Obrolan Gosipiyah

oleh : Em Amir Nihat

Di pos ronda malam hari. Tampak disana Sarol, Boim, Laila, Mungin dan Naptali. Lima orang ini sepakat berkumpul bareng untuk sekedar obrol-obrolan. Supaya lebih mengeratkan antar warga dikarenakan ternyata mereka berlima merupakan para pekerja sift. Syukur kali ini mereka bisa ngumpul bareng karena jadwal kerja mereka yang selalu berubah. Kadang malam,kadang siang dan kadang pagi. Mungkin kakek kita, Nabi Adam As tak pernah membayangkan bahwa manusia sebegitu serakahnya dengan dunia sampai waktu dibolak-balikan. Malam untuk kerja sedangkan siang untuk tidur. Tetapi jangan pula, kita menyalahkan mereka berlima toh karena mereka adalah bagian sangat kecil dari kapitalisme global. Semestinya yang disalahkan adalah sistem konvensional yang sudah kadung terikat dengan sistem kapitalisme dimana awal mulanya kira-kira tahun 1760-1830 yang bernama revolusi industri yang diketuai oleh Inggris. Kemudian menyebar ke seluruh dunia hingga sampai di Indonesia. Perubahan uang dari jenis koin ke kertas juga dirasa sebagai akal bulus para dajjalis dunia supaya ada perbedaan jenis mata uang. Negara maju dengan mata uang yang bernilai tinggi sebaliknya negara berkembang yang nilainya rendah. Seandainya jika mata uang disama ratakan pasti akan lebih adil dan mata uang dinnar menawarkan hal itu. 1 dinnar sekarang itu nilainya sama dengan 1 dinnar era Nabi Muhammad. Coba jika uang kertas 1 dollar berapa rupiah?

Mereka berlima juga sebenarnya tidak ingin bekerja seperti itu tetapi keadaanlah yang menuntut hal tersebut walau kadang-kadang ada rasa bosan tetapi mereka terus ingin melangkah. Keinginan mereka pun bisa ditebak. beli motor-beli rumah –kemudian nikah-punya anak-beli mobil-punya anak dua-beli mobil yang lebih besar-anak-anak sudah kuliah-beli rumah yang lebih besar-dan seterusnya. Pola-pola seperti ini,walau tidak harus urut tetapi itulah keinginan dan kebahagiaan yang dicita-citakan oleh mereka berlima.

“Kalian tahu Pak Jandrian? Karena takut bahwa tidak bisa mengerjakan, ia tidak mau membagi ilmunya. Bahkan untuk sekedar curhat saja.Dia malah pernah bilang bahwa ilmu itu ada pertanggungjawaban kalau tidak bisa mengerjakan ya jangan dibagi-bagi.” Sarol memulai percakapan

Naptali mengejar, “Boro-boro mau membagi, mendengar para pendakwah yang sedang dakwah saja ia sinis. Ah itu mah ngomong doang. Ustadz-ustadz bayaran itu. Padahal kan ilmu itu memang harus dibagikan alias didakwahkan. Rumusnya bukan jarkoni tetapi jaharkoni. Yakni mengajar sambil berusaha nglakoni. Ini beda dong, dengan ngajar tapi langsung pesimis atau berniat tidak nglakoni. Begitupun kita, ilmu apapun yang kita punya, kalau bisa ya dibagi. Tetapi kita juga harus berusaha mengamalkan juga sebisa kita. Mungkin seperti itu.”

Bunyi saut-saut tepuk tangan tiba-tiba terdengar, ternyata Pak Mungin yang melakukannya. Sambil senyum-senyum sendiri kini dia mau ikut urun bagian.

“Masih mending Pak Jandrian.Pak Romlan lebih gila lagi. Dia orang yang menganggap ibadah itu cuman sekedar cover. Baginya lebih penting dzikir daripada sholat, zakat, puasa atau haji. Entah karena ilmunya benar-benar sudah tinggi. Menguasai ilmu kemakrifatan sehingga berani meninggalkan syariat. Padahal sebenarnya justru orang yang sudah berada di makom kemakrifatan itu juga mengerjakan syariat. Cuman orang awam seperti kita ini gak tau,dia menjalankan itu ibadah dimana. Bisa saja dia ngomong gak sholat tetapi ternyata sholat di tempat lain. Tapi Pak Romlan ini lain,gak tau dia alirannya apa. Mungkin kejawen.”

Boim yang sedang menikmati rokokan dan ngopi, geleng-geleng kepala. Sepertinya ada yang mengganjal sehingga dia melakukan hal seperti itu.

“Kita ini ngobrol atau ngrasani (membicarakan kejelekan orang lain) sih. Kok nada-nadanya kayak ngrasani. Bawa-bawa kejawen. Aliran juga. Kita ini kan harus menghormati kepercayaan orang lain. Asal tidak merugikan dan tidak mengganggu kita, ya mbok yo janganlah membawa nama-nama aliran. Kita ini kan lagi kepengin bersatu. Baik secara islam ataupun secara Indonesia. Biarkan saja yang percaya kejawen, kita hormati tanpa kita mengikutinya. Ada juga aliran kepercayaan lama yang mempercayai kekuatan alam ya kita hormati juga. Yang gak benar malah kita ini yang suka ngobrol kejelekan orang lain. Mending kalau menjadi pelajaran supaya kita berbenah tapi kebanyakan kita kan lebih suka mendengar kejelekan orang lain daripada kebaikan orang lain. Ibaratnya jika orang lain salah kita senang dan jika orang lain benar kita sedih. Bukankah ini masalah kita.Bahkan masalah kebanyakan manusia di negeri ini, bukan?”

Suasana menjadi hening. Nyaris tanpa suara semenjak Pak Boim berceloteh. Cuman Laila yang kini memberanikan diri untuk ngomong. laila tampak anggun dengan kerudung merahnya. Tapi jangan salah sangka bahwa Laila ini orang muslim. Dia orang nasrani keturunan Arab yang hijrah ke Indonesia. Meskipun dalam kesehariannya memanggil umi, abi, syukron, dan semacamnya jangan kira ini lebih islami karena memang itu bahasa Arab. Dan laila juga sering mengucapkan hal tersebut. Juga jangan dikira jika mendengar lagu berbahasa Arab itu islami bisa saja itu lagu Orang Arab karena memang Bahasa seperti itu. Islam memang lahir di Arab tetapi Islam juga bukan Arab. Tetapi memang kita harus menghormati Bahasa Arab karena itu adalah Bahasa penduduk surga.

“Ia saya setuju dengan Mas Boim. Kita ini senang membicarakan orang lain terutama kejelekan orang lain daripada kebaikan orang lain. Bahkan lebih jeli dan tahu kejelekan orang lain daripada kebaikannya. Saya rasa setiap orang ada baiknya ada buruknya. Tinggal contoh baiknya sedangkan yang buruk ya jangan dicontoh. Cukup menjadi pembelajaran. Jangan sampai malah kita sibuk ngrasani sampai lupa tidak memberi solusi. Ini kan masalah. Seperti di medsos itu. Banyak yang suka berbicara kasar, kata-kata kotor,umpatan dan hinaan pada tokoh atau orang yang dikiranya salah. Tapi ya itu, cuman ngejek doang tidak memberikan solusi. Ini kan sangat berbahaya dan penyakit juga.”

Sarol dan Naptali bukannya marah atau sedih atau baper. Mereka iya-iya saja. Karena hati mereka sudah menyatu, demikian juga dengan persaudaraan mereka maka kritikan, hinaan ataupun celotehan itu tidak menjadi soal lagi. Semuanya lepas saja seperti anak-anak sekolahan yang senang maki-makian, nyek-nyekan tetapi masih saja rukun. Itu karena mereka sudah satu secara persaudaraan. Tetapi jangan sampai ini dipraktikan juga ke orang yang baru dikenal ataupun orang yang gampang emosian pasti akan masalah juga.

“Sebenarnya saya juga lumayan paham mengapa Bung Sarol ini senang mengejek orang lain.Karena ingin diperhatiin. Ingin dilihat.Ingin dianggap ada. Coba lihat saja, orang yang suka mengejek temannya itu sebenarnya orang itu pengin diperhatiin. Mungkin karena tidak punya selera humor kelas tinggi sehingga humor cukup dengan hina-hinaan saja. Toh itu sudah lucu. Sindir-sindir saja toh itu sudah lucu. Humor paling gampang itu kan menghina apa kekurangan orang lain. Yang tonggoslah, yang gemuklah, yang kuruslah, yang keribolah dan sebagainya. Tapi karena Bung sarol sudah satu hati dengan kita.Saya yakin dia orangnya tidak akan gampang marah jika dikritik ataupun diberi saran. Benar tidak, Bung?” Tanya Naptali sambil cengengesan.

“Haha.. tau aja Mas Naptali kalo saya lagi guyon. Maaf saja ya, jika guyon saya ala kadarnya. Emang benar sih,humor paling ringan ya mengejek orang lain. Tapi saya punya pendapat tentang obrolan kita ini. Saya yakin obrolan kita ini tak akan didengar para masyarakat kampung. Disamping tidak berbobot itu juga karena ada pemahaman bahwa yang boleh ngomong itu yang punya gelar sarjana. Artinya suara-suara yang boleh didengar itu adalah suara-suara dari kaum intelek yang bergelar. Sedangkan kita ini kan boro-boro bergelar. Lulus STM saja Alhamdulillah. Kita ngomong apa saja, tidak akan diterima. Malah saya kira paling-paling ditertawakan. Orang bukan kuliahan kok musyawarah, orang bukan kuliahan kok nulis. Dikiranya yang boleh ngomong itu cuman orang kuliahan saja.”

Tiba-tiba suara merdu terdengar. Seolah membelah keheningan malam. Suara itu dari rekaman Suara dari Syekh Mahmud Al Hussary ketua Jami’yatul qurro. Kairo Mesir (1917-1980) saat membaca sholawat tarhim menjelang adzan subuh. Masihkah ada tarhiman di desamu? Tidak perlu dijawab cukup jawablah dengan membaca sholawat versi masing-masing. Dan versi saya adalah tarhim. Demikian Obrolan Gosipiyah.

Iklan

3 tanggapan untuk “Obrolan Gosipiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s