Bulan: Oktober 2017

Hijrah kita, Jihad Kita

oleh : Em Amir Nihat Manusia adalah makhluk aktif. Ia bergerak dan berinteraksi. Ia berhijrah dan juga berjihad sesuai kapasitas tafsirnya masing-masing. Dimana tujuan akhirnya adalah memposisikan diri untuk berada di jalan Allah yakni jalan yang diridhoi olehNya. Tetapi diantara manusia ada saja yang malah menertawakan dirinya sendiri. Seolah-olah ada jalan selain jalan Allah. Ada … Lanjutkan membaca Hijrah kita, Jihad Kita

Iklan

Berposisi menjadi Pendamai dan Berlaku Adil Saat Ada Konflik

oleh : Em Amir Nihat Indonesia yang multi wajah, multi etnis, multi suku, multi ras, multi budaya dan juga multi pemikirannya sangat mudah untuk dibenturkan satu sama lain. Entah itu agama x VS agama x, suku vs suku, ras vs ras, politik vs politik atau yang lainnya. Keberagaman kita terancam sekali jika kita satu sama … Lanjutkan membaca Berposisi menjadi Pendamai dan Berlaku Adil Saat Ada Konflik

Naskah Air Mata

oleh : Em Amir Nihat Maafkanaku Tina, aku tidak bisa datang ke pernikahanmu.. Aku terbelenggu jalur rimba hatiku Aku terperosok persoalan yang menghimpitku Semoga ada bahagia di sanubarimu dengan yang lain Aku tulis empat baris puisi biasa saja ini.Aku tunjukan kepadamu Tina, seorang teman kecilku yang akan menikah minggu depan.Aku menulis ini dengan tangisan “heuheuheu” … Lanjutkan membaca Naskah Air Mata

Refleksi Sumpah Pemuda Zaman Now

Oleh : Em Amir Nihat SUMPAH PEMUDA Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah satu. Tanah air Indonesia Kami putera dan puteri Indonesia berbangsa satu Bangsa Indonesia Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan Bahasa Indonesia Setiap tanggal 28 oktober pasti selalu diperingati Hari Sumpah Pemuda. Tetapi refleksi kita apakah benar-benar memahami … Lanjutkan membaca Refleksi Sumpah Pemuda Zaman Now

3,5 Abad Menunggu Lampu Hijau Menyala

oleh : Em Amir Nihat Perjalanan mudik ke Negara “Babakan Urip”, terpaksa harus kuhentikan. Gara-gara lampu merah lampu lalulintas yang menyala sangat lama sehingga jadi nggak ngeh untuk melanjutkan perjalanan. Aku memakai motor vespaku, agak lama juga harus jumeneng dengan kedua kaki terjaga ambil posisi kuda-kuda supaya motor tidak guling. Disela-sela berdiri menunggu datangnya lampu … Lanjutkan membaca 3,5 Abad Menunggu Lampu Hijau Menyala

Negara Imaji Kaum Wakingan

oleh : Em Amir Nihat Aku sedang sumpek sebab yang diajarkan di sekolahanku hanya bagaimana menjadi pemenang dalam debat medsos, bagaimana menjadi pemenang dalam percaturan politik, bagaimana caranya menguasai media atau bagiamana menggunakan agama sebagai alat jitu perpolitikan atau bagaimana memanfaatkan sebuah isu/ keadaan untuk keberuntungan kelompok. Sekolah politikku sangat teramat liar, bahkan setan dan … Lanjutkan membaca Negara Imaji Kaum Wakingan