kini berpesan kepadaku,

“Allah itu maha adil. Manusialah yang kenyataannya berbuat tidak adil. Nanti di akherat kelak, bocah-bocah tadi akan menerima balasan dengan sangat seadil-adilnya. Urusan dunia memang terlampau berat artinya bahwa ada tanggungjawab disetiap langkah kita. Ada tanggung jawab ketika berposisi jadi ulama, ada tanggungjawab ketika berposisi jadi pengemis, ada tanggungjawab ketika berposisi jadi orang yang kaya dan ada tanggung jawab juga ketika berposisi jadi anak yatim.”

“Ketahuilah! Setiap kenikmatan dan kebahagiaan itu justru memiliki tanggung jawab dengan lingkup yang amat besar. kelak, orang-orang yang menderita akan mendapatkan buah kesabarannya di akherat. Sedangkan orang-orang yang bahagia dan lupa berbagi dengan sesama kelak akan mendapatkan kegetiran yang amat sangat sebab dia telah melalaikan tanggungjawabnya.”

Iklan

3 tanggapan untuk “Lima Tubuh Satu Roh

  1. Mau gimana lagi? Begitulah kehidupan.. kita pun ga bisa milih. Mau hidup susah atau sengsara.
    Tp harus inget, Allah Maha Adil. Juga.. Dia tau mana yg terbaik buat hambaNya.
    Bisa jadi si miskin ga dikasih hidup kaya supaya deket sama Dia. Begitu juga sebaliknya..
    Soal berbagi itu bener. Tp kdang hal itu ga diperlihatkan Allah pada kita. Yang amat salah itu justru yang lihat tapi pura2 gak lihat.
    Sekian kesimpulannya. 😊

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s